Showing posts with label Dharma Wacana. Show all posts
Showing posts with label Dharma Wacana. Show all posts

Saturday, 15 November 2014

Apa Itu Yoga?

Pemahaman Tentang Yoga


Yoga
Yoga adalah Suatu seni untuk meningkatkan kesadaran diri, baik pikiran, ucapan dan perbuatan. Dengan berlatih yoga secara rutin dan benar maka kesadaran, kebijaksanaan, ketenangan, ketentraman dan kedamian setiap praktisinya akan bangkit.
Penyatuan yang di Maksud adalah penyatuan Sang Diri, yaitu Roh/ Atman yang ada pada diri kita dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga mampu tercipta kedamaian di Jagat Raya ini. Yoga adalah praktik kehidupan, yang merupakan penerapan dari ajaran-ajaran Weda , dalam kehidupan setiap mahluk hidup dilandasi oleh kesadaran ke-Tuhanan dalam hidupnya yang mengandung ajaran penuntun kehidupan sampai evolusi sang Roh.
Yoga berasal dari kata sansekerta, Yuj yang artinya menghubungkan, arti lebih luas sebagai pemersatu spirit individu (jiwatman) dengan spirit Universal (Paraatman). ini merupakan suatu kontak pembebasan diri agar selalu dalam keadaan bebas dari penderitaan sebagai penyebab dari suatu kesedihan.

Astangga Yoga

Ashtanga yoga atau Delapan tangga yoga,yang di rumuskan oleh seorang yogi terkenal bernama Patanjali di dalam kitab yoga sutra, merupakan warisan berharga bagi para praktisi yoga masa kini. Pada awal masa pembentukanya, yoga masih merupakan suatu pengetahuan yang lebih sistematis. Dalam kitab yang di tulis dalam bahasa sansekerta pada kira-kira abad ke-2 SM ini,terdapat panduan mengenai tahap-tahap pemurnian tubuh dan pikiran agar dapat masuk lebih jauh ke dalam kesadaran yang lebih tinggi menuju realisasi diri atau Samadhi,Setiap tahap merupakan bagian mandiri yang dapat dilakukan secara terpisah,atau dapat pula dilakukan simultan dan bertahap.
Tahap-tahap awal bernama yama dan niyama. Yama merupakan kode etik moral dan Niyama merupakan panduan disiplin diri bagi setiap siswa yoga. Diibaratkan sebuah gedung yang membutuhkan fondasi yang kukuh,begitu pula di butuhkan moral dan disiplin yang kuat untuk mempelajari yoga.
1. Yama, atau pengendalian diri, terdiri dari 5 aspek, di namakan panca yama,yaitu : 

  • Ahimsa : anti kekerasan,menghindari setiap bentuk tindak kekerasan,baik terhadap sesame manusia,binatang maupun lingkungan sekitar.
  • Satya : Kebenaran yang sejati,mengikuti nurani dan menguatkan mental untuk selalu berkata,berpikir,dan berlaku secara benar.
  • Asteya : tidak mencuri,tidak menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain.
  • Brahmacharya : Menjaga kesucian ,hidup secara seimbang dalam segala hal dan menjaga kemurnian tubuh ,pikiran dan emosi.
  • Aparigraha : nonposesif,menjauhkan diri dari membangga-banggakan diri dan harta,tetap hidup dengan sederhana dan tidak berlebihan.

2. Niyama, atau displin diri, terdiri dari 5 aspek yang dinamakan panca niyama, yakni:
  • Svadhyaya: Menuntut ilmu. Selalu haus akan ilmu dan memilki hasrat untuk terus memperdalam ilmu.
  • Tapa : ketekunan dan usaha keras.
  • Santosha : penuh kedamaian. Menjaga rasa damai dan rasa puas dalam diri.
  • Saucha : kemurnian. Meningkatkan kesucian tubuh dan pikiran.
  • Ishvara Panindhana : menghormati Tuhan dan ajaran agama yang ada.
3. Asana, atau postur yoga, merupakan gerakan yang lembut dan sistematis. Asana bermanfaat untuk meningkatkan kelenturan serta kekuatan otot dan sendi tubuh, memijat susunan saraf pusat di punggung, melancarkan aliran darah, menyeimbangkan produksi hormone, serta membuang racun dari dalam tubuh.
4. Pranayama, atau tekniik pernapasan, meningkatkan asupan oksigen serta prana ke dalam tubuh, menggiatkan fungsi kerja sel tubuh, serta meningkatkan konsentrasi dan ketenangan pikiran.
5. Pratyahana, menguasai rasa, yaitu menarik perhatian dari semua rangsangan yang terdapat di luar dan dapat mengganggu konsentrasi, dan mengarahkannya ke daLam diri. Pratyahara bertujuan mendiamkan pikiran dan merupakan pelatihan yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran (mindfulness)
6. Dharana, konsentrasi, adalah tahap awal menuku Dhayana atau meditasi. Dharana merupakan kelanjutan Pratyahara karena pikiran menjadi lebih tajam.
7. Dhyana, meditasi, adalah perjalanan untuk lebih jauh masuk dalam pikiran dan diri (the self) dan mulai meniadakan eksistensi tubuh.
8. Samadhi, kesadaran tertinggi atau pencerahan. Dalam tahap dhyana (meditasi) terkadang masih terasa dualisme antara kesadaran tubuh. Samadhi merupakan titik kulminasi union atau peleburan antara atma (diri) dan Sang Brahnan ( Sang Pencipta).

3 Lapisan Tubuh Manusia

Kita perlu tubuh untuk menjalani hidup. Dengan adanya tubuh, kita menjadi “ada” dan tanpa tubuh, kita bukanlah “siapa-siapa”. Tubuh merupakan “kuil” tempat bersemayamya jiwa dan, karena itu, harus di jaga dan dipelihara sebaik mungkin. Walaupun demikian, tubuh fisik memilikin keterbatasan waktu untuk eksistensinya,Karena pada saat nanti,tubuh yang di besarkan oleh makanan ini akan kembali ke siklus makanan.
Dalam system yoga, selain tubuh fisik terdapat 2 jenis tubuh lain-yakni tubuh astral dan tubuh kausal-yang bersifat kekal dan berada dalam dimensi yang berbeda dengan tubuh fisik, keduanya akan meninggalkan tubuh fisik pada saat kematian. Praktik Hatha yoga mengajarkan penyatuan body, mind,ang soul melalui tehnik-tehnik penguasaan tubuh, merupakan pintu gerbang awal untuk memasuki kesadaran akan mental dan spiritual. Intinya, dengan melakukan praktik Hatha yoga, kita akan meningkatkan kesadaran akan tubuh, yang akan membawa ke kesadaran pikiran, kemudian kana membawa pada kesadaraan atman/jiwa, dan mengembalikan diri pada kebahagiaanya.

Tubuh fisik ( Stula sarira ) 

Merupakan tubuh ”Kasar”yang di bentuk oleh 5 undur:bumi(prithivi),air (apas),api (agni), udara (Vayu) dan ether/angkasa (akasha). Siklus eksistensi tubuh fisik ialah saat mengalamai kelahiran, pertumbuhan, perubahan, pengeroposan dan kematian.

Tubuh astral (Suksma sarira) 

Merupakan tubuh ”halus” yang mampu merasakan rasa senang dan rasa sakit, terdiri dari 19 unsur : 
  • 5 organ aksi (kara indriya) : mulut, tangan, kaki, genital dan anus. 
  • 5 Organ ilmu Pengetahuan (jnana indriya):Pancaindra,yakni mata (penglihatan ), Telinga (pendengaran ), Hidung (Penciuman), lidah(Rasa) dan kulit (Sentuhan ). 
  • 5 Prana / Energi. Prana adalah energi kehidupan yang melingkupi semua materi di alam semesta ini, termasuk di dalam udara/napas yang kita hirup saat bernapas; Prana vayu: kekuatan dasar yang menggerakan segala sesuatu dan mengaktifkan fungsi-funsi fall penting seperti bernapas, makan minum, dan menerima input sensorial (indriawi). Apana vayu: Kekuatan yang mengatur proses pengeluaran : urine, tinja, ejakulasi, menstruasi, dan proses melahirkan : kekuatan yang menghasilkan rasa penerimaan dan pasrah. Samana vayu: kekuatan yang mengatur pencernaan makanari, emosi, dan pengalaman sensorial: merupakan kekuatan yang mengubah prana menjadi energi. Udana vayu: kekuatan yang mengatur pertumbuhan tubuh dan kemampuan untuk berdiri, berjalan, dan berbicara: merupakan kekuatan yang memberikan antusiasme dalam hidup. Vyana vayu: kekuatan yang mengatur sirkulasi oksigen dan makanan dalam tubuh fisik, serta mengatur sirkulasi pikiran dan emosi dalam astral merupakan kekuatan yang mendukung fungsi kerja prana lainnya.
  • 4 unsur “instrument dalam”: pikiran (manas), intelek (buddhi), pikiran bawah sadar (chitta), dan ego (ahamkara-Pembenaran diri).
Selain ketiga jenis tubuh ini,terdapat juga 5 lapisan kesadaran yang termanifestasikan dalam ketiga jenis tubuh tersebut.Kelima lapisan kesadaran adalah:

  1. Annamaya kosha (lapisan makanan), terdapat dalam tubuh fisik dan terbentuk dari unsur dunia fisik- yakni makanan. Oleh karena itu, lapisan tubuh ini akan kembali ke siklus makanan (food cycle) setelah mati.
  2. Pranamaya kosha (lapisan vital/energi),terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 prana dan 5 organ aksi. Fungsinya adalah merasakan lapare,haus,panas, dan dinggin.
  3. Manomaya kosha (lapisan mental), terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 organ pengetahuan dan beberapa unsur dalam, yakni pikiran / manas dan pikiran bawah sadar/chitta. Fungsinya ialah berpikir menyangsikan,marah,nafsu,gembira,depresi dan delusi.
  4. Vijnamaya kosha (lapisan intelek) terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 orang ilmu pengetahuan yang bekerja sama dengan intelek (Buddhi) yang mampu menganalisis dan membedakan berbagai hal dan ego (ahamkara) yang bertujuan untuk pembenaran diri,Fungsinya ialah membedakan dan membuat kepurusan.
  5. Anandamaya kosha (Lapisan Kebahagiaan) terdapat dalam tubuh kausal, fungsinya merasakan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan.

Tubuh kausal (karana sharira) 

Merupakan tubuh “benih” atau blueprint tubuh kasar dan halus. Didalam tubuh ini terdapat samskara dan karma yang akan memengaruhi perilaku dan jalan hidup manusia.


5 Lapisan Kesadaran 

Diri manusia yang “sesungguhnya” Bukanlah salah satu bagian dari “tubuh” atau “ lapisan kesadaraan “ yang telah di sebutkan,Untuk membebaskan diri dan mencapai pencerahan,seorang haruslah berhenti nmengidentifikasi dirinya dengan salah satu lapisan atau tubuh ini dan mengidentifikasi dengan sesuatu yang melebihi semua lapisan Tubuh,yakni atman/jiwa.Praktik yoga akan meningkatkan kesadaran manusia untuk menyadari keberadaan jiwa,dan untuk mencapainya,kelima lapisan tubuh ini harus di murnikan terlebih dahulu dengan cara:

  1. Annamaya Kosha (Lapisan Fisik) melalui asanas dan pola makan yang benar.
  2. Pranamaya Kosha (Lapisan energi) melalui pranayama (Olah Napas).
  3. kosha (Lapisan Mental) melalui praktik yama,niyama dan pelayanan terhadap sesama.
  4. Vijnamaya Kosha (Lapisan intelek) melalui praktik meditasi dan studi spriritual.
  5. Anandamaya Kosha (Lapisan Kebahagiaan) melalui samadi.
Baca juga artikel Berlatih Yoga Kundalini, untuk membangkitkan Kundalini Anda...

Usada Bali

Usada Bali / Taru Premana

Sejarah Balian

Bali
Aksara dala Ilmu Usada Bali
Untuk istilah Dukun dibali dikenal dengan sebutan Balian, tapakan atau jero dasaran. Balian, waidhya, pengobat ( battra = pengobat tradisional ), dukun, atau tabib Jadi balian merupakan orang yang mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan penyakit seseorang.
Ajaran Hindu çiwa Siddanta menyatakan bahwa Ida Sang Hyang Widhi  atau Batara çiwa yang menciptakan semua yang ada di jagat raya ini, beliau pula yang mengadakan penyakit (gering, wyadhi ), obat ( tamba, ubad ), dan pengobat (balian) hidup dan mati juga kehendak beliau. Utpatti (lahir), Sthiti (hidup), Pralina (mati). Laku balian yang diwacanakan dalam lontar Bodha Kecapi adalah madewasraya usaha mistik-magis seorang penganut çiwa Tantrik untuk memohon pertolongan dewa agar dapat menjadi balian sejati. Untuk menjadi seorang balian harus berani melaksanakan mati raga di setra pangesengan (tempat pembakaran mayat). Bila orang berhasil mati raga maka ia mendapat anugrah Tuhan. AnugrahNya dapat berupa kesiddian (kekuatan adikodrat).

Dharma Sesana Balian

Dharma sesana Balian dapat disamakan dengan etika balian, sesana berarti tingkah laku, kewajiban. Sedangkan etika, yang berasal dari kata ethos (yunani)  berati ilmu pengetahuan tentang asas moral. Dharma sesana didalam bahasa Indonesia dapat disejajarkan dengan tata susila, yakni dasar kebaikan yang menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, kewajiban yang harus dipenuhi selaku anggota masyarakat.Manusia harus melakukan dharma sesana jika ingin kehidupannya mencapai kebahagiaan. Dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik dengan buana alit maupun dengan buana agung. Didalam setiap agama pedoman dharma sesana ini pasti ada karena ajaran yang baik selalu bersifat universal. Manusia apapun pekerjaannya apalagi sebagai balian bila ingin hidup sejahtera harus berpijak pada patokan yang pasti yaitu dharma sesana. Balian yang bekerja menghadapi manusia, memerlukan dharma sesana yang baku, yang dapat diikuti dan ditaati oleh semua balian sebagai pedoman dalam melaksanakan profesinya. Dharma sesana balian adalah sebagai berikut :
  • Semua rahasia dari orang yang sakit harus disimpan, tidal boleh disebarluaskan atau dibicarakan dengan orang lain.
  • Hidup para balian harus suci dan bersih, terlepas dari sifat loba, sombong dan asusila.Didalam lontar tutur bhagawan çiwa sempurna ditegaskan bahwa, seorang balian tidak boleh berlaku sombong, harus bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, serta semua nafsu hendaknya ditahan didalam hati.
  • Seorang balian tidak boleh was-was, ragu-ragu, apalagi malu-malu dalam hati harus teguh dan mantap serta penuh keyakinan pada apa yang dikerjakan. Tidak goyah terhadap segala hambatan, rintangan, gangguan, dan godaan yang datang dari dalam diri sendiri, yang mengakibatkan gagalnya usaha yang sedang ditempuh. Tidak akan mundur sebelum berhasil mendapatkan apa yang sedang dihayati, apa yang diinginkan yaitu kesembuhan dari orang yang sakit.
  • Seorang balian tidak boleh pamrih. Semua pengobatan berlangsung dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Sebab semua balian yang benar-benar balian di Bali tahu akan akibat dari kelobaan akan sesantun dan materi lainnya. Para balian harus tahu akan hak dan kewajibannya, rendah hati tidak sombong, membatasi diri terhadap apa yang dapat dilakukannya, menghormati kehidupan manusia, karena didalam raga sarira atau tubuh manusia, bersemayam Sang Hyang Atma, Sang Hyang Bayu Pramana karena beliu dapat mengutuk balian yang melanggar dharma sesana.Dan bila terkutuk kesaktian atau kesidiannya dalam hal mengobati orang sakit dapat menurun dan luntur. Dan yang lebih parah lagi ia akan menerima kutuk dari Sang Hyang Budha Kecapi sehingga hidupnya akan menderita, termasuk anak cucunya. Ketahuilah adanya tata cara menjadi balian jangan disalah artikan atau disalahgunakan, memang sangat berbahaya menjadi balian. Barang siapa berkehendak menjadi balian sakti mawisesa, tidak dikalahkan oleh kesaktian mantra dapat menjalankan semua pengobatan, dapat mengobati segala penyakit dan tenung. Maka, hendaklah selalu astiti bhakti ring Ida Batara Tiga, khususnya ring Ida Batara Dalem, Desa dan Puseh. Sebagai jalan untuk memohon kesaktiannya, Ida I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang merupakan pepatih bersama saudara-saudaranya yang lain. Ida I ratu Nyoman sakti Pengadangan adalah dewan balian sejagat, wajib dibuat pelinggih penyawangan biasa dalam bentuk kamar suci, dibuatkan daksina linggih, ditempatkan pada pelangkiran.

Balian Berdasarkan Tujuannya

Balian Penengen.

Balian Penengen adalah balian yang tujuannya mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian ini sering pula disebut Balian Ngardi Ayu (dukun kebaikan). Balian ini pada umumnya bersifat ramah, terbuka, penuh wibawa dan suka menolong. Siapapun akan ditolongnya tidak membedakan apakah dia orang baik atau orang jahat, orang yang miskin atau kaya semua dilayani sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Balian Pengiwa.

Balian Pengiwa adalah balian yang tujuannya membuat orang yang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit bertambah menjadi sakit, bahkan sampai meninggal. Itulah sebabnya balian tipe ini sering disebut balian aji wegig, dukun yang menjalankan kekuatan membencanai orang lain, berbuat jahil, usil, terhadap orang lain. Balian jenis ini amat sukar dilacak, pekerjaannya penuh rahasia, tertutup dan misterius. Sering pula balian ini mengganggu balian penengen pada waktu pengobati orang sakit sehingga tidak sembuh-sembuh, jahil dan usil. Merupakan sisi lain dari aji wegig ini mendatangkan hujan pada waktu orang sedang melakukan upacara, menahan hujan (nerang) pada waktu orang bercocok tanam, serta menguji kesaktian dengan balian lainnya adalah kegemaran dari balian pengiwa ini. Disamping itu balian ini juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, terutama orang yang kena aji wegignya sendiri, atau diri orang lain.
Balian berdasarkan tata cara memproleh keahlian dan cara pengobatannya:
Setiap balian punya cara tersendiri didalam mengobati suatu penyakit, misalnya:

Balian Kapican.

Orang Balian dengan memakai benda-benda berpetuah yang didapat dari paica(pemberian benda gaib dari alam bawah sadar) seperti benda-benda permata, benda-benda berupa keris, minyak dan lain sebagainya. Mungkin benda-benda tersebut didapat dari pawisik/pirasat baik berupa mimpi atau petunjuk yang lainnya. Balian kapican adalah orang yang mendapat benda bertuah yang dapat dipergunakan untuk mengobati orang yang sakit. Benda bertuah ini disebut Pica. Pica ini dapat berupa keris kecil, batu permata, pis bolong, batu mekocok, tulang, gigi, besi atau logam lainnya, gigi kilap, serta benda lain yang bentuknya aneh. Ada malahan yang berupa binatang seperti kucing , anjing, burung, ular atau binatang lainnya. Benda pica ini diperoleh biasanya melalui petunjuk dialam mimpi. Di dalam mimpinya dijelaskan tentang tempat benda tersebut dan kasiatnya untuk pengobatan. Kalau berupa binatang maka ia akan datang sendiri atau dijemput disuatu tempat. Dengan mempergunakan benda-benda atau binatang pica ini, dia mampu menyembuhkan orang yang sakit sejak itu mereka disebut Balian Kapican, dukun yang mendapat pica atau kapican oleh suatu kekuatan gaib. Jika pica itu berbentuk permata, umpamanya dengan cara menaruh batu permata itu ditempat yang dirasakan sakit oleh pasiennya, kadang-kadang disertai dengan mengosok-gosokkan permata itu dibadan si sakit, maka penyakit orang tersebut akan sembuh. Atau dengan cara memasukkan permata itu kedalam air kemudian air itudiminum oleh si sakit. Dan sembuhlah penyakitnya ada pula yang disertai dengan pembacaan mantra dengan disertai sesajen dalam proses pengobatannya.

Balian Katakson.

Orang Balian yang mendapatkan kemampuan mengobati dengan kesurupan, suatu kekuatan gaib yang masuk ketubuh si Balian sehingga mampu mempengarui balian tersebut dan menyebabkan mampu mengobati si sakit.  Dengan ciri-ciri pada umumnya sebagai berikut:
  • Balian ini pada umumnya keadaan terpaksa ngiring pekayunan (menuruti kehedak gaib) kalau tidak mau menuruti kehendak gaib ini maka si Balian akan jatuh sakit, dan lain sebagainya. 
  • Saat mengobati orang sakit, si Balian ini tidak menyadari apa yang telah dilakukannya. 
  • Memiliki kesidian/taksu biasanya tidak begitu lama, terutama yang tindak egonya masih tinggi, maka Balian ini harus memegang pantangannya dengan baik agar bisa bertahan lama. Balian jenis ini balian yang mendapatkan keahlian melalui taksu. 
Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut. Baik secara berpikir, berbicara, maupun tingkah lakunya karena kemasukan taksu inilah orang tersebut mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Itulah sebabnya dia dinamai Balian Katakson, dukun yang ketaksuan, kemasukan taksu (kesurupan), dia berfungsi sebagai mediator penghubung. Cara masuknya taksu kedalam diri balian ini tidak lah sama antara balian yang satu dengan balian lainnya. Beberapa dari mereka baru kemasukan Taksu atau kesurupan, setelah menghaturkan sembah dihadapan di sebuah pelinggih atau dihadapan sajen tertentu. Adapula dengan memegang sebuah dupa yang menyala, duduk bersila dan memohon kepada Hyang Widhi, kemudian taksu masuk kedalam dirinya. Balian katakson ini sering pula disebut balian tatakson yakni dukun ketaksuan (tempat taksu).

Balian Usada

Balian Usada adalah suatu Balian yang benar-benar belajar dari guru seorang Balian atau orang yang memupuninya, baik belajar dari lontar, guru-guru/praktisi Balian dan belajar dengan benar cara mendiagnosis ataupun osmosis pasien. Balian usada adalah seseorang yang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui guru waktera, belajar pada seorang balian yang telah mahir dalam ilmu pengobatan, maupun belajar sendiri melalui lontar usada. Karena untuk menjadi balian tipe ini melalui proses belajar, maka orang barat menyebut balian jenis ini dengan julukan Dokter Bali. Mengenai proses seseorang menjadi balian usada dapat dibaca dalam lontar budha kecapi, usada kalimosadha dan usada sari. Setelah tamat mempelajari Katikelaning Genta Pinata Pitu dan sastra sanga maka dianggap siswa telah bersih jiwa dan raganya. Siswa init telah hilang kawahnya yakni keletehan serta kotoran dan keburukan yang ada didalam dirinya telah musnah. Sekarang dia telah dianggap telah siap untuk diberi pelajaran membaca lontar usada.

Balian Campuran

Suatu Balian yang memakai semua cara didalam mengobati si sakit dan keahliannyapun didapat dengan berbagai cara baik dari ketakson, dari benda-benda gaib, dari usada dan sebagainya, yang intinya bisa menyembuhkan si sakit menjadi sehat. Balian Campuran pada umumnya campuran antara balian katakson maupun balian kapican yang mempelajari usada. Dengan demikian balian katakson maupun kapican kemampuannya tidak hanya mengandalkan taksu atau pica, tetapi telah bertambah dengan memberikan ramuan obat-obatan berdasarkan lontar usada. Balian tipe ini dapat disebut balian katakson usada atau balian kapican usada. Balian jenis ini juga dikenal dengan istilah balian ngiring pekayunan atau menjadi tapakan Widhi atau tapakan dewa. Pada umumnya mereka menjadi balian bukanlah atas kemauannya sendiri, tetapi ditunjuk oleh kekuatan gaib. Bila menolak akan tertimpa penyakit, kapongor, atau menjadi gila, pikiran selalu kalut, semua hasil usaha gagal. Hanya dengan mengikuti perintah gaib dia akan kembali normal. Balian seperti ini paling banyak berkembang dan tumbuh subur serta mendapat pasaran. Padahal, keampuhan pengobatannya tidaklah berlangsung lama. Tidak langgeng, hanya bersifat sementara.

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pada dasarnya ada tiga jenis penyakit yang disebut dengan istilah Tri Dosa yaitu Pitta, Kapha dan Vayu (panas, nyem dan sebaa (antara panas dan dingin)). Demikian pula obatnya ada tiga macam, yaitu ; ada obat yang bersifat hangat, tis dan dumelade. Dan ternyata ketiga penyakit dan obatnya bersumber dari  Batara çiwa yang memberikan wewenang kepada Batara Brahma, Wisnu dan Iswara. Penyakit panas dan obatnya yang bersifat hangat menjadi tugas dan kewenangan Batara Brahma. Batara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasiat tis. Batara Iswara mengadakan penyakit sebaa dan bahan obatnya yang bersifat dumelada.
Didunia perbalianan yang selama ini terkesan menutup diri atau sengaja ditutupi agar terkesan seram dan menakutkan atau agar menyisakan keterpesonaan, keraguan dan terkadang keheranan. Sering seperti dipaksa berkenyit, lantaran rasa ingin tahu tak juga menemukan jawaban atas berbagai keanehan dan kedahsyatan yang tengah berlangsung.

Saran

Menjadi seorang balian hendaklah haruslah bermurah hati dan memberi informasi bersifat pencerahan sebagai rasa ingin tahu pasien bisa terpuaskan.
Menjadi seorang balian harus memiliki sifat welas asih dan tanpa pamrih dan jangan membeda-bedakan dari statusnya.
Kepada para guru dan penekun usada bali yang gemar menulis diharapkan lebih banyakmencetak buku-buku usada agar masyarakat awam lebih mudah mengenal usada bali.

Itihāsa

Renungan

Ramayana dan Mahabharata
Kisah Ramayana
Perdebatan panjang tentang adanya sistem pengajaran dalam Veda merupakan
suatu hal yang menjadi pembicaraan yang menarik. Selanjutnya dalam arus modernitas
dituntut adanya sistem pembelajaran yang bersifat komprehensif namun dilain hal
adanya banyak tuntutan yang “memaksa” seseorang untuk melakukan tindakan yang
biasanya disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan orang tersebut.
Pada pembahasan ini akan diulas tentang sistem pendidikan Veda yang mengacu
pada pembelajaran Vedic Literature yang biasanya seorang guru sering memberikan
bahan pembelajaran yang berupa cerita baik itu dalam Itihāsa maupun kesusasteraan
lainnya. Akan tetapi, ada juga yang memberikan arahan kepada anak didiknya untuk
langsung membaca Veda itu sendiri yang biasanya adalah kitab Catur Veda maupun
Bhagavadgītā tanpa diajarkan terlebih dahulu tentang konsep Itihāsa maupun Purana
sebagai pondasi pengetahuan anak didik.
Selanjutnya untuk pembahasan tentang pendidikan agama Hindu bahwa sejak dini
sudah ada tentang materi mendongeng tentang agama Hindu yang isinya adalah cerita
kepahlawanan yang ada dalam epos Itihāsa baik itu Rāmāyana dan Mahābhārata serta
cerita tentang patriotisme dari Purana tentang kelahiran para dewa. Untuk itu perlu
adanya pembaharuan dalam kurikulum untuk memasukan Itihāsa dan puraṇa sebagai
materi pokok untuk mempermudah peserta didik memahami ajaran Veda. Karena dalam metode pendidikan adanya yang dinamakan dengan story telling yang memudahkan peserta didik dalam menyerap materi yang diajarkan oleh guru melalui metoda cerita. Karena dalam hal ini Itihāsa dan Puraṇa sebagai suhrita samhita sangat memungkinkan sekali untuk bisa dipahami oleh anak-anak dan bahkan orang awam sekalipun.

Memahami Teks


Kitab Upaveda, Itihāsa ini merupakan kelompok kitab jenis epos, wiracarita atau cerita tentang kepahlawanan. Pada umumnya pengertian Itihāsa adalah nama sejenis karya sastra sejarah agama Hindu. Itihāsa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dan kerajaan Hindu dimasa silam. Ceritanya penuh fantasi, roman, kewiraan dan di sana sini dibumbui dengan mitologi sehingga memberi sifat kekhasan sebagai sastra spiritual. Di dalamnya terdapat beberapa dialog tentang sosial politik, tentang filsafat atau idiologi, dan teori kepemimpinan yang diikuti sebagai pola oleh raja-raja Hindu. Kata Itihāsa terdiri atas tiga kata, yaitu iti-ha-asa, sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Walaupun Itihāsa merupakan kitab sejarah agama, namun secara materiil sangat sulit untuk dijadikan pembuktian sejarah. Sebagai kitab sejarah banyak memuat hal-hal yang menurut fakta sejarah masih dapat dibuktikan, termasuk social politik, pertentangan berbagai suku bangsa yang ada antara berbagai kerajaan yang kontemporer pada masa itu. Oleh karena itu peranan dan fungsi Itihāsa tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketika hendak mempelajari Veda dan perkembangannya, mempelajari sejarah agama Hindu dan kebudayaannya, berbagai konsep politik dan idiologi yang relevan, maka kitab Itihāsa sangat penting artinya untuk dipelajari. Secara tradisional jenis yang tergolong Itihāsa ada dua macam, yaitu Rāmāyana dan Mahābhārata.Kedua epos ini sangat terkenal di dunia dan memikat imajinasi masyarakat Indonesia di masa silam hingga sekarang. Kedua kitab ini telah digubah ke dalam sastra Jawa Kuno yang sangat indah. Ceritanya banyak diambil dalam bentuk drama dan pewayangan. Demikian pula dalam seni pahat dan seni lukis sangat gemar mengambil tokoh-tokoh dari cerita ini. Khusus dalam bab ini akan meninjau kedua epos yang terbesar di dalam agama Hindu, yaitu: Rāmāyana dan Mahābhārata.

Catatan :
  • Print out Materi Ajar ini, sebagai tugas resume.
  • Download Tugas Uji Kompetensi dengan Mengklik "DOWNLOAD TUGAS".
  • Mencari Kisah Ramayana dan Mahabharata, Kemudian mencetak menjadi Tugas Makalah. Kisah Ramayana dan Mahabharata bisa di download DISINI.
  • Setelah Langkah-langkah Penugasan diselesaikan, Silahkan isi form komentar di bawah sebagai bukti keterlibatan kalian!

Wednesday, 12 November 2014

Swargarohanika Parwa

Parwa Ke-18, Swarga Rohanika Parwa

Mahabharata
Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.
Buku Swargarohanaparwa adalah buku terakhir Mahabharata. Di dalam buku ini dikisahkan bagaimana sang Yudistira yang diangkat naik ke surga lebih baik memilih pergi ke neraka daripada tinggal di sorga dengan para Korawa. Di sorga ia tidak menemui saudara-saudaranya, para Pandawa dan dewi Dropadi.
Maka Yudistira pun berangkat ke neraka dan sesampainya, ia melihat saudara-saudaranya sengsara dan iapun merasa sedih. Tetapi tiba-tiba sorga berubah menjadi neraka dan neraka tempat mereka berada berubah menjadi sorga. Ternyata para Pandawa dan Dropadi pernah berdosa sedikit sehingga harus dihukum. Sedangkan para Korawa pernah berbuat baik sedikit, tetapi perbuatan jahatnya jauh lebih banyak, sehingga beginilah hukumannya.

Mempersembahkan Daksina atau Banten Pejati

Tata Cara Mempersembahkan Daksina atau Banten Pejati

1. Mantram Memohon Tirta

Daksina
Gambar Daksina
 “Om ganga ca yamuna caiva godhavari sarasvati narmade sindhu kaveri jale'smin sanidhim kuru”.

Setelah itu masukan gandham/bubuk cendana dan bija sesarik dengan mengucapkan mantram
“Om sri gandesvara samarpayami, Om kum kumara bija samarpayami”.

Lalu diaduk dengan bunga 3x dengan mengucapkan doa
 “Om bhur bvah svah swaha mahaganga tirta pavitrani ya namah swaha.”

2. Mencangkupkan Kedua Tangan Dengan Mengucapkan Mantra

"Singgih ratu bhatara melingga ring tapak lingga ida, titiyang nyurud daksina... om swastir bhawatu"
Setelah itu ambil daksina yang lama.

3. Taruh Daksina Yang Baru dan Nyalakan Dupa Dengan Mantram

“Om dhupam samarpayami”

 Selanjutnya tancapkan dupa pada daksina dan perciki tirta dengan mengucapkan mantram
“Om tirtayam tirta pavitram ganga ranu toya ganam, purusam naga vasukim agni hrday toyanam”

 Atau dapat juga memakai mantram
“ Om ang brahma amrtaya namah, om ung vishnu amrtaya namah, om mang isvara amrtaya nama”

Ucapkan sebanyak 3x  sembari di percikan ke Daksina juga sebanyak 3x

4. Menghaturkan Daksina Baru Dengan Mantram

"Om pekulun Hyang Wishnu alinggih aneng sesantun daksina guru dewa asung nugraha salweringpinuja dening ingsun, wastu purna jati tan mamiruda ring sarira ingsun om siddhirastu namah swaha...".

Bila ada banten sodan/ayunan/genten maka ditambah dengan mantram
“Om buktyantu sarvato devah buktyantu tri loka natah saganah saparivarah savarga sadasi dasah”,

Selanjutnya banten diayab dengan mengucapkan mantram
“Om deva amukty sukham bhavantu purnam bhavantu sryam bhavantu namo namah swaha (kehadapan para bhatara). Om buktyantu pitara devam bukti mukty vara svadah ang ah (untk leluhur).”

 Bila ada banten peras dihaturkan dengan mantram
“om panca wara bhavet brahma vishnu sapta vare va ca sadvara isvara devas ca asta vara sivo jneyah lalu natab. Ato om kara mukoyate sarva pras pras parisudhaya nama swaha”

lalu natab banten tersebut.

Perhatian: Banten peras harus di haturkan paling terakhir sebagai sahny upacara yang berarti suksesnya persembahyangan yang telah dihaturkan dengan menyobek alas peras tsb. Setelah itu di lanjutkan dengan sembahyang dan panca sembah.

Contoh Dharma Wacana

Dharma Wacana

Ida Pedanda Gde Made Gunung
Dalam ajaran agama Hindu, untuk mengenalkan agama kepada umat melalui beberapa cara, yaitu ; Dharma Vidya, Dharma Tula, Dharma Wacana, Dharma Gita dan Dharma Yatra. Untuk itu, bagi seorang yang menjadi tetua (Orang yang dituakan dilingkungan), meski harus bias menjadi seorang penerang bagi umatnya. Dengan melaksanakan beberapa jalan tersebut di atas.
Disini saya akan mencoba untuk berbagi tentang menyampaikan pesan-pesan Dharma atau Dharmawacana kepada umat. Di bawah ini saya mengangkat tema pesan Dharma yaitu ; implentasi ajaran tri hita Karana dalam kehidupan


Om Avighnam Astu Namo Siddham
Om Swastyastu,          
Pada hari yang berbahagia ini saya ingin menyampaikan sedikit ulasan tentang” Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama Hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai.  Tri hita Karana bisa diartikan Secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Adapun tiga hal tersebut adalah parhayangan, pawongan, dan palemahan. Konsep Tri Hita Karana muncul berkaitan dengan keberadaan desa adat di Bali. Hal ini disebabkan oleh terwujudnya suatu desa adat di Bali bukan saja merupkan persekutuan daerah dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam masyarakat, namun juga merupakan persekutuan bersama dalam kepercayaan memuja Tuhan. Dengan kata lain bahwa ciri khas desa adat di Bali harus mempunyai unsur wilayah, orang-orang atau masyarakat yang menempati suatu wilayah serta adanya tempat suci untuk memuja Tuhan.
Pembagian ajaran Tri Hita Karana meliputi;

Parhayangan

Parhyangan berasal dari kata hyang yang artinya Tuhan. Parhayangan berarti ketuhanan atau hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja ida sang hyang widhi wasa. Dalam arti yang sempit parhyangan berarti tempat suci untuk memuja tuhan.
Menurut tinjauan Dharma susilanya, manusia menyembah dan berbhakti kepada tuhan disebabkan oleh sifat-sifat parama (mulia) yang dimilkinya. Rasa bhakti dan sujud pada tuhan timbul dalam hati manusia oleh karena sanghyang widhi maha ada, maka kuasa, maha pengasih yang melimpahkan kasih dan kebijaksanaan kepada umatnya. Kita Sebagai umat yang beragama yang bernaung dibawah perlindungannya sangat berutang budi lahir bhatin kepada beliau. Dan utang budhi tersebut tak akan terbalas oleh apapun. Karena hal tersebut diatas, maka satu-satunya Dharma/susila yang dapat kita sajikan kepada beliau hanyalah dengan jalan menghaturkan parama suksmaning idep atau rasa terima kasih kita yang setinggi-tingginya kepada beliau.
Adapun contoh implementasi rasa syukur kita kepada tuhan adalah dengan jalan :
  • Dengan khidmat dan sujud bhakti menghaturkan yadnya dan persembahyangan kepada tuhan yang maha esa).
  • Berziarah atau berkunjung ketempat-tempat suci atau tirta yatra untuk memohon kesucian lahir dan bhatin.
  • Mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, mengamalkan serta menuruti dengan teliti segala ajaran-ajaran kerohanian atau pendidikan mental spiritual. Dalam Bhagawadgita IX.14 dikatakan bahwa :

“Satatam kirtayatom mam
Yatantas ca drsha vrtatah
Namasyantas ca mam bhatya
Ni tyayuktah upsate”

Yang artinya adalah :
Berbuatlah selalu hanya untuk memuji-Ku dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan tiada putus-putusnya. Engkau yang memujaku dengan tiada henti-hentinya itu serta dengan kebaktian yanbg kekal adalah dekat dengan-Ku.

Disamping itu rasa bhakti kepada ida sanghyang widhi wasa itu timbul dalam hati manusia berupa sembah, puji-pujian, doa penyerahan diri, rasa rendah hati dan rasa berkorban untuk kebajikan. Kita sebagai umat manusia yang beragama dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban, antara lain cinta kepada kebenaran, kejujuran, keikhlasan, dan keadilan.
Dengan demikian jelaslah begaimana hubungan antara sanghyang widi dengan manusia. Hubungan ini harus dipupuk dan ditingkatkan terus kearah yang lebih tinggi dan lebih suci lahir bhatin. Sesuai dengan swaDharmaning umat yangb religius, yakni untuk dapat mencapai moksartam jagad hita ya ca itri Dharma, yakni kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagioan rohani yang langgeng (moksa).

Pawongan

Pawonan berasal dari kata wong (dalam bahasa jawa) yang artinya orang. Pawongan adalah  perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat, dalam arti yang  sempit pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat yang tinggal dalam satu wilayah.
Pada mulanya Tuhan yang lebih dulu menciptakan bhuwana atau alam, maka munculah palemahan, setelah itu barulah beliau menciptakan manusia beserta mahluk hidup lainya. Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan mendiami suatu wilayah tertentu maka muncullah masyarakat yang disebut dengan pawongan.
Selain menyelaraskan hubungan atman dengan paramatman atau hubungan manusia dengan tuhan, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan dengan sesama Manusia dan mahluk lainya. Yang dimaksud dengan hubungan antar manusia dan mahluk lain ini adalah hubungan antar anggota keluarga , masyarakat, antara anak, suami dan istri dan lainnya. Hubungan manusia dengan mahluk lainya hendaknya dapat menciptanya suasana rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan hati yang penuh dengan cinta kasih. Yang mana kasih merupakan dasar kebajikan. Kasih muncul dari dalam kalbu yang merupakan alam paramatman, yaitu lama ananda (kebahagiaan).
Dalam manu smerti II,138 disebut :
“satyam bruyat priyam bruyam
na bruyam satyam, priyam
canartam, bruyat esa Dharmah sanatanah”
yang artinya:
berkatalah yang sewajarnya jangan mengucapkan kata kata yang kasar. Walaupun kata-kata itu benar, jangan pula mengucapkan kata-kata lemah lembut namun dusta. Inilah hukum susila yang abadi(sanatana Dharma).
Perilaku yang baik adalah dasar mutlak dalam kehidupan sebagai manusia, karena dengan berbuat susila manusia dapat meningkatkan taraf hidupnya baik di alam sekala maupun di alam niskala.

Palemahan

Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berati bhuwana atau alam. Dalam artian yang sempit palemahan berarti wilayah sutu pemukiman atau tempat tinggal.
Manusia hidup dimuka bumi ini memerlukan ketentraman, Kesejukan, ketenangan dan kebahagiaan lahir dan bhatin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil alam. Hal inilah yang melandasi terjadinya hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta ini.
Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu melaksanakan upacar tumpek uye (tumpek kandang), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hidup binatang dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek bubuh) untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan..
Demikianlah penjelasan mengenai pembagian dari tri hita Karana tersebut. Arti penting ajaran Tri hita Karana ini merupakan ajaran agama Hindu yang universal. Ajaran tri hita Karana mengarahkan manusia untuk selalu mengharmoniskan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan alam semesta atau lingkunganya.
Arah dan sasaran dari tri hita Karana adalah mencapai mokrastham jagad hita ya ca iti Dharma, yakni mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin sehingga dengan keharmonisan maka tercapailah kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir dari agama Hindu yakni bersatunya atman dengan paramatman.
Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Rumah Tangga
Berbicara kebahagiaan atau mengenai Tri Hita Karana tidaklah bisa dipisahkan antara pawongan, palemahan dan parahyangan sebab antara satu dan yang lainya saling keterikatan yang mana implementasi ketiga ajaran tersebut menentukan kebagaiaan manusia dan alam semesta ini sebab dalam Tri Hita Karana tidak saja hubungan antara manusia saja, melainkan hubungan dengan alam dan tuhan pula diajarkan.
Implementasi Tri Hita Karana sesungguhnya dapat diterapkan dimana dan kapan saja dan idealnya dalam setiap aspek kehidupan manusia dapat menerapkan dan mempraktekan tri hita Karana ini yang sangat sarat dengan ajaran etika yakni tidak saja bagaimana kita diajarkan bertuhan dan mengagungkan tuhan namun bagaimana srada dan bhakti kita kepada tuhan melalaui praktik kita dalam kehidupan sehari-hari seperti mengahargai antara manusia dan alam semesta ini yang telah memberikan kehidupan bagi kita.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu mencari kebahagiaan dan selalu mengharapkan agar dapat hidup secara damai dan tentram baik antara manusia dalam hal ini tetangga yang ada dilingkungan tersebut maupun dengan alam sekitarya. Hubungan tersebut biasanya terjalin dengan tidak sengaja atau secara mengalir saja terutama dengan manusia namun ada juga yang tidak memperdulikan hal tersebut dan cenderung melupakan hakekatnya sebagai manusia sosial yang tak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu berawal dari diri sendiri dan kemudian berlanjut pada keluarganya. Dalam keluarga, manusia akan diberikan pengetahuan dan pelajaran tentang hidup baik tentang ketuhanan ataupun etika oleh orang tua atau pengasuh kita (wali), dan beranjak dari hal tersebut pula orang tua secara perlahan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam tubuh dan pikiran setiap anak-anaknya melalui praktik maupun teori. Begitu pula halnya dengan pendidikan atau pemahaman tentang tri hita Karana itu sendiri, secara sadar maupun tidak sadar hal tersebut atau nilai-nilai ajaran tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua melalui praktik kepada anak-anaknya seperti mengajarkan anaknya untuk mebanten saiban. Memang hal ini manpak sepele namun jika kita mampu mengkaji lebih dalam sesungguhnya hal ini mengandung nilai pendidikan yang sangat tinggi meskipun orang tua kebanyakan tidak mampu menjelaskan secara logika dan benar makna dari tindakan tersebut.
Selain hal tersebut diatas masih banyak hal terkait implementasi tri hita Karana yang dapat dilakukan dalam kehidupak keluarga, seperti mebanten ketika hendak melakukan suatu kegiatan seperi membuka lahan perkebunan yang baru. Hal ini jika dikaji tidak hanya penghormatan kepada alam namun penghormatan kepada tuhan melalui tindakan yang secara kasat mata meminta ijin beliau untuk memakai alam tersebut untuk kebutuhan manusia. Interaksi manusia dengan alam dan Tuhan yang nampak pada kegiatan tersebut hampir tidak pernah diperbincangkan oleh manusia dan menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa, namun demikianlah umat Hindu mengimani ajaran Tri Hita Karana yang mana implementasinya sendiri terkadang dilakukan secara tidak sengaja namun mengena pada sasaran.
Mengenai hubungan manusia dengan sesam (pawongan), ajaran tri hita Karana nampak pada upacara manusia yadnya misalnya upacara otonan yang mana yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran kita  dan bersyukur kepada tuhan karena telah dilahirkan. Ajaran Tri Hita Karana tidak bisa diterapkan dalam satu bidang saja namun ada keterkaitannya dengan yang lain seperti contoh diatas, tidak saja untuk manusia dilakukan upacara tersebut namun ditujukan pula kepda tuhan. Demikian mulianya huhungan yang diajarkan tri hita Karana pada manusia yang selalu menekankan kepada manusia agar selalu ingat bahwa kita didunia ini tidaklah hidup sendirian, ada tentangga dalam hal ini manusia lain yang kita butuhkan sebagai mahluk sosial, ada alam yang memberi kita berkah agar bisa meneruskan hidup dan ada tuhan sebagai pencipta kita. Sehingga kita senantiasa harus menjaga hubungan tersebut agar terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Demikianlah contoh secara gamlang yang dapat diuraikan selain masih banyak lagi contoh lain yang terkait mengenai hal tersebut yang mana bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan keluarga, sebab dalam keluarga banyak memberikan edukasi yang tinggi tentang nilai-nilai serta konsep ketuhanan, sehingga dari padanya hendaknya kepada anak diberikan hal itu sedini mungkin.
Demikianlah sedikit ulasan yang dapat saya sampaikan pada hari yang berbahagia ini.
Semoa apa yang di saya jelaskan tadi dapat diterapkan dalam kehidupan kita supaya tercipta suatu keadaan yang harmonis, tentram dan damai.
Om Santih, Santih, Santih Om.

Konsep Kaula Gusti Menunggal, Moksa

Konsep Kaula Gusti Menunggal di Pura Dasar Gel Gel

Moksa
Bali terkenal dengan pulau sejuta pura. Tak hanya keindahan alamnya saja yang mengundang decak kagum wisatawan, namun kekayaan peninggalan budaya dan tradisi Hindu Bali juga kerap menjadi perhatian serius mereka yang berkunjung ke pulau ini. Dan salah satu dari peninggalan kebudayaan Hindu Bali itu ialah Pura Dasar Gel Gel  yang menjadi salah satu peninggalan Klungkung di masa lalu.
Pura ini didirikan dengan maksud untuk menghormati Empu Ghana, yakni seorang suci yang dianggap paling berjasa dalam perkembangan agama Hindu di Bali. Pura ini memiliki konsep Kaula Gusti Manunggal yakni sebagai pemersatu umat Hindu di Bali, disamping juga pura ini merupakan Pura Dang Kahyangan Jagat. Masuk ke dalam pura akan membawa kita pada intimitas relijiusitas yang begitu mendalam karena terdapatnya tempat utama untuk melakukan pemujaan terhadap Sanghyang Widhi Wasa.
Sebagaimana kelaziman keberadaan pura di Bali, Pura gel Gel juga memiliki tiga mandala yakni Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Kerangkeng pohon beringin besar tumbuh di bagian Nista Mandala, yang mana pohon beringin ini menjadi saksi bisu perjalanan pura dari waktu ke waktu. Demikian juga di bagian Madya Mandala terdapata Pelinggih Bale Agung dengan panjangnya mencapai 12 meter. Di Utama Mandala ada banyak benda-benda pusaka diantaranya belasan pelinggih, Meru Tumpang Tilu, Meru Tumpang Solas.

Pura Dasar Gelgel dipelihara, dijaga dan dirawat oleh Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 Banjar dan tiga Desa Dinas ( Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan). Untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung terdapat area parkir disekitar Pura Pura Dasar Gelgel ini. Maka ketika Anda berkesempatan untuk berkunjung ke Bali menyempatkan diri berkunjung ke Gel Gel adalah hal yang tak sia-sia, bahkan banyak manfaatnya terutama untuk lebih mendalami kebudayaan dan tradisi Hindu.