Showing posts with label Kitab Agama Hindu. Show all posts
Showing posts with label Kitab Agama Hindu. Show all posts

Sunday, 16 November 2014

Ayur Weda / Āyur Veda

Āyur Veda

Ayur VedicĀyur Veda berasal dari bahasa sansekerta yaitu : आयुर्वेद  adalah sebuah pengetahuan pengobatan yang bersumber dari kitab Upaveda Smerti. Kitab Āyurveda berbeda dengan kitab Yajurveda. Sering sekali kedua kitab ini dianggap sama. Padahal kitab Āyurveda mengulas tentang bagaimana tata caranya agar tetap sehat dan berumur panjang. Kitab ini berada di dalam sub kelompok Veda Smerti Upaveda.

Sedangkan kitab Yajurveda yang membahas tentang Yadnya merupakan bagian dari kelompok Mantra Veda Śruti. Isi kitab Āyurveda lebih banyak mengacu atau merujuk pada kitab Mantra Atharwaveda, bukan kepada kitab Mantra Yajurveda.
Istilah Āyurveda berarti ilmu yang menyangkut bagaimana seseorang dapat mencapai panjang umur. Āyu artinya baik dalam artian panjang umur. Kitab Āyurveda isinya tidaklah hanya menguraikan tentang penyakit, pengobatan dan penyembuhan, seperti banyak diperkirakan orang. Ulasannya jauh lebih luas dari itu. Isinya menyangkut berbagai pengetahuan tentang kehidupan Manusia (Bhuana Alit) yang hidup di dunia ini (Bhuana Agung), terutama yang berkaitan dengan berbagai upaya agar manusia dapat hidup sehat dan berumur panjang. Kitab ini juga membahas pengetahuan mengenai biologi, anatomi, dan berbagai macam pengetahuan mengenai jenis-jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tanaman obat. Menurut isi kajian yang dibahas di dalam berbagai macam jenis Āyurveda, keseluruhannya dapat dibagi atas delapan bidang, yaitu :
  1. Śalya, yaitu ilmu tentang bedah dan cara-cara penyembuhannya.
  2. Salakya, yaitu ilmu tentang berbagai macam penyakit pada waktu itu.
  3. Kāyacikitsa, yaitu ilmu tentang jenis dan macam obat-obatan.
  4. Bhūtawidya, yaitu ilmu pengetahuan psikoterapi.
  5. Kaumārabhṛtya, yaitu ilmu tentang pemeliharaan dan pengobatan penyakit anak-anak termasuk pula cara perawatannya.
  6. Agadatantra, yaitu ilmu tentang pengobatan atau toxikologi.
  7. Rasāyamatantra, yaitu tentang pengatahuan kemujijatan dan cara-cara pengobatan non medis.
  8. Wajikaranatantra, yaitu ilmu tentang pengetahuan jiwa remaja dan permasalahannya.

Menurut keterangan dari berbagai kitab Āyurveda ada petunjuk yang menegaskan bahwa Āyurveda asal mulanya dirintis oleh Atreya Purnawasu disekitar abad ke VI SM, jauh sebelum Buddha. Kemudian oleh beliau diajarkannya kepada Caraka dan Dhṛdhabala yang kemudian oleh mereka menghimpunnya dalam bentuk buku baru dengan nama Caraka Samhitā. Isinya merupakan himpunan ilmu obat-obatan. Dari Caraka Samhitā lebih jauh mendapat keterangan mengenai pengelompokan berbagai bidang ajaran Āyurveda yang pada dasarnya sama terdiri atas delapan bidang studi kasus, yaitu:
  1. Sūtrasthāna, yaitu bidang ilmu pengobatan.
  2. Nidānasthāna, yaitu bidang ilmu yang membicarakan berbagai macam penyakit yang paling pokok saja.
  3. Wimānasthāna, yaitu bidang ilmu yang mempelajari tentang phatologi, tentang ilmu pengobatan dan kewajiban yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh seorang dokter medis.
  4. Indriyasthāna, yaitu ilmu yang mempelajari cara diagnose dan prognosa.
  5. Saristhāna, yaitu bidang ilmu yang mempelajari tentang anatomi dan embriologi.
  6. Cikitsāsthāna, yaitu bidang ilmu yang mempelajari secara khusus tentang ilmu terapi

Menurut Āyurveda, hidup itu merupakan perpaduan antara raga sarira atau stula sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), manah (kemampuan berpikir), indriya (kemampuan mengindera), dan atma (jiwatman). Manusia yang dianggap hidup adalah manusia yang mampu melaksanakan aktivitas utama hidupnya (karma purusḥa), mampu melakukan dharma, sebagai suatu akumulasi atau perpaduan keseimbangan antara unsur tri dosḥa (cairan humoral) yang berada di dalam tubuh, sapta dhatu (jaringan tubuh), dan tri mala (limbah buangan, ekskreta). Jaringan tubuh atau sapta dhatu yaitu rasa (plasma), rakta (darah), mamsa (otot), meda (lemak), asthi (tulang), majja (sumsum), dan sukra (energi vital) akan dapat berfungsi optimal bila unsur tri dosḥa (vata, pitta, kapha) berada dalam keadaan seimbang dan mala (berak, kencing, keringat) dibuang secara teratur.

Berkeringat setiap saat, buang air kecil setiap 8 jam, dan buang air besar setiap 24 jam adalah bentuk mala yang harus dibuang secara teratur dari tubuh. Bila ini tidak dilakukan tidak terjadi maka keseimbangan dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya manusia itu akan jatuh sakit.


Di dalam pengobatan tradisional Bali, kitab Āyurveda ini dikenal dengan nama lontar Usadaatau kitab Usada. Isinya tidaklah persis sama seperti apa yang ditulis di dalam Āyurveda. Ada berbagai kearifan lokal yang masuk dan terdapat di dalam lontar Usada. Unsur tri dosḥa terdiri atas unsur vata (angin, udara), pitta (api), dan kapha (air).

Saturday, 15 November 2014

Purana

Pengertian Purāna

Kitab Itihasa Purana
Kata Purāna berarti tua atau kuno. Kata ini dimaksudkan sebagai nama jenis buku yang berisikan cerita dan keterangan mengenai tradisi-tradisi yang berlaku pada zaman dahulu kala. Berdasarkan bentuk dan sifat isinya, Purāna adalah sebuah Itihāsa karena di dalamnya memuat catatan-catatan tentang berbagai kejadian yang bersifat sejarah. Tetapi melihat kedudukanya, Purāna adalah merupakan jenis kitab Upaveda yang berdiri sendiri, sejajar pula dengan Itihāsa. Ini tampak ketika membaca keterangan yang menjelaskan bahwa untuk mengetahui isi Veda dengan baik, kita harus pula mengenal Itihāsa, Purāna, dan Ākhyāna. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Purāna adalah kitab yang memuat berbagai macam tradisi atau kebiasaan dan keterangan-keterangan lainnya, baik itu tradisi, tradisi lokal, tradisi keluarga, dan lainnya. Oleh karena di dalamnya banyak memuat penjelasan mengenai kebiasaan para Rsi atau Nabi, alam pikiran atau ajaran serta kebiasaan yang dijalankan, maka Purāna adalah semacam kitab sunnahnya dalam agama Hindu atau sebagai dasar untuk memahami Śila dan Ācāra.
Sebagai kitab yang memiliki sifat Itihāsa, Purāna memuat banyak cerita mengenai silsilah raja-raja, sejarah perkembangan kerajaan Hindu dan berbagai dinastis pada masa itu. Hanya diharapkan untuk lebih selektif dalam penggunaanya dalam penelitian sejarah karena kurang akuratnya data yang diberikan. Data hanya bersifat deskriptif dan bukan didasarkan pada tahun kejadian dengan menyebutkan peristiwa kejadian, secara pasti. Karena itu untuk penelitian sejarah sebagai data positif kurang dapat diterima. Ini tidak berarti harus kita abaikan sama sekali. Tidak. Di dalamnya banyak data-data yang kadang kala sangat membantu kita dalam mempelajari dan merekonstruksi latar belakang serta proses pertumbuhan sejarah Hindu secara tepat pula.

Pokok-pokok isi Purāna

Pada garis besarnya, hampir semua Purāna memuat ceritera-ceritera yang secara tradisional dapat kita kelompokan ke dalam lima hal, yaitu:
  1. Tentang Kosmogoni atau mengenai penciptaan alam semesta.
  2. Tentang hari kiamat atau Pralaya.
  3. Tentang Silsilah raja-raja atau dinasti raja-raja Hindu yang terkenal.
  4. Tentang masa Manu atau Manwantara.
  5. Tentang sejerah perkembangan dinasti Surya atau Suryawangsa dan Chandrawangsa.

Kelima hal itu dirumuskan dalam kitab Wisnu Purāna III.6.24, mengantarkan sebagai berikut:
”Sargaśca pratisargaśca wamśo manwantarāni ca, sarwesweteṣu kathyante waṃśān ucaritam ca yat”.

Dari ungkapan itu, jelas Viṣṇu Purāna mencoba memberi batasan tentang isi Purāna pada umumnya dan dapat disimpulkan sebagaimana dikemukakan di atas. Sarga dan pratisarga yaitu masa penciptaan dan pralaya atau masa kiamatnya dunia. Tentang wamsa yaitu tentang suku bangsa atau silsilah raja-raja yang penting dalam pengamatan sejarah. Tentang mawantara, yaitu jangka masa Manu, dari satu masa Manu ke masa Manu berikutnya, merupakan masa yang dikenal dengan Manwantara atau dari satu siklis Manu ke Siklus Manu berikutnya. Adapun bait kedua, yaitu mencakup segala cerita yang relevan pada dinasti itu dan yang terakhir mulai dari riwayat timbulnya Surya wangsa dan Chandra wangsa.
Di samping kitab Viṣṇu Purāna, banyak lagi kitab-kitab Purāna lainya yang isinya tidak hanya terbatas kepada kelima hal itu saja, melainkan memberi keterangan berbagai hal termasuk berbagai macam upacara Yajña dengan penggunaan mantranya, ilmu penyakit, pahala melakukan Tirthayatra, berbagai macam jenis upacara keagamaan, peraturan tentang cara memilih dan membangun tempat ibadah, peraturan tentang cara melakukan peresmian Candi, sejarah para dewa-dewa, berbagai macam jenis batu-batuan mulia, dan banyak lagi hal-hal yang sifatnya memberi keterangan kepada kita tentang sifat hidup di dunia ini.
Dari berbagai keterangan ini akhirnya dapat kita simpulkan bahwa kitab Purāna banyak sekali memberikan keterangan yang bersifat mendidik, baik mengenai ajaran Ketuhanan (Theologi) maupun cara-cara pengamalannya. Hanya sayangnya, sifat paedadogi yang diberikan sangat disederhanakan dan pada umumnya satu kitab akan bersifat fanatik pada cara penerangan dan pendiriannya, sering tanpa disadari telah menimbulkan dampak yang memberi citra yang kurang menguntungkan seperti teori Theisme melahirkan konsep Pantheisme hanya karena sekedar untuk memberi contoh-contoh yang kurang mendalam.
Dengan adanya keterangan yang bersifat heterogen, secara tidak langsung telah menimbulkan kesan adanya sifat Politheisme dan bermadzab-madzab. Secara ilmiah, pada dasarnya kitab Purāna bertujuan untuk memberi keterangan secara metodelogi yang amat penting dalam memberi keterangan tentang ajaran Ketuhanaan itu sendiri. Apabila kita tidak membaca seluruh Purāna dan tidak membatasi diri kita maka kita akan secara tidak sadar terbawa pada satu pandangan yang keliru. Bukan demikian maksud adanya kitab Purāna itu. Menurut catatan yang dapat dikumpulkan, pada mulanya kita memiliki kurang lebih 18 kitab Purāna, yaitu masing-masing namanya adalah:
1. Brahmānda Purāna.
2. Brahmawaiwarta Purāna.
3. Mārkandeya Purāna.
4. Bhawisya Purāna.
5. Wāmana Purāna.
6. Brahama Purāna atau adhi Purāna.
7. Wisnu Purāna.
8. Nārada Purāna.
9. Bhāgawata Purāna.
10. Garuda Purāna.
11. Padma Purāna.
12. Warāha Purāna.
13. Matsya Purāna.
14. Karma Purāna.
15. Lingga Purāna.
16. Siwa Purāna.
17. Skanda Purāna.
18. Agni Purāna.
Selanjutnya yang perlu kita ketahui bahwa di Bali kita menemukan pula sejenis Purāna yang dinamakan dengan nama kitab Purāna pula, yaitu Rāja Purāna. Kitab Purāna ini dapat kita tambahkan ke dalam delapan belas Purāna yang ada. Kitab Rāja Purāna berisikan banyak catatan mengenai silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Bali dan hubunganya dengan Jawa.

Pembagian jenis Purāna

Kitab Purāna secara menyeluruh dapat kita kelompokan ke dalam tiga kelompok. Pengelompokan kitab Purāna ini didasarkan pada isinya. Sebagai mana kita ketahui kitab Purāna menonjolkan sifat ke sekteanya. Untuk tujuan penonjolan madzabmadzab itu, tiap madzab pada umumnya memperlihatkan kekhususannya dibidang theologi dan sangat fanatik dalam mempertahankan pendiriannya. Sebagai akibat sifat kefanatikan itu maka apabila kita perhatikan keseluruh Purāna sebagai sumber ajaran theologi, tampak kepada kita seakan-akan adanya polytheisme karena setidak-tidaknya akan terlihat adanya tiga wujud sifat kekuasaan, yang umum kita kenal dengan Tri Murti atau tiga Wujud. Ketiga wujud itu, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Berdasarkan ketiga sifat hakikat itu yang kemudian merupakan perwujudan dari masing-masing madzab dalam agama Hindu, akhirnya Purāna seluruhnya dikelompokan ke dalam tiga macam kelompok, yaitu:

1. Kelompok Satvika

Kelompok Purāna ini mengutamakañ Wisnu sebagai Dewatanya. Kelompok kitab ini diwakili oleh enam buah buku Puranā, yaitu, Viṣṇu Purāna, Nārada Purāna, Bhāgawata Purāna, Garuda Purāna, Padma Purāna, dan Warāha Purāna. Sebagaimana telah dikemukakan, Dewa Wisnu adalah salah satu bentuk sifat Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai Wisnu di dalam keenam kitab Purāna Wisnu menempati kedudukan yang tertinggi dan kadang kala ia juga diceritakan dalam berbagai wujud inkarnasinya (Awataranya). Kitab Wisnu Purāna adalah merupakan kitab Purāna yang dijadikan dasar untuk Purāna- Purānalainya dalam kelompok Satwika. Yang kedua adalah kitab Bhāgawatam. Kitab Purāna ini dijadikan dasar terutama bagi kelompok gerakan Harekresna karena di dalam kitab ini diceritakan dengan panjang lebar riwayat Sri Kresna secara lengkap.

2. Kelompok Rajasika (Rajasa) Purāna

Dalam kelompok Rājasika ini, Dewa Brahma merupakan Dewatanya yang paling utama. Termasuk dalam kelompok ini terdiri atas enam buah kitab Purāna juga, yaitu: Brahmānda Purāna, Brahmawaiwasta Purāna, Mārkandeya Purāna, Bhawisya Purāna, Wamana Purāna, dan Brahma Purāna. Dari nama-nama itulah kita dapat menyimpulkan bahwa tokoh Dewatanya adalah Brahma. Brahma adalah salah satu dari Tri Murti dan merupakan salah satu dari bentuk sifat Ketuhanan Y.M.E, apabila kita kembalikan kepada Veda sebagai dasar Purāna. Adanya nama-nama seperti Mārkandeya di dalam tradisi yang dikenal di Bali, dan adanya kitab Brahmanda Purāna yang sering disebut-sebut terdapat di Bali, kesemuanya itu hanya dapat membuktikan bahwa di Bali pada zaman dahulu pernah berkembang madzab Brahmanisme di samping madzab Waisnawa atau Bhāgawata. Dalam berbagai jenis Purāna, terdapat keterangan bahwa kitab Brahmawaiswata Purāna keseluruhanya terbagi atas empat buah buku. Masing-masing dengan namanya sendiri-sendiri, seperti misalnya Brahma dan Markandeya Purāna dan Kresnakhanda. Kitab Markandeya isinya bersifat umum dan mirip seperti Raja Purāna.
Adapun kitab Wamana Purāna, walaupun isinya memuat aspek Rajasa, tetapi kalau kita perhatikan isinya justru menceritakan riwayat Wisnu awatara yang turun menjelma sebagai Wamana (orang cebol). Adapun Kitab Brahma Purāna, kitab ini lebih terkenal
dengan nama lain, yaitu, Adi Purāna dan diduga kitab asal mulanya ditulis oleh Vyāsa.

3. Kelompok Tamasika (Tamasa) Purāna

Kelompok yang ketiga ini terdiri atas enam buah kitab Purāna juga, yaitu Matsya Purāna, Kūrma Purāna, Lingga Purāna, Siwa Purāna, Skanda Purāna dan Agni Purāna. Menurut isinya, kitab Purāna ini banyak memuat penjelasan Dewa Siwa dengan segala Awataranya, di samping di sana sini terdapat pula Dewa Wisnu, seperti dalam Kurma Purāna. Matsya Purāna membahas tentang berbagai macam upacara/ ritual keagamaan, tentang firasat, dan banyak pula cerita mengenai sejarah dan sisilah para Resi dan Dewa-dewa.
Di dalam kitab ini terdapat pula keterangan berbagai jenis bangunan suci, cara membuatnya dan sedikit tentang wastu sastra. Isinya cukup luas. Kitab Kurma Purāna terdiri atas empat samhita. Salah satu samhita yang penting, antara lain Brahmi samhita yang menceritakan inkarnasi Dewa Śiwa. Adapun kitab lingga Purāna menceritakan banyak mengenai inkarnasi Dewa Śiwa yang terdiri atas 28 macam inkarnasi. Di samping itu terdapat pula keterangan mengenai berbagai macam ritual yang perlu diperhatikan. Adapun yang terbesar dari kelompok Tamasa ini adalah Siwa Purānayang memiliki kurang lebih 12.000 stanza tetapi masih lebih kecil jika dibandingkan dengan Bhagawata Purāna, kitab ini tercatat memiliki kurang lebih 18.000 stanza.
Agni Purāna yang merupakan Purāna terbesar digolongan Tamasa Purāna,
dikenal pula dengan nama Mahā Purāna. Nama ini menunjuk akan kebesaran dan keluasan isi Agni Purāna disamping Matsya Purāna. Berdasarkan catatan yang ada, Agni Purāna dibagi atas tiga pokok, yaitu:
  • Yang pertama, sesuai dengan materinya disebut Sawarahasya-kanda.
  • Yang kedua merupakan Waisnawa Purāna dan sebagai pelengkap pada Waisnawa Pancarata, membahas mengenai Vedanta dan Gita.
  • Yang ketiga didalamnya membahas aspek Saigwasma dan memuat beberapa pokok ajaran mengenai ritual menurut tantrayana.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Agni Purāna merupakan hasil karya Bhagawan Wasiṣṭha. Berdasarkan penjelasan dari Agni Purāna, dikemukakkan bahwa banyak cabang ilmu yang kemudian dikembangkan dinyatakan berasal dari Agni Purāna dan pernyataan ini mungkin sifatnya dibesar-besarkan saja. Berdasarkan kitab Agni Purāna inilah kita mendapatkan keterangan bahwa ilmu pengetahuan itu dibedakan atas dua macam, yaitu:
  1. Para widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah ketuhanan Yang Maha Esa dan dinyatakan sebagai pengetahuan tertinggi.
  2. Apara widya, yaitu pengetahuan yang menyangkut masalah duniawi.

Dari perumusan isi itu, jelas Agni Purāna memuat keterangan yang amat luas dan bermanfaat untuk diketahui. Yang paling penting kemanfaatan Agni Purāna adalah karena justru kitab ini memuat keterangan yang amat bermanfaat mengenai iconografi
arca. Dengan mempelajari kitab-kitab Purāna itu diharapkan tingkat kebaktian dan keimanan seseorang akan dapat lebih mantap dan berkembang.

Kitab Upa Purāna

Di samping ke delapan belas Purāna pokok itu, kita banyak mencatat adanya jenis-jenis kitab Purāna yang lebih kecil dan suplemeter sifatnya. Kelompok itu kita kenal dengan nama Upa Purāna. Umunya jenis kitab Upa Purāna ini banyak ditulis oleh Bhagawan Wyāsa isinya sangat singkat dan pendek. Di samping itu materi isinya yang terbatas menyebabkan bentuknya lebih kecil. Dengan adanya beberapa penemuan tentang awig-awig yang berlaku di Besakih baik dalam bentuk Praśasti maupun dalam bentuk catatan-catatan di dalam ortal, kesemua itupun dapat kita kategorikan sebagai Upa Purāna. Untuk melihat pentingnya arti Purāna dalam pelaksanaan ajaran agama itulah kita tidak dapat mengabaikan betapapun kecilnya catatan-catatan yang ada yang terdapat diberbagai candi atau tempat peribadatan.
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa Purāna banyak memberi informasi yang bermanfaat kepada kita terutama dalam bidang pelaksanaan ajaran keagamaan atau Ācāra. Dengan tujuan untuk melengkapi keterangan yang diperlukan untuk memahami Veda, kitab Purāna itu sedikit banyaknya sangat bermanfaat. Kecuali untuk membuktikan sejarah secara materiil baru dapat kita gunakan apabila didukung oleh penemuan archaeologi lainya.
Adapun nama-nama yang tercatat sebagai Upa Purāna, Sanat kumara, Narasimhs,
Brhannaradiya, Siswarahasiya, Durwasa, Kapila Wamana, Bhargawa, Waruna,

Kalika, Samba, Nandi, Surya, Parasasra, Waiṣṭha, Dewi-Bhagawata, Ganesa dan Hamsa. Inilah beberapa jenis Upa Purāna yang penting sebagai tambahan kepada Purāna sebelum melengkapi tempat-tempat ibadah seperti candi dll. Dapat dilakukan terutama yang menyangkut pembuatan arca untuk tujuan ilmu Tantra. Agni Purāna menyebutkan berbagai penulis hukum Hindu, seperti Manu, Viṣṇu, Yajñawalkya, Wasiṣṭha, Harita, Atri, Yama, Angira, Daksa, Samwarta, Satatapa, Parasasra, Apastambha, Usanasa, Wyāsa, Katyayana, Brhaspati Gautama, Sankha dan Likhita.

Usada Bali

Usada Bali / Taru Premana

Sejarah Balian

Bali
Aksara dala Ilmu Usada Bali
Untuk istilah Dukun dibali dikenal dengan sebutan Balian, tapakan atau jero dasaran. Balian, waidhya, pengobat ( battra = pengobat tradisional ), dukun, atau tabib Jadi balian merupakan orang yang mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan penyakit seseorang.
Ajaran Hindu çiwa Siddanta menyatakan bahwa Ida Sang Hyang Widhi  atau Batara çiwa yang menciptakan semua yang ada di jagat raya ini, beliau pula yang mengadakan penyakit (gering, wyadhi ), obat ( tamba, ubad ), dan pengobat (balian) hidup dan mati juga kehendak beliau. Utpatti (lahir), Sthiti (hidup), Pralina (mati). Laku balian yang diwacanakan dalam lontar Bodha Kecapi adalah madewasraya usaha mistik-magis seorang penganut çiwa Tantrik untuk memohon pertolongan dewa agar dapat menjadi balian sejati. Untuk menjadi seorang balian harus berani melaksanakan mati raga di setra pangesengan (tempat pembakaran mayat). Bila orang berhasil mati raga maka ia mendapat anugrah Tuhan. AnugrahNya dapat berupa kesiddian (kekuatan adikodrat).

Dharma Sesana Balian

Dharma sesana Balian dapat disamakan dengan etika balian, sesana berarti tingkah laku, kewajiban. Sedangkan etika, yang berasal dari kata ethos (yunani)  berati ilmu pengetahuan tentang asas moral. Dharma sesana didalam bahasa Indonesia dapat disejajarkan dengan tata susila, yakni dasar kebaikan yang menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, kewajiban yang harus dipenuhi selaku anggota masyarakat.Manusia harus melakukan dharma sesana jika ingin kehidupannya mencapai kebahagiaan. Dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik dengan buana alit maupun dengan buana agung. Didalam setiap agama pedoman dharma sesana ini pasti ada karena ajaran yang baik selalu bersifat universal. Manusia apapun pekerjaannya apalagi sebagai balian bila ingin hidup sejahtera harus berpijak pada patokan yang pasti yaitu dharma sesana. Balian yang bekerja menghadapi manusia, memerlukan dharma sesana yang baku, yang dapat diikuti dan ditaati oleh semua balian sebagai pedoman dalam melaksanakan profesinya. Dharma sesana balian adalah sebagai berikut :
  • Semua rahasia dari orang yang sakit harus disimpan, tidal boleh disebarluaskan atau dibicarakan dengan orang lain.
  • Hidup para balian harus suci dan bersih, terlepas dari sifat loba, sombong dan asusila.Didalam lontar tutur bhagawan çiwa sempurna ditegaskan bahwa, seorang balian tidak boleh berlaku sombong, harus bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, serta semua nafsu hendaknya ditahan didalam hati.
  • Seorang balian tidak boleh was-was, ragu-ragu, apalagi malu-malu dalam hati harus teguh dan mantap serta penuh keyakinan pada apa yang dikerjakan. Tidak goyah terhadap segala hambatan, rintangan, gangguan, dan godaan yang datang dari dalam diri sendiri, yang mengakibatkan gagalnya usaha yang sedang ditempuh. Tidak akan mundur sebelum berhasil mendapatkan apa yang sedang dihayati, apa yang diinginkan yaitu kesembuhan dari orang yang sakit.
  • Seorang balian tidak boleh pamrih. Semua pengobatan berlangsung dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Sebab semua balian yang benar-benar balian di Bali tahu akan akibat dari kelobaan akan sesantun dan materi lainnya. Para balian harus tahu akan hak dan kewajibannya, rendah hati tidak sombong, membatasi diri terhadap apa yang dapat dilakukannya, menghormati kehidupan manusia, karena didalam raga sarira atau tubuh manusia, bersemayam Sang Hyang Atma, Sang Hyang Bayu Pramana karena beliu dapat mengutuk balian yang melanggar dharma sesana.Dan bila terkutuk kesaktian atau kesidiannya dalam hal mengobati orang sakit dapat menurun dan luntur. Dan yang lebih parah lagi ia akan menerima kutuk dari Sang Hyang Budha Kecapi sehingga hidupnya akan menderita, termasuk anak cucunya. Ketahuilah adanya tata cara menjadi balian jangan disalah artikan atau disalahgunakan, memang sangat berbahaya menjadi balian. Barang siapa berkehendak menjadi balian sakti mawisesa, tidak dikalahkan oleh kesaktian mantra dapat menjalankan semua pengobatan, dapat mengobati segala penyakit dan tenung. Maka, hendaklah selalu astiti bhakti ring Ida Batara Tiga, khususnya ring Ida Batara Dalem, Desa dan Puseh. Sebagai jalan untuk memohon kesaktiannya, Ida I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang merupakan pepatih bersama saudara-saudaranya yang lain. Ida I ratu Nyoman sakti Pengadangan adalah dewan balian sejagat, wajib dibuat pelinggih penyawangan biasa dalam bentuk kamar suci, dibuatkan daksina linggih, ditempatkan pada pelangkiran.

Balian Berdasarkan Tujuannya

Balian Penengen.

Balian Penengen adalah balian yang tujuannya mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian ini sering pula disebut Balian Ngardi Ayu (dukun kebaikan). Balian ini pada umumnya bersifat ramah, terbuka, penuh wibawa dan suka menolong. Siapapun akan ditolongnya tidak membedakan apakah dia orang baik atau orang jahat, orang yang miskin atau kaya semua dilayani sesuai dengan penyakit yang dideritanya.

Balian Pengiwa.

Balian Pengiwa adalah balian yang tujuannya membuat orang yang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit bertambah menjadi sakit, bahkan sampai meninggal. Itulah sebabnya balian tipe ini sering disebut balian aji wegig, dukun yang menjalankan kekuatan membencanai orang lain, berbuat jahil, usil, terhadap orang lain. Balian jenis ini amat sukar dilacak, pekerjaannya penuh rahasia, tertutup dan misterius. Sering pula balian ini mengganggu balian penengen pada waktu pengobati orang sakit sehingga tidak sembuh-sembuh, jahil dan usil. Merupakan sisi lain dari aji wegig ini mendatangkan hujan pada waktu orang sedang melakukan upacara, menahan hujan (nerang) pada waktu orang bercocok tanam, serta menguji kesaktian dengan balian lainnya adalah kegemaran dari balian pengiwa ini. Disamping itu balian ini juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, terutama orang yang kena aji wegignya sendiri, atau diri orang lain.
Balian berdasarkan tata cara memproleh keahlian dan cara pengobatannya:
Setiap balian punya cara tersendiri didalam mengobati suatu penyakit, misalnya:

Balian Kapican.

Orang Balian dengan memakai benda-benda berpetuah yang didapat dari paica(pemberian benda gaib dari alam bawah sadar) seperti benda-benda permata, benda-benda berupa keris, minyak dan lain sebagainya. Mungkin benda-benda tersebut didapat dari pawisik/pirasat baik berupa mimpi atau petunjuk yang lainnya. Balian kapican adalah orang yang mendapat benda bertuah yang dapat dipergunakan untuk mengobati orang yang sakit. Benda bertuah ini disebut Pica. Pica ini dapat berupa keris kecil, batu permata, pis bolong, batu mekocok, tulang, gigi, besi atau logam lainnya, gigi kilap, serta benda lain yang bentuknya aneh. Ada malahan yang berupa binatang seperti kucing , anjing, burung, ular atau binatang lainnya. Benda pica ini diperoleh biasanya melalui petunjuk dialam mimpi. Di dalam mimpinya dijelaskan tentang tempat benda tersebut dan kasiatnya untuk pengobatan. Kalau berupa binatang maka ia akan datang sendiri atau dijemput disuatu tempat. Dengan mempergunakan benda-benda atau binatang pica ini, dia mampu menyembuhkan orang yang sakit sejak itu mereka disebut Balian Kapican, dukun yang mendapat pica atau kapican oleh suatu kekuatan gaib. Jika pica itu berbentuk permata, umpamanya dengan cara menaruh batu permata itu ditempat yang dirasakan sakit oleh pasiennya, kadang-kadang disertai dengan mengosok-gosokkan permata itu dibadan si sakit, maka penyakit orang tersebut akan sembuh. Atau dengan cara memasukkan permata itu kedalam air kemudian air itudiminum oleh si sakit. Dan sembuhlah penyakitnya ada pula yang disertai dengan pembacaan mantra dengan disertai sesajen dalam proses pengobatannya.

Balian Katakson.

Orang Balian yang mendapatkan kemampuan mengobati dengan kesurupan, suatu kekuatan gaib yang masuk ketubuh si Balian sehingga mampu mempengarui balian tersebut dan menyebabkan mampu mengobati si sakit.  Dengan ciri-ciri pada umumnya sebagai berikut:
  • Balian ini pada umumnya keadaan terpaksa ngiring pekayunan (menuruti kehedak gaib) kalau tidak mau menuruti kehendak gaib ini maka si Balian akan jatuh sakit, dan lain sebagainya. 
  • Saat mengobati orang sakit, si Balian ini tidak menyadari apa yang telah dilakukannya. 
  • Memiliki kesidian/taksu biasanya tidak begitu lama, terutama yang tindak egonya masih tinggi, maka Balian ini harus memegang pantangannya dengan baik agar bisa bertahan lama. Balian jenis ini balian yang mendapatkan keahlian melalui taksu. 
Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut. Baik secara berpikir, berbicara, maupun tingkah lakunya karena kemasukan taksu inilah orang tersebut mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Itulah sebabnya dia dinamai Balian Katakson, dukun yang ketaksuan, kemasukan taksu (kesurupan), dia berfungsi sebagai mediator penghubung. Cara masuknya taksu kedalam diri balian ini tidak lah sama antara balian yang satu dengan balian lainnya. Beberapa dari mereka baru kemasukan Taksu atau kesurupan, setelah menghaturkan sembah dihadapan di sebuah pelinggih atau dihadapan sajen tertentu. Adapula dengan memegang sebuah dupa yang menyala, duduk bersila dan memohon kepada Hyang Widhi, kemudian taksu masuk kedalam dirinya. Balian katakson ini sering pula disebut balian tatakson yakni dukun ketaksuan (tempat taksu).

Balian Usada

Balian Usada adalah suatu Balian yang benar-benar belajar dari guru seorang Balian atau orang yang memupuninya, baik belajar dari lontar, guru-guru/praktisi Balian dan belajar dengan benar cara mendiagnosis ataupun osmosis pasien. Balian usada adalah seseorang yang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui guru waktera, belajar pada seorang balian yang telah mahir dalam ilmu pengobatan, maupun belajar sendiri melalui lontar usada. Karena untuk menjadi balian tipe ini melalui proses belajar, maka orang barat menyebut balian jenis ini dengan julukan Dokter Bali. Mengenai proses seseorang menjadi balian usada dapat dibaca dalam lontar budha kecapi, usada kalimosadha dan usada sari. Setelah tamat mempelajari Katikelaning Genta Pinata Pitu dan sastra sanga maka dianggap siswa telah bersih jiwa dan raganya. Siswa init telah hilang kawahnya yakni keletehan serta kotoran dan keburukan yang ada didalam dirinya telah musnah. Sekarang dia telah dianggap telah siap untuk diberi pelajaran membaca lontar usada.

Balian Campuran

Suatu Balian yang memakai semua cara didalam mengobati si sakit dan keahliannyapun didapat dengan berbagai cara baik dari ketakson, dari benda-benda gaib, dari usada dan sebagainya, yang intinya bisa menyembuhkan si sakit menjadi sehat. Balian Campuran pada umumnya campuran antara balian katakson maupun balian kapican yang mempelajari usada. Dengan demikian balian katakson maupun kapican kemampuannya tidak hanya mengandalkan taksu atau pica, tetapi telah bertambah dengan memberikan ramuan obat-obatan berdasarkan lontar usada. Balian tipe ini dapat disebut balian katakson usada atau balian kapican usada. Balian jenis ini juga dikenal dengan istilah balian ngiring pekayunan atau menjadi tapakan Widhi atau tapakan dewa. Pada umumnya mereka menjadi balian bukanlah atas kemauannya sendiri, tetapi ditunjuk oleh kekuatan gaib. Bila menolak akan tertimpa penyakit, kapongor, atau menjadi gila, pikiran selalu kalut, semua hasil usaha gagal. Hanya dengan mengikuti perintah gaib dia akan kembali normal. Balian seperti ini paling banyak berkembang dan tumbuh subur serta mendapat pasaran. Padahal, keampuhan pengobatannya tidaklah berlangsung lama. Tidak langgeng, hanya bersifat sementara.

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pada dasarnya ada tiga jenis penyakit yang disebut dengan istilah Tri Dosa yaitu Pitta, Kapha dan Vayu (panas, nyem dan sebaa (antara panas dan dingin)). Demikian pula obatnya ada tiga macam, yaitu ; ada obat yang bersifat hangat, tis dan dumelade. Dan ternyata ketiga penyakit dan obatnya bersumber dari  Batara çiwa yang memberikan wewenang kepada Batara Brahma, Wisnu dan Iswara. Penyakit panas dan obatnya yang bersifat hangat menjadi tugas dan kewenangan Batara Brahma. Batara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasiat tis. Batara Iswara mengadakan penyakit sebaa dan bahan obatnya yang bersifat dumelada.
Didunia perbalianan yang selama ini terkesan menutup diri atau sengaja ditutupi agar terkesan seram dan menakutkan atau agar menyisakan keterpesonaan, keraguan dan terkadang keheranan. Sering seperti dipaksa berkenyit, lantaran rasa ingin tahu tak juga menemukan jawaban atas berbagai keanehan dan kedahsyatan yang tengah berlangsung.

Saran

Menjadi seorang balian hendaklah haruslah bermurah hati dan memberi informasi bersifat pencerahan sebagai rasa ingin tahu pasien bisa terpuaskan.
Menjadi seorang balian harus memiliki sifat welas asih dan tanpa pamrih dan jangan membeda-bedakan dari statusnya.
Kepada para guru dan penekun usada bali yang gemar menulis diharapkan lebih banyakmencetak buku-buku usada agar masyarakat awam lebih mudah mengenal usada bali.

Wednesday, 12 November 2014

Contoh Dharma Wacana

Dharma Wacana

Ida Pedanda Gde Made Gunung
Dalam ajaran agama Hindu, untuk mengenalkan agama kepada umat melalui beberapa cara, yaitu ; Dharma Vidya, Dharma Tula, Dharma Wacana, Dharma Gita dan Dharma Yatra. Untuk itu, bagi seorang yang menjadi tetua (Orang yang dituakan dilingkungan), meski harus bias menjadi seorang penerang bagi umatnya. Dengan melaksanakan beberapa jalan tersebut di atas.
Disini saya akan mencoba untuk berbagi tentang menyampaikan pesan-pesan Dharma atau Dharmawacana kepada umat. Di bawah ini saya mengangkat tema pesan Dharma yaitu ; implentasi ajaran tri hita Karana dalam kehidupan


Om Avighnam Astu Namo Siddham
Om Swastyastu,          
Pada hari yang berbahagia ini saya ingin menyampaikan sedikit ulasan tentang” Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama Hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai.  Tri hita Karana bisa diartikan Secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Adapun tiga hal tersebut adalah parhayangan, pawongan, dan palemahan. Konsep Tri Hita Karana muncul berkaitan dengan keberadaan desa adat di Bali. Hal ini disebabkan oleh terwujudnya suatu desa adat di Bali bukan saja merupkan persekutuan daerah dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam masyarakat, namun juga merupakan persekutuan bersama dalam kepercayaan memuja Tuhan. Dengan kata lain bahwa ciri khas desa adat di Bali harus mempunyai unsur wilayah, orang-orang atau masyarakat yang menempati suatu wilayah serta adanya tempat suci untuk memuja Tuhan.
Pembagian ajaran Tri Hita Karana meliputi;

Parhayangan

Parhyangan berasal dari kata hyang yang artinya Tuhan. Parhayangan berarti ketuhanan atau hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan dalam rangka memuja ida sang hyang widhi wasa. Dalam arti yang sempit parhyangan berarti tempat suci untuk memuja tuhan.
Menurut tinjauan Dharma susilanya, manusia menyembah dan berbhakti kepada tuhan disebabkan oleh sifat-sifat parama (mulia) yang dimilkinya. Rasa bhakti dan sujud pada tuhan timbul dalam hati manusia oleh karena sanghyang widhi maha ada, maka kuasa, maha pengasih yang melimpahkan kasih dan kebijaksanaan kepada umatnya. Kita Sebagai umat yang beragama yang bernaung dibawah perlindungannya sangat berutang budi lahir bhatin kepada beliau. Dan utang budhi tersebut tak akan terbalas oleh apapun. Karena hal tersebut diatas, maka satu-satunya Dharma/susila yang dapat kita sajikan kepada beliau hanyalah dengan jalan menghaturkan parama suksmaning idep atau rasa terima kasih kita yang setinggi-tingginya kepada beliau.
Adapun contoh implementasi rasa syukur kita kepada tuhan adalah dengan jalan :
  • Dengan khidmat dan sujud bhakti menghaturkan yadnya dan persembahyangan kepada tuhan yang maha esa).
  • Berziarah atau berkunjung ketempat-tempat suci atau tirta yatra untuk memohon kesucian lahir dan bhatin.
  • Mempelajari dengan sungguh-sungguh ajaran-ajaran mengenai ketuhanan, mengamalkan serta menuruti dengan teliti segala ajaran-ajaran kerohanian atau pendidikan mental spiritual. Dalam Bhagawadgita IX.14 dikatakan bahwa :

“Satatam kirtayatom mam
Yatantas ca drsha vrtatah
Namasyantas ca mam bhatya
Ni tyayuktah upsate”

Yang artinya adalah :
Berbuatlah selalu hanya untuk memuji-Ku dan lakukanlah tugas pengabdian itu dengan tiada putus-putusnya. Engkau yang memujaku dengan tiada henti-hentinya itu serta dengan kebaktian yanbg kekal adalah dekat dengan-Ku.

Disamping itu rasa bhakti kepada ida sanghyang widhi wasa itu timbul dalam hati manusia berupa sembah, puji-pujian, doa penyerahan diri, rasa rendah hati dan rasa berkorban untuk kebajikan. Kita sebagai umat manusia yang beragama dan bersusila harus menjunjung dan memenuhi kewajiban, antara lain cinta kepada kebenaran, kejujuran, keikhlasan, dan keadilan.
Dengan demikian jelaslah begaimana hubungan antara sanghyang widi dengan manusia. Hubungan ini harus dipupuk dan ditingkatkan terus kearah yang lebih tinggi dan lebih suci lahir bhatin. Sesuai dengan swaDharmaning umat yangb religius, yakni untuk dapat mencapai moksartam jagad hita ya ca itri Dharma, yakni kebahagiaan hidup duniawi dan kesempurnaan kebahagioan rohani yang langgeng (moksa).

Pawongan

Pawonan berasal dari kata wong (dalam bahasa jawa) yang artinya orang. Pawongan adalah  perihal yang berkaitan dengan orang dalam satu kehidupan masyarakat, dalam arti yang  sempit pawongan adalah kelompok manusia yang bermasyarakat yang tinggal dalam satu wilayah.
Pada mulanya Tuhan yang lebih dulu menciptakan bhuwana atau alam, maka munculah palemahan, setelah itu barulah beliau menciptakan manusia beserta mahluk hidup lainya. Setelah manusia berkembang dan menghimpun diri dalam kehidupan bersama dan mendiami suatu wilayah tertentu maka muncullah masyarakat yang disebut dengan pawongan.
Selain menyelaraskan hubungan atman dengan paramatman atau hubungan manusia dengan tuhan, kita sebagai mahluk sosial juga harus membina hubungan dengan sesama Manusia dan mahluk lainya. Yang dimaksud dengan hubungan antar manusia dan mahluk lain ini adalah hubungan antar anggota keluarga , masyarakat, antara anak, suami dan istri dan lainnya. Hubungan manusia dengan mahluk lainya hendaknya dapat menciptanya suasana rukun, harmonis, dan damai serta saling bantu membantu satu sama lain dengan hati yang penuh dengan cinta kasih. Yang mana kasih merupakan dasar kebajikan. Kasih muncul dari dalam kalbu yang merupakan alam paramatman, yaitu lama ananda (kebahagiaan).
Dalam manu smerti II,138 disebut :
“satyam bruyat priyam bruyam
na bruyam satyam, priyam
canartam, bruyat esa Dharmah sanatanah”
yang artinya:
berkatalah yang sewajarnya jangan mengucapkan kata kata yang kasar. Walaupun kata-kata itu benar, jangan pula mengucapkan kata-kata lemah lembut namun dusta. Inilah hukum susila yang abadi(sanatana Dharma).
Perilaku yang baik adalah dasar mutlak dalam kehidupan sebagai manusia, karena dengan berbuat susila manusia dapat meningkatkan taraf hidupnya baik di alam sekala maupun di alam niskala.

Palemahan

Palemahan berasal dari kata lemah yang artinya tanah. Palemahan juga berati bhuwana atau alam. Dalam artian yang sempit palemahan berarti wilayah sutu pemukiman atau tempat tinggal.
Manusia hidup dimuka bumi ini memerlukan ketentraman, Kesejukan, ketenangan dan kebahagiaan lahir dan bhatin. Untuk mencapai tujuan tersebut manusia tidak bisa hidup tanpa bhuwana agung (alam semesta). Manusia hidup di alam dan dari hasil alam. Hal inilah yang melandasi terjadinya hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta ini.
Untuk tetap menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, umat Hindu melaksanakan upacar tumpek uye (tumpek kandang), yang bertujuan untuk menjaga kelestarian hidup binatang dan melaksanakan upacara tumpek wariga (tumpek bubuh) untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan..
Demikianlah penjelasan mengenai pembagian dari tri hita Karana tersebut. Arti penting ajaran Tri hita Karana ini merupakan ajaran agama Hindu yang universal. Ajaran tri hita Karana mengarahkan manusia untuk selalu mengharmoniskan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan alam semesta, dan hubungan manusia dengan alam semesta atau lingkunganya.
Arah dan sasaran dari tri hita Karana adalah mencapai mokrastham jagad hita ya ca iti Dharma, yakni mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin sehingga dengan keharmonisan maka tercapailah kebahagiaan yang merupakan tujuan akhir dari agama Hindu yakni bersatunya atman dengan paramatman.
Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Rumah Tangga
Berbicara kebahagiaan atau mengenai Tri Hita Karana tidaklah bisa dipisahkan antara pawongan, palemahan dan parahyangan sebab antara satu dan yang lainya saling keterikatan yang mana implementasi ketiga ajaran tersebut menentukan kebagaiaan manusia dan alam semesta ini sebab dalam Tri Hita Karana tidak saja hubungan antara manusia saja, melainkan hubungan dengan alam dan tuhan pula diajarkan.
Implementasi Tri Hita Karana sesungguhnya dapat diterapkan dimana dan kapan saja dan idealnya dalam setiap aspek kehidupan manusia dapat menerapkan dan mempraktekan tri hita Karana ini yang sangat sarat dengan ajaran etika yakni tidak saja bagaimana kita diajarkan bertuhan dan mengagungkan tuhan namun bagaimana srada dan bhakti kita kepada tuhan melalaui praktik kita dalam kehidupan sehari-hari seperti mengahargai antara manusia dan alam semesta ini yang telah memberikan kehidupan bagi kita.
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu mencari kebahagiaan dan selalu mengharapkan agar dapat hidup secara damai dan tentram baik antara manusia dalam hal ini tetangga yang ada dilingkungan tersebut maupun dengan alam sekitarya. Hubungan tersebut biasanya terjalin dengan tidak sengaja atau secara mengalir saja terutama dengan manusia namun ada juga yang tidak memperdulikan hal tersebut dan cenderung melupakan hakekatnya sebagai manusia sosial yang tak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan manusia, segala sesuatu berawal dari diri sendiri dan kemudian berlanjut pada keluarganya. Dalam keluarga, manusia akan diberikan pengetahuan dan pelajaran tentang hidup baik tentang ketuhanan ataupun etika oleh orang tua atau pengasuh kita (wali), dan beranjak dari hal tersebut pula orang tua secara perlahan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam tubuh dan pikiran setiap anak-anaknya melalui praktik maupun teori. Begitu pula halnya dengan pendidikan atau pemahaman tentang tri hita Karana itu sendiri, secara sadar maupun tidak sadar hal tersebut atau nilai-nilai ajaran tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua melalui praktik kepada anak-anaknya seperti mengajarkan anaknya untuk mebanten saiban. Memang hal ini manpak sepele namun jika kita mampu mengkaji lebih dalam sesungguhnya hal ini mengandung nilai pendidikan yang sangat tinggi meskipun orang tua kebanyakan tidak mampu menjelaskan secara logika dan benar makna dari tindakan tersebut.
Selain hal tersebut diatas masih banyak hal terkait implementasi tri hita Karana yang dapat dilakukan dalam kehidupak keluarga, seperti mebanten ketika hendak melakukan suatu kegiatan seperi membuka lahan perkebunan yang baru. Hal ini jika dikaji tidak hanya penghormatan kepada alam namun penghormatan kepada tuhan melalui tindakan yang secara kasat mata meminta ijin beliau untuk memakai alam tersebut untuk kebutuhan manusia. Interaksi manusia dengan alam dan Tuhan yang nampak pada kegiatan tersebut hampir tidak pernah diperbincangkan oleh manusia dan menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa, namun demikianlah umat Hindu mengimani ajaran Tri Hita Karana yang mana implementasinya sendiri terkadang dilakukan secara tidak sengaja namun mengena pada sasaran.
Mengenai hubungan manusia dengan sesam (pawongan), ajaran tri hita Karana nampak pada upacara manusia yadnya misalnya upacara otonan yang mana yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran kita  dan bersyukur kepada tuhan karena telah dilahirkan. Ajaran Tri Hita Karana tidak bisa diterapkan dalam satu bidang saja namun ada keterkaitannya dengan yang lain seperti contoh diatas, tidak saja untuk manusia dilakukan upacara tersebut namun ditujukan pula kepda tuhan. Demikian mulianya huhungan yang diajarkan tri hita Karana pada manusia yang selalu menekankan kepada manusia agar selalu ingat bahwa kita didunia ini tidaklah hidup sendirian, ada tentangga dalam hal ini manusia lain yang kita butuhkan sebagai mahluk sosial, ada alam yang memberi kita berkah agar bisa meneruskan hidup dan ada tuhan sebagai pencipta kita. Sehingga kita senantiasa harus menjaga hubungan tersebut agar terjadi keseimbangan dalam hidup ini. Demikianlah contoh secara gamlang yang dapat diuraikan selain masih banyak lagi contoh lain yang terkait mengenai hal tersebut yang mana bisa dimulai dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan keluarga, sebab dalam keluarga banyak memberikan edukasi yang tinggi tentang nilai-nilai serta konsep ketuhanan, sehingga dari padanya hendaknya kepada anak diberikan hal itu sedini mungkin.
Demikianlah sedikit ulasan yang dapat saya sampaikan pada hari yang berbahagia ini.
Semoa apa yang di saya jelaskan tadi dapat diterapkan dalam kehidupan kita supaya tercipta suatu keadaan yang harmonis, tentram dan damai.
Om Santih, Santih, Santih Om.