Showing posts with label Pendidikan Agama Hindu. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Agama Hindu. Show all posts

Saturday, 15 November 2014

Apa Itu Yoga?

Pemahaman Tentang Yoga


Yoga
Yoga adalah Suatu seni untuk meningkatkan kesadaran diri, baik pikiran, ucapan dan perbuatan. Dengan berlatih yoga secara rutin dan benar maka kesadaran, kebijaksanaan, ketenangan, ketentraman dan kedamian setiap praktisinya akan bangkit.
Penyatuan yang di Maksud adalah penyatuan Sang Diri, yaitu Roh/ Atman yang ada pada diri kita dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga mampu tercipta kedamaian di Jagat Raya ini. Yoga adalah praktik kehidupan, yang merupakan penerapan dari ajaran-ajaran Weda , dalam kehidupan setiap mahluk hidup dilandasi oleh kesadaran ke-Tuhanan dalam hidupnya yang mengandung ajaran penuntun kehidupan sampai evolusi sang Roh.
Yoga berasal dari kata sansekerta, Yuj yang artinya menghubungkan, arti lebih luas sebagai pemersatu spirit individu (jiwatman) dengan spirit Universal (Paraatman). ini merupakan suatu kontak pembebasan diri agar selalu dalam keadaan bebas dari penderitaan sebagai penyebab dari suatu kesedihan.

Astangga Yoga

Ashtanga yoga atau Delapan tangga yoga,yang di rumuskan oleh seorang yogi terkenal bernama Patanjali di dalam kitab yoga sutra, merupakan warisan berharga bagi para praktisi yoga masa kini. Pada awal masa pembentukanya, yoga masih merupakan suatu pengetahuan yang lebih sistematis. Dalam kitab yang di tulis dalam bahasa sansekerta pada kira-kira abad ke-2 SM ini,terdapat panduan mengenai tahap-tahap pemurnian tubuh dan pikiran agar dapat masuk lebih jauh ke dalam kesadaran yang lebih tinggi menuju realisasi diri atau Samadhi,Setiap tahap merupakan bagian mandiri yang dapat dilakukan secara terpisah,atau dapat pula dilakukan simultan dan bertahap.
Tahap-tahap awal bernama yama dan niyama. Yama merupakan kode etik moral dan Niyama merupakan panduan disiplin diri bagi setiap siswa yoga. Diibaratkan sebuah gedung yang membutuhkan fondasi yang kukuh,begitu pula di butuhkan moral dan disiplin yang kuat untuk mempelajari yoga.
1. Yamaatau pengendalian diri, terdiri dari 5 aspek, di namakan panca yama,yaitu : 

  • Ahimsa : anti kekerasan,menghindari setiap bentuk tindak kekerasan,baik terhadap sesame manusia,binatang maupun lingkungan sekitar.
  • Satya : Kebenaran yang sejati,mengikuti nurani dan menguatkan mental untuk selalu berkata,berpikir,dan berlaku secara benar.
  • Asteya : tidak mencuri,tidak menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain.
  • Brahmacharya : Menjaga kesucian ,hidup secara seimbang dalam segala hal dan menjaga kemurnian tubuh ,pikiran dan emosi.
  • Aparigraha : nonposesif,menjauhkan diri dari membangga-banggakan diri dan harta,tetap hidup dengan sederhana dan tidak berlebihan.

2. Niyama, atau displin diri, terdiri dari 5 aspek yang dinamakan panca niyama, yakni:
  • Svadhyaya: Menuntut ilmu. Selalu haus akan ilmu dan memilki hasrat untuk terus memperdalam ilmu.
  • Tapa : ketekunan dan usaha keras.
  • Santosha : penuh kedamaian. Menjaga rasa damai dan rasa puas dalam diri.
  • Saucha : kemurnian. Meningkatkan kesucian tubuh dan pikiran.
  • Ishvara Panindhana : menghormati Tuhan dan ajaran agama yang ada.
3. Asana, atau postur yoga, merupakan gerakan yang lembut dan sistematis. Asana bermanfaat untuk meningkatkan kelenturan serta kekuatan otot dan sendi tubuh, memijat susunan saraf pusat di punggung, melancarkan aliran darah, menyeimbangkan produksi hormone, serta membuang racun dari dalam tubuh.
4. Pranayama, atau tekniik pernapasan, meningkatkan asupan oksigen serta prana ke dalam tubuh, menggiatkan fungsi kerja sel tubuh, serta meningkatkan konsentrasi dan ketenangan pikiran.
5. Pratyahana, menguasai rasa, yaitu menarik perhatian dari semua rangsangan yang terdapat di luar dan dapat mengganggu konsentrasi, dan mengarahkannya ke daLam diri. Pratyahara bertujuan mendiamkan pikiran dan merupakan pelatihan yang sangat baik untuk meningkatkan kesadaran (mindfulness)
6. Dharana, konsentrasi, adalah tahap awal menuku Dhayana atau meditasi. Dharana merupakan kelanjutan Pratyahara karena pikiran menjadi lebih tajam.
7. Dhyana, meditasi, adalah perjalanan untuk lebih jauh masuk dalam pikiran dan diri (the self) dan mulai meniadakan eksistensi tubuh.
8. Samadhi, kesadaran tertinggi atau pencerahan. Dalam tahap dhyana (meditasi) terkadang masih terasa dualisme antara kesadaran tubuh. Samadhi merupakan titik kulminasi union atau peleburan antara atma (diri) dan Sang Brahnan ( Sang Pencipta).

3 Lapisan Tubuh Manusia

Kita perlu tubuh untuk menjalani hidup. Dengan adanya tubuh, kita menjadi “ada” dan tanpa tubuh, kita bukanlah “siapa-siapa”. Tubuh merupakan “kuil” tempat bersemayamya jiwa dan, karena itu, harus di jaga dan dipelihara sebaik mungkin. Walaupun demikian, tubuh fisik memilikin keterbatasan waktu untuk eksistensinya,Karena pada saat nanti,tubuh yang di besarkan oleh makanan ini akan kembali ke siklus makanan.
Dalam system yoga, selain tubuh fisik terdapat 2 jenis tubuh lain-yakni tubuh astral dan tubuh kausal-yang bersifat kekal dan berada dalam dimensi yang berbeda dengan tubuh fisik, keduanya akan meninggalkan tubuh fisik pada saat kematian. Praktik Hatha yoga mengajarkan penyatuan body, mind,ang soul melalui tehnik-tehnik penguasaan tubuh, merupakan pintu gerbang awal untuk memasuki kesadaran akan mental dan spiritual. Intinya, dengan melakukan praktik Hatha yoga, kita akan meningkatkan kesadaran akan tubuh, yang akan membawa ke kesadaran pikiran, kemudian kana membawa pada kesadaraan atman/jiwa, dan mengembalikan diri pada kebahagiaanya.

Tubuh fisik ( Stula sarira ) 

Merupakan tubuh ”Kasar”yang di bentuk oleh 5 undur:bumi(prithivi),air (apas),api (agni), udara (Vayu) dan ether/angkasa (akasha). Siklus eksistensi tubuh fisik ialah saat mengalamai kelahiran, pertumbuhan, perubahan, pengeroposan dan kematian.

Tubuh astral (Suksma sarira) 

Merupakan tubuh ”halus” yang mampu merasakan rasa senang dan rasa sakit, terdiri dari 19 unsur : 
  • 5 organ aksi (kara indriya) : mulut, tangan, kaki, genital dan anus. 
  • 5 Organ ilmu Pengetahuan (jnana indriya):Pancaindra,yakni mata (penglihatan ), Telinga (pendengaran ), Hidung (Penciuman), lidah(Rasa) dan kulit (Sentuhan ). 
  • 5 Prana / Energi. Prana adalah energi kehidupan yang melingkupi semua materi di alam semesta ini, termasuk di dalam udara/napas yang kita hirup saat bernapas; Prana vayu: kekuatan dasar yang menggerakan segala sesuatu dan mengaktifkan fungsi-funsi fall penting seperti bernapas, makan minum, dan menerima input sensorial (indriawi). Apana vayu: Kekuatan yang mengatur proses pengeluaran : urine, tinja, ejakulasi, menstruasi, dan proses melahirkan : kekuatan yang menghasilkan rasa penerimaan dan pasrah. Samana vayu: kekuatan yang mengatur pencernaan makanari, emosi, dan pengalaman sensorial: merupakan kekuatan yang mengubah prana menjadi energi. Udana vayu: kekuatan yang mengatur pertumbuhan tubuh dan kemampuan untuk berdiri, berjalan, dan berbicara: merupakan kekuatan yang memberikan antusiasme dalam hidup. Vyana vayu: kekuatan yang mengatur sirkulasi oksigen dan makanan dalam tubuh fisik, serta mengatur sirkulasi pikiran dan emosi dalam astral merupakan kekuatan yang mendukung fungsi kerja prana lainnya.
  • 4 unsur “instrument dalam”: pikiran (manas), intelek (buddhi), pikiran bawah sadar (chitta), dan ego (ahamkara-Pembenaran diri).
Selain ketiga jenis tubuh ini,terdapat juga 5 lapisan kesadaran yang termanifestasikan dalam ketiga jenis tubuh tersebut.Kelima lapisan kesadaran adalah:

  1. Annamaya kosha (lapisan makanan), terdapat dalam tubuh fisik dan terbentuk dari unsur dunia fisik- yakni makanan. Oleh karena itu, lapisan tubuh ini akan kembali ke siklus makanan (food cycle) setelah mati.
  2. Pranamaya kosha (lapisan vital/energi),terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 prana dan 5 organ aksi. Fungsinya adalah merasakan lapare,haus,panas, dan dinggin.
  3. Manomaya kosha (lapisan mental), terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 organ pengetahuan dan beberapa unsur dalam, yakni pikiran / manas dan pikiran bawah sadar/chitta. Fungsinya ialah berpikir menyangsikan,marah,nafsu,gembira,depresi dan delusi.
  4. Vijnamaya kosha (lapisan intelek) terdapat dalam tubuh astral dan bekerja dengan bantuan 5 orang ilmu pengetahuan yang bekerja sama dengan intelek (Buddhi) yang mampu menganalisis dan membedakan berbagai hal dan ego (ahamkara) yang bertujuan untuk pembenaran diri,Fungsinya ialah membedakan dan membuat kepurusan.
  5. Anandamaya kosha (Lapisan Kebahagiaan) terdapat dalam tubuh kausal, fungsinya merasakan ketenangan, ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan.

Tubuh kausal (karana sharira) 

Merupakan tubuh “benih” atau blueprint tubuh kasar dan halus. Didalam tubuh ini terdapat samskara dan karma yang akan memengaruhi perilaku dan jalan hidup manusia.


5 Lapisan Kesadaran 

Diri manusia yang “sesungguhnya” Bukanlah salah satu bagian dari “tubuh” atau “ lapisan kesadaraan “ yang telah di sebutkan,Untuk membebaskan diri dan mencapai pencerahan,seorang haruslah berhenti nmengidentifikasi dirinya dengan salah satu lapisan atau tubuh ini dan mengidentifikasi dengan sesuatu yang melebihi semua lapisan Tubuh,yakni atman/jiwa.Praktik yoga akan meningkatkan kesadaran manusia untuk menyadari keberadaan jiwa,dan untuk mencapainya,kelima lapisan tubuh ini harus di murnikan terlebih dahulu dengan cara:

  1. Annamaya Kosha (Lapisan Fisik) melalui asanas dan pola makan yang benar.
  2. Pranamaya Kosha (Lapisan energi) melalui pranayama (Olah Napas).
  3. kosha (Lapisan Mental) melalui praktik yama,niyama dan pelayanan terhadap sesama.
  4. Vijnamaya Kosha (Lapisan intelek) melalui praktik meditasi dan studi spriritual.
  5. Anandamaya Kosha (Lapisan Kebahagiaan) melalui samadi.
Baca juga artikel Berlatih Yoga Kundalini, untuk membangkitkan Kundalini Anda...

Monday, 3 November 2014

Aneka Kidung Suci Hindu

Kidung Dewa Yajna

Wargasari
Seni suara adalah salah produk seni yang lahir hampir bersamaan dengan kelahiran manusia, demikian kata seniman. Seni suara demikian akrab di dalam kehidupan manusia. Seni suara mampu memberikan ketenangan dalam hati dan jiwa manusia. Seni suara merupakan media untuk mengekspresikan suasana hati dari manusia.
Demikian akrabnya seni suara dengan kehidupan manusia sehingga hampir setiap aktivitas manusia diiringi dengan seni suara. Tidak terkecuali dalam aktivitas spritual. Di Hindu, seni suara juga merupakan sarana untuk beryadnya. Yaitu melakukan korban suci dengan melagukan sebuah kidung suci yang mampu menciptakan suasana damai di hati.
Marilah kita simak satu persatu warisan leluhur kita, sebagai bagian dari setiap upacara/aktivitas spritual umat hindu.

  1. Kawitan Warga Sari – Pendahuluan sembahyang
    1. Purwakaning angripta rumning wana ukir.
      Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
      Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.
    2. Sukania harja winangun winarne sari.
      Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
      Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng
  2. Pangayat – Menghaturkan sajen
    Kidung Warga Sari
    1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
      Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
      Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
      Sami sampun puput. Pratingkahing saji.
    2. Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
      Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
      Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
      Ancangan sadulur, sami pada ngiring.
    3. Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
      Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
      Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
      Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.
  3. Pamuspan – Sembahyang
    Merdu – Komala
    1. Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
      Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
      Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
      Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.
    2. Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
      Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
      Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
      Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.
    3. Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
      Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
      lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
      Ring angambeki yoga kiteng sakala.
    4. Katemun ta mareka sitan katemu.
      Kahidepta mareka si tankahidep.
      Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
      Paramartha Siwatwa nira warana.
  4. Nunas tirtha – Mohon tirtha
    1. Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
      Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
      Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
      Sami pada lebur. Malane ring gumi.

Tuesday, 7 October 2014

Kisah Perang Bharatayudha di Mahabharata

Kisah Mahabharata


mahabharata antv
Kisah Mahabharata diawali dengan pertemuan antara Raja Sentanu dan Dewi Gangga yang cantik jelita. Sentanu ingin menikahi Dewi Gangga, namun Dewi Gangga mengajukan syarat, adalah tidak akan menghalangi apapun yang Dewi Gangga lakukan. Sentanu menyanggupi. Dari pernikahan mereka, Dewi Gangga melahirkan banyak anak, namun setiap anak yang lahir ditenggelamkannya di sungai Gangga. Sentanu tak kuasa berbuat apa-apa karena sumpahnya. Namun ketika Dewi Gangga akan menenggelamkan anaknya yang ke-8, Sentanu tak bisa lagi menahan amarah. Karena Sentanu melanggar janji, Dewi Gangga pun pergi membawa sang anak. Kelak anak tersebut dikembalikan kepada Sentanu. Anak itu bernama Dewabrata.

Bertahun2 kemudian, Raja Sentanu bertemu dengan seorang wanita. Terpesona oleh kecantikan dan keharumannya, Sentanu meminang wanita bernama Setyawati tersebut. Sang ayah mengajukan syarat: jika Setyawati melahirkan anak laki2, maka anak itu harus menjadi putra mahkota. Sentanu tidak bisa menerima syarat itu karena dia begitu menyayangi Dewabrata. Singkat cerita, Dewabrata berhasil mengetahui penyebab kesedihan sang ayah. Dewabrata pun mendatangi ayah Setyawati. Dewabrata bersumpah, jika Setyawati melahirkan anak laki2 maka anak itu akan dinobatkan jadi raja. Namun ayah Setyawati masih khawatir kelak keturunan Dewabrata akan menggulingkan tahta cucunya. Akhirnya Dewabrata bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya. Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah itu, para dewa menaburkan bunga dan terdengar suara mengelu2kan: "Bhisma... Bhisma...". Sejak itu, Dewabrata dikenal dengan nama Bhisma.

Dari pernikahannya dengan Setyawati, Sentanu memiliki 2 orang putra: Chitrangada dan Wicitrawirya. Ketika Chitrangada tewas dalam peperangan, adiknya dinobatkan menjadi pengganti karena Chitrangada tidak memiliki anak. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara untuk mencari suami bagi putri-putrinya, Bhisma datang untuk mencarikan istri bagi Wicitrawirya yang telah dewasa. Bhisma berhasil mengalahkan lawan-lawannya dan memboyong Amba, Ambali dan Ambalika. Amba sebenarnya kekasih Raja Salwa, namun karena Salwa kalah dari Bhisma, maka Amba harus mengikuti Bhisma. Wicitrawirya akhirnya menikahi Ambali dan Ambalika. Dari Ambali, Wicitrawirya memiliki anak bernama Destarata, sedangkan dari Ambalika, Pandu. Amba tidak menikah dan mendendam pada Bhisma. Setelah melakukan tapa brata, Amba menceburkan diri ke dalam api dan terlahir kembali menjadi Srikandi, yang kelak membunuh Bhisma.

Destarata menikah dengan Dewi Gandari dan menurunkan para Kurawa, sementara Pandu menikah dengan Dewi Kunti dan Dewi Madri, menurunkan para Pandawa. Buku ini menceritakan Kunti dalam bab tersendiri. Sura, kakek Krishna, memiliki seorang putri bernama Pritha. Karena sepupu Sura, Kuntibhoja, tidak memiliki anak, maka Pritha diangkat anak. Sejak itu Pritha dikenal sebagai Dewi Kunti. Suatu ketika datang seorang Rsi bernama Rsi Durwasa dan tinggal cukup lama di kediaman Kuntibhoja. Karena kebaikan Kunti, sang Rsi memberikan mantra untuk memanggil dewa dan memiliki keturunan dengan Dewa tersebut. Kunti yang masih gadis mencoba mantra itu dan Batara Surya pun muncul dihadapannya. Lalu Kunti hamil. Ketika lahir, sang bayi dihanyuntukan di sungai dan ditemukan oleh sais kereta. Anak tersebut adalah Karna.

Pandu yang menikah dengan Dewi Kunti dan Dewi Madri, suatu ketika berburu ke hutan dan memanah seekor rusa jantan. Si rusa ternyata jelmaan seorang Rsi yang sedang bercengkrama dengan istrinya. Dalam keadaan sekarat sang Rsi mengutuk: Pandu akan menemui ajalnya saat olah asmara dengan istrinya. Pandu lalu mengasingkan diri di hutan bersama kedua istrinya. Kunti menceritakan tentang mantra pemberian Rsi Durwasa. Pandu pun meminta kedua istrinya untuk menggunakan mantra itu agar memiliki keturunan. Maka lahirlah Yudhistira, Bima dan Arjuna dari Dewi Kunti, Nakula dan Sadewa dari Dewi Madri. Hingga pada suatu ketika Pandu menemui ajalnya karena bermesraan dengan Dewi Madri. Karena merasa berdosa, Dewi Madri terjun ke dalam api yang membakar suaminya. Para pertapa lalu membawa Kunti dan Pandawa kembali ke Hastinapura.

Pandawa dan Kurawa tumbuh bersama di Hastinapura. Melihat keperkasaan Bima, ketangkasan Arjuna dan seruan penduduk yang mengatakan Yudhistira layak menjadi raja, api kedengkian membakar Doryudhana. Bersama Karna dan Sakhuni, ia merencanakan untuk membunuh Pandawa. Doryudhana berhasil membujuk ayahnya untuk mengirim Pandawa ke Waranawata. Disana Pandawa dan Dewi Kunti di istana yang telah dibangun atas perintah Doryudhana dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Namun penasihat istana, Widura, mengetahui rencana jahat Doryudhana dan memperingatkan Yudhistira. Widura pun telah memerintahkan seseorang untuk menggali terowongan. Maka ketika istana tersebut terbakar habis, Pandawa lari ke hutan melalui terowongan. Rakyat Waranawata mengabarkan pada Hastinapura bhw tempat peristirahatan Pandawa terbakar habis.

Ketika dalam penyamaran, Pandawa mendengar tentang sayembara untuk memperebuntukan Drupadi, putri Raja Panchala. Ketika semua orang gagal, trmsk Karna, muncullah brahmana muda yang tanpa keraguan melepaskan 5 anak panah secara berurutan dan tepat pada sasaran. Brahmana itu adalah Arjuna. Para Pandawa pun menikahi Drupadi.

Atas nasihat Bhisma dan Widura, Destarata membagi kerajaan menjadi 2 ketika para Pandawa kembali ke Hastinapura. Sejak itu para Pandawa memerintah Indraprasta. Melihat Pandawa yang semakin berkuasa dan makmur, Doryudhana semakin iri hati. Sakhuni mengusulkan untuk mengundang Yudhistira bermain dadu sehingga Doryudhana dapat merebut semua yang dimiliki Pandawa tanpa harus berperang.

Yudhistira menerima undangan bermain dadu. Doryudhana meminta taruhan seluruh kekayaan dan kerajaan Yudhistira. Sakhuni-lah yang bermain untuk Doryudhana. Yudhistira kalah. Lalu ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, dirinya sendiri, lalu Drupadi. Kalah. Para Kurawa bersorak. Doryudhana memerintahkan Dursasana menemui Drupadi. Dursasana menyeret Drupadi ke arena. Karna menyuruh Dursasana untuk melucuti pakaian Pandawa dan Drupadi (menurut Karna, semua telah menjadi milik Sakhuni, termasuk pakaian mereka). Drupadi jatuh pingsan. Dursasana segera melucuti pakaian Drupadi. Tapi setiap kali Dursasana melepas pakaian itu, muncul pakaian baru menutupi tubuh Drupadi. Begitu seterusnya hingga Dursasana berhenti. Dengan menahan amarah, Bima mengucap sumpah: "Aku tidak akan diterima di surga sebelum kuremukkan dada Dursasana dan kuminum darahnya yang telah membuat malu wangsa Bharata". Destarata sadar peristiwa ini akan menyebabkan kehancuran keturunannya. Maka ia menyuruh Yudhistira mengambil kembali kerajaan dan semua kekayaannya. Doryudhana mengirim wakilnya sekali lagi untuk mengundang Yudhistira bermain dadu. Yudhistira kalah. Kali ini para Pandawa harus mengasingkan diri di hutan selama 12 th dan hidup menyamar selama 1 th.

Setelah 13 tahun berlalu, Pandawa mengundang para sahabat dan kerabat. Disepakati Drupada mengirimkan pendeta istana Panchala untuk berunding di Hastinapura. Sementara sang pendeta pergi ke Hastinapura, Arjuna pergi ke Dwaraka untuk menemui Krishna. Ternyata Doryudhana juga datang ke Dwaraka. Keduanya ingin mendapatkan bantuan dari Krishna. Krishna meminta Arjuna memilih, dirinya pribadi tanpa senjata atau seluruh pasukan Narayana yang perkasa. Arjuna memilih Krishna meski tanpa senjata. Maka Doryudhana mendapatkan seluruh bala tentara. Meski perundingan perdamaian telah dilakukan beberapa kali, namun Doryudhana tetap menolak memberikan sejengkal tanah pun pada Pandawa. Perang tak dapat dielakkan lagi. Pandawa mengangkat Dristadyumna sebagai Senapati Agung, sementara Kurawa mengangkat Bhisma.

Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pada hari ke-10, Arjuna menyerang Bhisma dengan menempatkan Srikandi di depan. Arjuna menguatkan hati untuk terus menyerang kakeknya. Panah demi panah menghujani tubuh Bhisma. Hampir sekujur tubuhnya tertembus panah Arjuna. Bhisma pun roboh. Lalu tersebar bau harum dan hujan turun membasahi Kurusetra.

Bhisma digantikan oleh Guru Drona. Taktiknya adalah menjauhkan Arjuna dari sang kakak agar Yudhistira dapat diculik. Arjuna ditantang bertarung oleh Raja Susarma dan pasukannya. Pasukan Kurawa lainnya berusaha mendekati Yudhistira. Abimanyu menerobos formasi lawan dengan pasukan Pandawa dibelakangnya. Namun Jayadrata menghadang para Pandawa. Abimanyu terjebak dan bertarung sendirian. Dengan kehebatannya, pasukan Kurawa terpukul mundur. Para ksatria besar Kurawa segera mengepung Abimanyu. Abimanyu terus melawan hingga tewas dikeroyok. Mengetahui kematian putranya, Arjuna bersumpah akan membunuh Jayadrata sebelum matahari terbenam. Dengan bantuan Krishna, Arjuna berhasil memenggal kepala Jayadrata dengan panah yang berasal dari Gandewa, busur Arjuna yang termasyur.

Pertempuran semakin sengit. Bahkan ketika matahari sudah terbenam pun perang masih berlanjut. Di malam hari, Gatotkaca dan pasukan raksasanya semakin kuat. Mereka menyerang Kurawa dengan hebat. Karna akhirnya melepaskan tombak pemberian Batara Indra yang sebenarnya ingin dia gunakan untuk melawan Arjuna. Gatotkaca pun tewas. Perang terus berlanjut. Guru Drona masih menyerang kubu Pandawa bertubi-tubi. Krishna berkata, jika mendengar Aswatama tewas, Guru Drona akan kehilangan semangat hidup. Harus ada yang mengatakan bahwa Aswatama tewas. Bima pun membunuh gajah bernama Aswatama dan meneriakkan kematian Aswatama. Guru Drona membuang senjata dan bersemedi di atas keretanya. Dristadyumna menunaikan takdirnya sebagai pencabut nyawa Guru Drona. 

Setelah Guru Drona gugur, Karna menjadi mahasenapati. Perang dimulai lagi. Bima berhasil memenuhi sumpahnya dengan meremukkan dada Dursasana dan meminum darahnya. Karna bertarung dengan Arjuna dan tewas terkena panah Arjuna. Pada akhirnya Bima bertarung melawan Doryudhana dan berhasil mengalahkannya.

Perang berakhir. Yudhistira yang pada awalnya akan mengasingkan diri di hutan karena kesedihannya akan perang, akhirnya dinobatkan sebagai raja Hastinapura. Kisah Mahabharata ditutup dengan perjalanan para Pandawa dan Drupadi ke pegunungan Himalaya setelah menobatkan Parikesit sebagai raja. Satu per satu dari mereka kelelahan dan akhirnya mati, kecuali Yudhistira yang ditemani seekor anjing.

Sunday, 5 October 2014

Istri dalam Siva Purana

Kedudukan Istri Menurut Siva Purana

Dalam berumah tangga, wanita memiliki peranan penting, dialah sang pengelola rumah tangga
sejati. Dalam sebuah keluarga, tanpa kehadiran seorang wanita, tak akan ada korban suci yang berpahala, oleh karena itulah istri memiliki tugas dan kewajiban yang sangat mulia, dan sangat berat. Barangkali jaman sekarang tak lagi kita bisa menemukan istri yang mampu menjadi wanita suci sesuai perintah agama.
Kitab suci menyatakan, ‘Istri adalah akar dari rumah tangga dan adalah kebahagiaan sebuah rumah tangga, dia adalah sumber dari buah kebahagiaan dan kesemarakan keluarga’ (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.64). Oleh karena itu, seorang istri wajib mendapat penghormatan dalam sebuah keluarga. Bagi seorang suami, istri adalah ratu, dia adalah perwujudan Laksmi, dewi kemakmuran. Kitab suci menyatakan, “Wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayahnya, kakak- kakaknya, suami dan ipar-iparnya yang menghendaki kesejahteraan sendiri. Dimana wanita dihormati, disanalah para dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang berpahala. (Manawa Dharmasastra III.55-56).Untuk menciptakan kedamaian dan kemakmuran dalam keluarga, dibutuhkan kehadiran wanita suci atau istri yang berbhakti kepada suami. Kitab Siva Purana menyebutkan bahwa wanita suci bisa didapatkan melalui pengabdian yang tulus kepada Tuhan (Mahadewa). Seorang istri suci atau wanita suci memiliki perilaku yang sangat mulia. Dalam Kitab Siva Purana, sifat-sifat wanita diklasifikasi menjadi empat kelas, yang utama, menengah, baik dan kurang. Sifat-sifat atau kewajiban wanita suci uraiannya seperti kisah berikut:Setelah dewi Parwati melakukan upacara pamitan kepada kedua orang tuanya, Menaka (Menawati) dan himawan (Himnares), kedua orang tuanya sangat sedih. Untuk itu, Menaka dan Himawan memohon kepada dewa Siva untuk berkenan tinggal di Istana kerajaan himawan beberapa hari lagi, dewa Siva pun mengabulkannya untuk menyenangkan hati raja gunung dan permasisurinya, Menawati.Beberapa hari kemudian, keluarga mempelai perempuan mempersiapkan upacara perjalanan rombongan mempelai laki-laki. Ketika dewi Parvati dan dewa Siva beserta rombongan akan kembali ke Kailasha (kahyangan dewa Siva), seorang wanita brahmana memberikan petunjuk/petuah tentang kewajiban wanita suci kepada Parvati sesuai adat keduniwiaan.Brahmana itu berkata:O Parvati, dengarkanlah kata-kataku dengan penuh kasih yang sesuai dengan kebenaran, yang akan meningkatkan keyakinan di bumi maupun alam setelahnya dan akan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang mau melaksanakannya. Seorang wanita yang suci, akan menyucikan dunia dan akan terberkati senantiasa. Tidak ada lagi hal lain yang paling agung dari hal ini. Parvati, dia yang melayani suaminya dengan penuh kasih dan menganggap-Nya sebagai dewa, akan menikmati kebahagiaan dunia dan akhirat serta pembebasan bersama suaminya itu. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.8-10). Kewajiban seorang wanita yang suci adalah sangat penting dan telah disebutkan dalam Veda dan berbagai kitab Smrti. Tidak ada tugas dan kewajiban lain yang lebih agung daripada kewajiban seorang wanita suci. Seorang wanita yang suci hanya akan mengambil makanan setelah suaminya mengambil makanan terlebih dahulu. Jika sang suami berdiri, maka sang istri juga harus berdiri. Jika ia tidur, maka dia juga harus tidur. Akan tetapi seorang istri yang baik harus senantiasa bangun lebih dahulu dari seorang suami. Dia harus melakukan hal-hal yang berguna untuk suaminya. Dia harus mencintai suaminya tanpa ada rasa penghianatan atau penipuan. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.15-17).Parvati, seorang istri tidak boleh memperlihatkan diri-Nya tanpa perhiasan atau tidak rapi pada suaminya. Dan jika sang suami harus melakukan tugas di tempat yang jauh untuk beberapa waktu maka dia tidak boleh menghias diri-Nya secara berlebihan. Seorang istri yang baik tidak akan pernah menyebut nama suaminya (nama mudanya). Jika sang suami memarahinya, maka dia tidak boleh membalas menyakiti hati suaminya. Bahkan jika dia disakiti dia akan tetap diam dan dengan senang hati hati berkata’Hamba boleh anda bunuh sekalipun. Berkenanlah kepada hamba’. Jika sang suami memanggil, maka dia akan segera meninggalkan pekerjaan yang dilakukannya dan segera menemuinya. Dengan tangan tercakupkan penuh hormat dan kasih dia harus bersujud kepadanya dan berkata demikian. “Tuan berkenanlah mengatakan, untuk apa hamba dipanggil.” Kapanpun jika dipanggil atau diperintahkan padanya maka dia harus dengan senang hati melakukannya. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.19-21).Dia tidak boleh berdiri di pintu utama untuk waktu yang lama. Dia juga tidak boleh pergi ke rumah orang tanpa tujuan yang jelas. Dia tidak boleh mengambil uang suaminya, hanya untuk diberikan kepada orang lain, walaupun jumlahnya sedikit. Tanpa harus diberitahu, dia harus membuat berbagai persiapan untuk melakukan puja sehari-hari. Dia juga harus memperhatikan saat-saat dimana dia bisa melakukan pelayanan sewaktu-waktu kepada suaminya. Tanpa seijin suaminya, dia bahkan tidak boleh pergi melakukan sembahyang suci. Dia harus mengekang keinginan untuk bisa menghadiri keramaian atau pesta pora. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.22-24).Dia tidak boleh mengambil makanan sebelum melakukan persembahan kepada dewa-dewa, leluhur, tamu, pelayan, atau orang suci. Seorang wanita suci yang berhati lembut hendaknya selalu pintar dalam mengelola rumah tangga walaupun dengan bahan-bahan yang terbatas. Dia hendaknya tidak membuang-buang kekayaan dengan sia-sia. Tanpa ijin suaminya, dia tidak boleh melakukan puasa atau ritual apapun juga. Karena tanpa ijin suaminya maka tidak ada pahala yang akan didapatkannya Jika sang suami sedang duduk atau larut dalam suatu pekerjaan, maka dia tidak boleh mengganggu atau menyela untuk melakukan pekerjaan lain. Meskipun seorang suami impoten, menderita, sakit atau gila, sedih atau bahagia, namun seorang suami harus senantiasa dihormati. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.27-31).Tiga hari masa haidnya, dia tidak boleh berhadapan ataupun berbicara dengan suaminya. Dia juga tidak berbicara langsung padanya hingga masa bersihnya tiba kembali. Setelah pemandian sucinya dia harus memandangi suaminya dan tidak boleh memandangi orang lain. Lalu setelah merenungkan suaminya maka dia harus menatap matahari. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.32-33).Seorang wanita suci tidak akan pernah bergaul dengan wanita nelayan, seorang wanita nakal, pertapa wanita, atau seorang wanita rendahan. Dia tidak boleh berbicara pada wanita yang merendahkan suaminya atau membenci suami mereka. Dia tidak boleh berdiri sendiri di suatu tempat dan tidak boleh melakukan permandian dengan tubuh telanjang. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.36-37).…pada saat melakukan hubungan seksual maka dia tidak boleh memperlihatkan kedewasaannya dan inisiatifnya. Dia harus belajar menyukai apa saja yang disukai oleh suaminya. Seorang wanita suci akan merasa senang jika suaminya senang dan sedih jika suaminya sedih. Dia harus senantiasa mendoakan kesejahteraan suaminya. Dia harus senantiasa bijaksana dan penuh pelayanan kepada suaminya meskipun pada saat menderita atau bahagia. Dia harus memiliki rasa hormat dan tidak pernah melenceng atau berbuat serong. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.39-41).Seorang wanita suci tidak akan pernah mengambil tempat duduk lebih tinggi dari sumainya dan tidak akan pernah mendekati orang jahat, dan tidak berbicara pada suaminya dalam keadaan marah atau teragitasi. Dia harus menghindari kata – kata penghinaan, menghindari pertengkaran, dan tidak berbicara dengan nada tinggi atau tertawa dihadapan tetua. Seorang istri yang berhasil membahagiakan suaminya berarti telah membahagiakan dunia. Jika melihat suaminya pulang, maka dia harus bergegas untuk melayani dan memberikan makanan serta air minum padanya, dengan tangan memegang daun sirih, dan mengganti pakaiannya dan menyenangkannya dengan memijit agar lelah suaminya hilang. Dengan kata-kata yang menyenangkan dia harus menghibur dan berusaha menghilangkan penat atau sedihnya. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.46-49).Bagi seorang istri, suami adalah dewa, penasehat, pelindung, kebajikan, tempat suci, dan ritual suci. Dia harus membuang segalanya dan hanya memuja [menghormati] beliau. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.51).Dia yang memakan makanan enak dengan mengabaikan suaminya akan lahir sebagai seekor babi atau kambing liar yang memakan tahinya sendiri. Dia yang menyapa suaminya dengan kata-kata yang pedas atau jahat akan lahir menjadi orang bisu. Dia yang senantiasa iri hati pada istri lain dari suaminya akan mengalami takdir yang tidak baik berulang-ulang. Dia yang memandangi atau melirik laki-laki lain tanpa sepengetahuan suaminya akan menjadi orang bermata satu dan buruk rupa. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.54-56).Tiga anggota keluarga dalam rumah, seorang ayah, ibu, dan suami akan menikmati kebahagiaan di surga karena pahala wanita suci. Seorang wanita yang tidak setia akan menghancurkan keluarga, ayah, ibu dan suaminya dan akan menyebabkan kesedihan dan penderitaannya di dunia dan akhirat. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.59-60).Hanya ia yang dalam rumahnya ada seorang wanita suci yang bisa dianggap sebagai pelaku rumah tangga yang sejati. Sedangkan yang lainnya hanya akan termangsa oleh usia tua dan keserakahan. Sebagaimana tubuh yang disucikan oleh sungai gangga, maka demikianlah segalanya akan tersucikan dengan melihat penampakan wanita suci. (Siva Purana, Rudresvara Samitha III.LIV.67-68).Catatan:- Dalam masyarakat Hindu, khususnya di Bali, tradisi upacara pamitan dan memberikan petuah kepada mempelai masih eksis sampai sekarang, demikian juga ketentuan-ketentuan kewajiban wanita suci, sebagian masih diterapkan dalam keluarga. Untuk wanita yang sedang menstruasi, masih ditaati sebatas tidak melakukan hubungan seks.- Perhatikan sloka 51 “Suami adalah dewa?” dalam film Mahadewa, juga dikisahkan tentang penyalahgunaan ajaran ini yang dilakukan kaum lelaki. Dikisahkan, di hutan Dandaka, beberapa wanita sedang dalam penderitaan batin. Para suami mewajibkan istrinya untuk memujanya, dan menganggap dirinya sebagai dewa.Saat dewa Siva dan Parvati melewati hutan itu, Parwati mendengar tangisan wanita-wanita itu. Parwati mencari asal tangisan dan mendapati para wanita sedang menderita oleh kekeliruan suaminya.Mengetahui hal itu, Dewa Siva menyamar sebagai pemuda, memainkan seruling yang menarik hati, untuk menyadarkan para wanita supaya beriman kepada-Nya, bukan kepada suaminya. Ketika wanita-wanita itu mau pulang dari mengambil air suci, mereka terpikat hatinya akan suara itu, dan mendekati sang pemuda. Mereka menari-nari bersama sang pemuda, menikmati indahnya suara seruling sang pemuda.Para suaminya amat murka, mereka mencari istri-istrinya yang tak kunjung datang. Mereka menemukan istri-istrinya itu sedang menari-nari bersama sang pemuda. Wanita-wanita itu ditarik paksa suaminya.Sang pemuda menyatakan, bahwa apa yang dilakukan mereka selama ini adalah hal keliru. Para wanita itu pun mengiyakan, mereka kemudian melawan dan memberontak suaminya, lalu mendekati sang pemuda. Suami-suami itu amat murka kepada istrinya dan sang pemuda. Dengan kesaktiannya mereka menyerang sang pemuda, akan tetapi semua kesaktian, kekuatan, kehormatan mereka menjadi sirna. Sang pemuda pun berubah wujud menjadi Mahadewa (dewa Siva). Wanita-wanita itu lalu melantunkan lagu pujian untuk Mahadewa, sedangkan suami-suaminya bersujud memohon ampunan kepada mahadewa atas kekeliruan yang dilakukannya selama ini.Kesimpulannya, bagi seorang istri suami adalah dewa, akan tetapi bukan untuk dipuja namun untuk dihormati.

Purana Dalam Kitab Suci Veda

Purana

Semua umat Hindu diseluruh dunia pasti tak asing lagi dengan Kitab Purana, seperti yang sering kita dengar kitab Purana ini berisikan tentang ramalan-ramalan penciptaan bumi beserta isinya, seperti cerita-cerita Dasa Awatara yang sangat melegenda dan umat Hindu percaya dengan segala kisah yang diceritakan dalam kitab Purana tersebut.
Walaupun kita sering dengar kutipan-kutipan cerita dari kitab Purana namun secara jelas mungkin masih banyak yang belum tahu, nah bagi yang belum tahu tentang kitab Purana berikut uraian dan sekaligus menjadi tulisan paling baru di situs ini :
Kitab purana merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan.
Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme(Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga
Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.
Purana juga dikenal dengan nama “pancama Veda” yaitu Veda kelima karena kitab ini memberikan penjelasan ajaran veda di dalam bentuk cerita yang sangat mudah dipahami oleh masyarakat umum khususnya di jaman Kali yuga ini. Di dalam bahasa sansekerta, kata purana berarti “tua atau kuno”. Dalam hal ini kata purana berarti kitab yang menguraikan suatu kejadian di masa lampau yang disajikan di dalam bentuk cerita da ajaran ajran mulia kemanusyaan. Jika ditinjau dari pengertian puitis, kata purana juga bisa diambil dari kata ”purä –nawa” ( kuno-baru ). Dengan kata lain purana adalah suatu kitab yang menguraikan suatu kejadian yang telah terjadi dimasa lampau di dalam bentuk cerita yang berisi ajaran ajaran yang sesuai dengan ajaran Veda ysng selalu baru dan bersifat segar serta tidak pernah membosankan.
Selalu segar dan tidak pernah membosankan maksudnya adalah meskipun jika cerita ini didengarkan atau diceritakan berulang kali, namu kisah kisah di dalam purana selalu akan menarik karena didalam kisah tersebut terklandung nilai rohani yang sangat kuat dan memberikan kepuasan kepada sang roh yang bersemayam di dalam badan.
Secara umum, ketika seseorang membaca atau mendengarkan sebuah novel material atau menulis novel material, facta telah membuktikan bahwa novel tersebut suatu hari akan membosankan si pembaca sehinga pada akhirnya hilang tanpa jejak. Maksimal novel novel sperti itu akan tenar atau tersedia di pasaran selama 100 tahun atau mungkin sedikit lebih dan setelah itu tidak akan laku lagi alias kadaluwarsa. Tetapi purana, meskipun sudah dibacakan dan di dengar oleh orang orang sejak beribu ribu tahun silam, namun kisah di dalam purana tidak pernah membosankan para pembaca yang serius untuk mempelajari Purana.
Mereka yang dengan serius untuk mempelajari purana dibawah bimbingan yang benar akan selalu mendapat keinsapan baru yang dikupas dari kalimat kalimat di dalam purana. Keinsapan baru bukan berarti menemukan teory baru seperti para ilmuwan modern tetapi suatu hal yang sebenarnya sudah ada namun belum pernah dirasakan atau dipahami oleh si pembaca. Hal ini disebabkan oleh kekuatan rohani sang penulis. Selain itu, hal yang paling utama yang menyebabkan purana tidak pernah kadaluwarsa adalah karena cerita ini mengandung kegiatan tuhan yang maha kuasa yang selalu bersifat segar dan baru. Meskipun yang maha kuasa merupakan kepribadian tertua atau orang pertama yang ada di alam semesta namun beliau selalu segar.
Di dalam kitab Brahma samhita diuraikan “advaitam acyutam anädim ananta-rüpam ädyam puräna-purusam nava-yauvanam ca.” “Beliau adalah tiada duanya, tidak pernah gagal, tanpa awal, yang memiliki bentuk yang tak terhinga, awal dari segala sesuatu dan Meskipun beliau adalah kepribadian tertua ( purana purusa) namun beliau selalu segar dan kelihatan muda ( nava yauvanam ).”
Berdasarkan beberapa sumber termasuk kamus ‘amara kosa’, secara umum purana menguraikan 10 pokok bahasan namun ada beberapa purana yang hanya menguraikan 5 dari sepuluh pokok bahasan tersebut. Menurut Matsya Purana bab 53 ayat 65, suatu kitab bisa disebut sebagai purana jika kitab tersbut menguraikan paling tidak lima pokok bahasan sebagai berikut :
Sargasca pratisargas ca
vamso manvantaräni ca
vamsyänucaritam caiva
puränam panca-laksanam
lima poko bahasan yang memenuhi syarat sebagai purana adalah :
1. proses ciptaan (sargah)
2. peleburan (pratisargah)
3. silsilahketurunan raja raja yang mulia (vamsah)
4. masa pemerintahan para manu (manvantara)
5. kegiatan para raja yang agung (vamsya anucarita)
Ketika kitab menguraikan kelima pokok bahasan, maka kitab tersebut bisa dimasukan kedalam katagory upa-purana. Jika sebuah purana mengandung lebih dari lima pokok bahasan ini, yaitu sepuluh pokok bahasan maka purana tersebut digolongkan kedalam golongan maha-purana. Sepuluh pokok bahasan purana diuraikan didalam Srimad Bhagavata Purana skanda dua belas bab tujuh sloka nomor sembilan dan sepuluh sebagai berikut :
sargo ‘syätha visargas ca
vrtti-raksantaräni ca
vamso vamsänucaritam
samsthä hetur apäsrayah
dasabhir laksanair yuktam
puränam tad-vido viduh
kecit panca-vidham brahman
mahad-alpa-vyavasthayä

Para otoritas dalam sastra mengerti bahwa purana mengandung sepuluh pokok bahasan. Beberapa ahli menguraikan bahwa maha purana menguraikan sepuluh sedangkan yang menguraikan kurang dari sepuluh di sebut alpa-purana atau upa-purana. Sepuluh pokok bahasan yang disebutkan didalam sloka diatas adalah sebagai berikut:
1.Proses ciptaan alam semesta ( sargah )
Proses ciptaan ini maksudnya adalah proses ciptaan yang diciptakan oleh tuhan yang maha esa Sri Visnu atau Narayana. Pada awalnya yang ada hanya Kepribadian tuhan yang maha esa, Sri Visnu. Kemudian beliau menciptakan unsur dari alam semesta material. Saat ini yang tercipta adalah bahan bahan dari alam semesta yaitu mahat tatva termasuk panca maha bhuta.

2. proses ciptaan kedua ( visarga )
Proses ciptaan kedua yang dimaksud disini adalah ciptaan yang dilakukan oleh Deva Brahma. Pertama tama tuhan yang maha esa Sri visnu menciptakan unsur dasar dari alam semesta (sarga). Beliau juga menciptakan deva brahma yang lahir dari bungan padma yang keluar dari pusar padma beliau. Karena itu Sri Visnu juga dikenal dengan nama “Padma nabha”. Kemudian deva brahma yang dikenal sebagai Vidhi (hyang Vidhi) yang artinya makhluk hidup pertama yang diciptakan oleh yang maha kuasa, mulai merancang unsur unsur tersebut kedalam berbagai bentuk dibawah bimbingan yang maha kuasa, Sri Narayana.
Seperti halnya bahan bangunan sudah disediakan oleh alam namun para arsitek mengolah bahan tesebut menjadi bentuk sebuah rumah dan sebagainya. Seperti itu pula deva brahma menciptakan alam semesta dari bahan bahan yang sudah disediakan oleh tuhan. Proses ciptaan kedua yang dilakukan oleh deva brahma yang di sini disebut Visarga.
3. Pemeliharaan dan perlindungan alam semesta beserta isinya (Vrtti)
Setelah alam semesta diciptakan kedua kalinya atau dengan kata lain setelah alam semesta ditancang sedemikiaan rupa oleh deva brahma, maka alam semesta tersebut perlu dipelihara. Didalam kehidupan sehari hari kita mengalami bahwa untuk memelihara sesuatu adalah hal yang paling sulit. Untuk membuat dan menghancurkan adalah hal yang tidak begitu sulit tetapi untuk memelihara memerlukan keahlian dan kesabaran. Hanya tuhan yang mampu untuk memelihara, karena itu beliau mengexpansikan diri beliau sebagai Ksirodakasayi Visnu (paratmatma) dan memelihara semua makhluk hidup. Kepribadian tuhan dalam bentuk ini dikenal dengan nama Sri Visnu di dalam Tri Murti. Di dalam Upanisad, ada sebuah sloka yag sangat umum yang menguraikan pemeliharaan yang dilakukan oleh tuhan kepada para makhluk hidup. “ nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam vyadadati kaman” beliau seorang yang memenuhi keperluan dari semua makhluk hidup di dalam berbagai bentuk. Diulas dari kata narayana sendiri, kata tersebut bisa diartikan sebagai berikut, “narasya ayanam pravrttih yasmat sah iti narayanah” “Narayana adalah beliau yang merupakan tempat perlindungan ( ayana) bagi para makhluk hidup atau beliau yang merupakan sumber dari makhluk hidup.

4. Perlindungan (posana)
Posana dengan Vrtti mempunyai kemiripan yaitu sama sama memelihara dan melindungi. Tetapi didalam hal ini, proses perlindungan yang diuraikan di dalam purana maksudya adalah perlindungan yang diberikan oleh tuhan kepada para penyembahnya yang murni. Sedangkan Vrtti merupakan perlindungan secara umum kepada setiap makhluk hidup seperti yang diuraikan di atas.
Seperti misalnya Prahlada yang dilindungi oleh Sri Narasimha dari cengkraman raksasa Hiranyakasipu. Uraian ini disebut Posana di dalam purana. Kenapa perlindungan kepada penyembah murni dipisahkan dengan perlindungan secara umum karena penyembah murni memiliki peran yang sangat penting di dalam kemunculan tuhan ke bumi ini sebagai avatara. Tujuan tuhan beravatar bukan hanya untuk menegakkan dharma dan menghancurkan adharma tetapi hal yang lebih penting dari itu semua adalah untuk memuaskan keinginan penyembah beliau yang tulus dan murni.
5. Penyebab kehidupan yang berupa keinginan material (hetu)
Para makhluk hidup ( sang roh ) berkeliling dari satu badan yang satu ke badan yang lain di sebabkan oleh keinginan mereka yang material untuk menikmati di dunia mateial ini. Namun sangat disayangkan sekali bahwa dunia material ini bukanlah tempat untuk kenikmatan yang sejati bagi sang roh.
Seperti halnya ikan tidak akan bisa menikmati kemewahan daratan sama halnya sang roh tidak akan bisa menikmati kemewahan hidup di dunia material karena kedudukan dasar dari sang roh adalah sebagai percikan terkecil tuhan yang maha esa seperti uraian bhagavad gita“ mama eva amsah jiva loke jiva bhuta sanatanah.” Karena itu untuk mencapai kenikmatan sejati, sang roh harus kembali pulang ke alam tuhan. Dengan kata lain, mereka harus mencapai moksa. Jadi hetu ( penyebab) mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kehidupan semua makhluk hidup yang sangat berhubungan erat dengan hukum karma phala.
6. Masa pemerintahan Manu (manvantara/antarani)
Di dalam satu kalpa ( satu hari bagi deva brahma) diuraikan terjadi pergantian manu sebanyak 14 kali. Satu hari bagi brahma diuraikan di dalam bhagavad gita sebagai berikut :
sahasra-yuga-paryantam
ahar yad brahmano viduh
rätrim yuga-sahasräntäm
te ‘ho-rätra-vido janäh
“Berdasarkan perhitungan manusya, seribu kali perputaran jaman ( satya, treta, dvapara, kali yuga) merupakan satu hari bagi brahma. Dan satu malam juga mempunyai masa yang sama”.
Berdasarkan perhitungan di dunia ini, setiap kali yuga berlangsung selama 432.000 tahun, dvapara yuga selama 864.000 tahun, treta yuga selama 1.296.000 tahun dan satya yuga 1.728.000 tahun. Jika keempat jaman ini berputar sebanyak seribu kali maka itu merupakan satu hari bagi dewa brahma dan satu malam juga mempunyai waktu yang sama. Jika dipikirkan berdasarkan pemikiran kita yang terbatas, kelihatannya ini hanyalah sekedar suatu hayalan. Mana mungkin ada orang yang hidup sekian lama? Pemikiran seperti ini sama seperti pemikiran seekor nyamuk yang hidup selama satu mingu. Kalau misalnya kita bisa berbicara dengan si Nyamuk dan bilang bahwa kami manusya hidup 1 x 4 x 12 x 100 mingu, maka nyamuk itu ngak akan percaya dengan pembicaraan kita karena mereka tidak perah mengalami hidup sepanjang itu. Bagi kita mungkin seratus tahun sudah cukup lama tapi di planet lain, seratus tahun di bumi ini bagi mereka hannya sekejap mata. Kalkulasi dari kehidupan dewa brahma ini bukan kalkulasi oleh seorang yang berspekulasi pikiran tetapi kalkulasi yang dibenarkan oleh berbagai sastra paling tidak berdasarkan bhagavad gita yang merupakan himpunan inti sari dari semua ajaran kitab suci Veda.
Berdasarkan uraian sastra yang sama, saat sekarang ini, pemerintahan berada di bawah Vaivasvata manu yang merupakan manu yang ke-7 dari empat belas manu. Uraian manu manu lainya diuraikan lebih mendalam didalam purana. Karena purana menguraikan kejadian di dalam berbagai pemerintahan manu, maka kadang kadang ada beberpa cerita yang tidak cocok antara purana yang satu dengan purana yang lain . Seperti contoh, di dalam beberapa purana mungkin diuraikan bahwa begitu pariksit dikutuk oleh brahmana Srengi, pariksit menjadi marah dan mulai membangun bangunan dari batu untuk menghindari masuknya ular taksaka sedangkan di purana lain diuraikan bahwa pariksit maharaj menerima kutukan itu dan duduk di tepi sungai Ganga mendengarkan Bhagavata purana dari Sri Sukadeva Gosvami.
Menurut para acarya dan resi penerima wahyu Veda menguraikan bahwa dalam hal ini, perbedaan terjadi karena kejadian tersebut terjadi didalam waktu berbeda. Dengan demikian, kepribadian pariksit pun merupakan kepribadian berbeda antara yang satu dengan yang lain dilihat dari sudut pandang perbedaan manvantara dan perbedaan yuga. Kepribadian yang berbeda tetapi mengambil posisi yang sama. Seperti misalnya permainan drama, saat ini si A berperan sebagai pariksit dan besok si B yang berperan sebagai pariksit. Karena karakter yang berbeda maka aksi pun sedikit berbeda namun tujuan dari kemunculan kepribadian itu semua adalah sama yaitu untuk memberikan jalan kepada yang maha kuasa untuk ikut berperan di dalam suatu kejadian untuk menegakan dharma. Perbedaan seperti ini biasanya terjadi didalam purana yang berbeda judul dan biasanya tidak di dalam purana dalam satu judul.
7. Uraian dynasty raja raja yang agung dan kegiatannya (Vamsänucarita)
Vamsanucarita adalah kisah para raja yang memerintah di berbagai tempat di bumi ini. Ini juga menyangkut keterunan dan kegiatan dari masing masing keturunan raja raja yang mulia tersebut.

8.Peleburan (samsthä)
Ada beberapa jenis peleburan. Peleburan pertama disebut dengan kanda pralaya yaitu peleburan yang terjadi di malam hari bagi deva brahma. Saat ini peleburan yang terjadi hanya dari planet bumi sampai ke tujuh susunanan planet bagaian bawah sedangkan tujuh susunan planet keatas tidak akan terlebur. Kanda pralaya terjadi setiap malam hari brahma tiba dan kemudian setelah deva Brahma terbangun dari tidur di pagi hari ( setelah tertidur selama seribu perputaran yuga ) maka beliau melihat segala sesuatu telah terlebur dan beliau mulai menciptakan lagi bagian alam semesta yang terlebur tersebut sehinga para makhluk hidup memilik tempat untuk hidup kembali.
Kemudian yang kedua adalah maha pralaya. Maha pralaya terjadi setelah deva brahma mencapai umur 100 tahun. Ketika deva brahma mencapai umur seratus tahun, maka beliau harus mengakhiri post beliau sebagai deva brahma dan kembali pulang ke alam rohani melayani kepribadian tuhan yag maha esa Sri Narayana. Sat ini terjadi peleburan seluruh alam semesta yang berada di bawah tinjauan deva brahma masing masing. Kedua peleburan bhuana agung ini dilakukan oleh deva siva yang berfungsi sebagai pelebur di dalam Tri Murti.
Itu merupakan peleburan di dalam bhuana agung alam semesta. Kemudian purana juga menguraikan peleburan bhuana alit yang juga dibagi menjadi dua. Peleburan pertama (khanda pralaya bagi bhuana alit) adalah perpindahan sang roh dari masa kanak kanak ke masak devasa dan ke masa tua. Berdasarkan sastra, perubahan ini termasuk kedalam katagory perpindahan badan karena badan yang sebelumnya sudah diangap meningal. Hal ini bahkan dibuktikan oleh para ilmuwan secara ilmiah bahwa setiap 7 tahun, tidak satu sel pun yang menyusun badan kita masih hidup. Dengan demikian sel penyusun badan kita yang sekarang adalah berbeda dengan sel penyusun badan kita tujuh tahun yang lalu. Srimad Bhagavad gita juga menguraikan :
Dehino ‘smin yathä dehe
kaumäraà yauvanaà jarä
tathä dehäntara-präptir
dhéras tatra na muhyati
sang roh yang berada di dalam badan secara terus menerus berpindah dari masa kanak kanak ke masa remaja dan dari masa remaja ke usia tua. Sama halnya, sang roh juga berpindah dari badan yang satu ke badan yang lain setelah meningal. Orang bijaksana tidak terbingungkan oleh perganttian seperti ini”.
Kemudian maha pralaya bagi bhuana alit adalah seperti bagian terakhir dari sloka di atas yaitu perpindahan dari satu badan ke badan yang lain setelah meninggal dunia. Sang roh akan menerima badan sesuai dengan keinginan yang mereka kembangkan selama berada di badan sebelumnya. Maka dari itu ada proses punar janma. Kadang kadang sang roh menerima badan binatang, kadang kadang menerima badan tumbuh tumbuhan dan kadang kadang menerima badan manusya dan bahkan kadang kadang sebagai apsara dan gandharva ( bidadari bidadara ) dan bahkan kadang kadang sebagai para deva. Ini terantung pada perkembangan keinginan dan aktivitas di dalam badan sebelumnya. Namun di dalam hal ini, badan halus yang sama ( Pikiran, kecedasan dan ego ) masih selalu bersama sang roh di dalam setiap badan. Yang terlebur hanyalah badan kasar yang tersusun dari lima unsur alam.
9.pembebasan (mukti/moksa/samstha)
Pada dasarnya, pembebasan atau mukti juga merupakan proses peleburan (samstha ) namun di dalam level yang lebih halus. Peleburan (Samstha ) yang termasuk kedalam katagory moksa adalah peleburan yang terjadi pada badan kasar dan badan halus. Dengan demikian sang roh mencapai kedudukannya yang sejati. Sastra menguraikan “ muktir hitva anyatha rupa svarupena samasthitih”, mukti adalah proses dimana seseorang meningalkan berbagai bentuk badan di dunia material ini ( anyatha rupa ) dan mengambil bentuk sejatinya di dunia rohani ( sva-rupa ). Kedudukan sang roh yang sejati di dunia rohani adalah sebagai pelayan yang maha kuasa, Sri Narayana. Ada berbagai rasa yang bisa dikembangkan di dalam hubungan seseorang denga tuhan.
Moksa bukan hanya berarti menyatu dengan tuhan. Menyatu dengan tuhan adalah pengertian yang masih dangkal tentang moksa atau dengan kata lain tahapan tersebut adalah tahapan awal dari moksa. Menyatu dengan tuhan maksudnya adalah menyatu dengan brahma Jyoti ( sinar suci tuhan). Kalau kita berbicara tentang sinar suci, maka mesti juga mengacu pada sumber dari sinar suci tersebut yang juga merupakan kepribadian yang maha suci. Kepribadian berarti berbentuk pribadi bukan tanpa bentuk. Seperti sinar matahari, adanya sinar matahari karena adanya bola matahari. Sama halnya adanya sinar suci maka mesti ada sumber yang berbentuk yang bersifat suci.
Menyatu dengan brahman adalah awalan dari kesempurnaan di dalam kehidupan rohani. Kesempurnaan tertingi di dalam kehidupan rohani adalah kembali ke dalam bentuk sejati ( svarupena samasthitih) dan melakukan pengabdian kepada yag maha kuasa. Ketika seseorang kembali ke dunia rohani atau alam tuhan maka mereka tidak akan kembali lagi ke dunia material ini yang penuh dengan penderiataan sedangkan kalau seseorang yang hanya mencapai tingkatan menyatu dengan brahman ( sinar suci tuhan ) masih ada kemungkinan seseorang untuk kembali ke dunia material ini. Tingkatan brahman, seseorang hanya akan mencapai sifat “Sat” yang berarti kekal, namun sifat “cid dan ananda” ( pengetahuan dan kebahagian ) hanya akan bisa dicapai di dalam alam rohani bukan di dalam sinar suci.
Sastra juga menguraikan bahwa moksa merupakan tujuan dari dharma. “ moksa artham jagadhitaya ca iti dharmah
10.Tempat perlindungan yang utama (apasraya)
Apasraya atau juga kadang kadang di sebut dengan ‘asraya’ merupakan pokok bahasasan yang paling penting di dalam semua purana karena ini merupakan tujuan kehidupan rohani. Tempat perlindungan yang paling tingi adalah kepribadian tuhan yang maha esa. Srimad Bhagavata Purana skanda kedua bab sepuluh sloka nomber tujuh menguraikan :
äbhäsas ca nirodhas ca
yato ‘sty adhyavasiyate
sa äsrayah param brahma
paramätmeti sabdyate
“ kepribadian yang satu yang dikenal sebagai kepribadian yang paling utama atau roh yang utama yag bersemayam di dalam hati setiap makhluk hidup merupakan sumber dari seluruh manifestasi semesta, juga sebagai wadah alam semesta serta sebagai akhir dari alam semesta. Dengan demikian beliau adalah sumber asli yang utama dan merupakan kebenaran mutlak”.
Di dalam veda diuraikan bahwa kepribadian yang merupakan sumber segala sesuatu adalah Narayana. Urian tersebut adalah sebagai berikut :
candrama manaso jatas caksoh suryo ajayata; srotradayas ca pranas ca mukhad agnir ajayata; narayanad brahma jayate, narayanad rudro jayate, narayanat prajapatih jayate, narayanad indro jayate, narayanad astau vasavo jayante, narayanad ekadasa rudra jayante.
” Deva bulan, candra, berasal dari pikiran Narayana. Deva matahari, Surya, berasal dari mata padma Sri Narayana, deva pengontrol pendengaran dan nafas kehidupan berasal dari Narayana. Deva api, Agni, berasal dari mulut padma Narayana, Prajapati dan deva brahma berasal dari Narayana, Indra berasal dari Narayana, delapan vasu berasal dari Narayana,sebelas rudra yang merupakan inkarnasi dari deva siva berasal dari Narayana, dua belas aditya juga berasal dari narayana”.
Uraian lain dari bagian kitab atharva veda juga mendukung pernyataan tersebut diatas sebagai berikut :
narayana evedam sarvam yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko narayanah
na dvitiyo’sti kascit
sa visnur eva bhavati
sa visnur eva bhavati
ya evam veda ity upanisa
Jadi berdasarkan sumber sumber diatas, menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Narayana adalah sumber segala sesuatu yang merupakan kepribadian yang paling utama, kepribadian tuhan yang maha esa yang dikenal dengan sebutan ‘brahman’ oleh para yogi, ‘paramatma’ oleh para jnani dan ‘bhagavan’ oleh para bhakti yogi. Ini merupakan keputusan dan kesimpulan kitab suci yang otentik. Pernyataan apapun yang dinyatakan tanpa dasar sastra maka pernyataan tersebut tidak bisa dipakai dasar argument karena pernyataan tersebut sudah pasti memiliki kekurangan karena orang yang berpendapat sendiri tidak sempurna. Namun sastra Veda dan berbagai suplementnya merupakan sabda brahman atau merupakan wahyu tuhan yang ditulis oleh para resi yang mulia seperti Maha resi Vyasadeva dan lain lain.