Saturday, 1 March 2014

Ramalan Jayabaya Keempat

Ramalan Keempat

majapahit
“Kejajah saumur jagung karo wong cebol kepalang”
8 Maret 1942 Balatentara darat, laut, dan udara Dai Nippon dan pasukan sipil bunga Sakura yang berani mati dan selalu menang dalam pertempuran melawan bangsa Barat mendarat di segenap penjuru wilayah Nusantara. Lunaslah ramalan Jayabaya keempat, “kejajah saumur jagung karo wong cebol kepalang”. Tentara Kerajaan Belanda tidak kalah gagah-berani menghadapi pasukan dari negeri Asia yang pernah menaklukkan Manchuria, wilayah kerajaan Tsar Rusia pada 1904-1905.
Semangat tentara kerajaan masih kalah dengan tentara kekaisaran Matahari Terbit, Dewa Amaterasu berpihak pada sang penyerbu dari Utara. Sejak masa kuno orang-orang di Nusantara sudah diperingatkan oleh nenek-moyang agar selalu waspada terhadap arah Utara, karena dari sanalah musuh datang menyerang, dari Utara juga bencana bakal datang di Tanah Jawa. Oleh sebab itu ada sedikit peninggalan warisan leluhur sejak seribu tahun silam atau masa Prabu Jayabaya dari kerajaan Kediri bertakhta, yakni, “jangan membikin tungku atau luweng untuk memasak mulutnya menghadap ke Utara.” Satu lagi, “jangan membuat kakus atau wc yang posisi orang yang mendudukinya sampai menghadap ke arah Utara.”
Bahkan seorang pujangga masyhur Nusantara menulis soal arus balik dari Utara yang terus mengalir ke Selatan: ilmu pengetahuannya, budayanya dan barang-barang dagangannya. Sebaliknya di masa keemasan Majapahit, dan bahkan sejak jaman kerajaan Srivijaya arus mengalir ke Utara: ilmu pengetahuan, budaya, dan barang-barang produk unggulannya.
Hinomaru berkibar di seluruh Pantai Timur benua Asia sampai ke lautan Pasific di Timur Papua. Terbentuklah garis pertahanan militer yang sangat lebar dan sulit dijaga dari serbuan pasukan Sekutu yang dipimpin negeri Paman Sam.
Berturut-turut hengkang dari wilayah koloni atau jajahannya: Prancis di Indocina, Belanda di Hindia Belanda, Inggris di Malaya, dan Singapura. Bangsa Jepang berhasil mengubah peta politik dunia, khususnya di Asia. Prabu Jayabaya sudah mengidentifikasi bangsa cebol kepalang ini seribu tahun yang lalu bakal menjadi superpower di bidang militer. Dalam pandangan Jawa yang kecil akan mengalahkan yang besar, orang cebol kepalang atau bertubuh pendeklah yang bakal mengalahkan orang-orang besar dari Barat.
Pribumi Nusantara yang terpuruk melata di bahwa kaki bangsa Barat selama tigaratus limapuluh tahun mendadak sontak dibangunkan dari tanah dengan didikan pasukan Jepang yang keras dan tak kenal ampun. Senjata mulai diberikan kepada Pribumi yang mau berjuang bersama Jepang untuk menghadapi bangsa Barat atau Sekutu. Korban selama masa pendidikan militer Jepang berjatuhan, kesengsaraan hidup melanda rakyat di segenap wilayah Nusantara. Kelak buah kesengsaraan itu yang diawali hengkangnya bangsa Barat membikin Pribumi harus berdiri di atas kaki sendiri di atas tanah tumpah darah negeri sendiri dan memerintah bangsa sendiri, semua itu dapat ditempuh dengan merebut kemerdekaan dan kedaulatan ibu pertiwi Nusantara.
Dai Nippon diramalkan menjajah Nusantara selama seumur benih jagung dapat disimpan, tiga setengah tahun! Dai Nippon yang bergabung dengan Jerman Hitler masih terus berjuang sendiri dengan ulet dan tekun. Sekutu merasa biaya militer sudah terlampau besar dikeluarkan di medan Eropa menghadapi Jerman dan sekutunya. Untuk menaklukkan pasukan Dai Nippon yang memiliki garis pertahanan begitu panjang di Asia Timur dan sebagian kepulauan di Pasifik pada akhirnya Sekutu atau Amerika Serikat memilih menggunakan cara ekonomis dan praktis: meledakkan bom nuklir di jantung wilayah Jepang. Walhasil pemenang perang dunia kedua yang sejati adalah senjata nuklir dan bukan Amerika Serikat. Pasukan Amerika tidak mati-matian dalam mengalahkan Jepang dengan cara yang umum dan terhormat.
Jepang tidak sepenuhnya kalah di medan peperangan akan tetapi kalah karena atas instruksi pimpinan tertingginya Kaisar Jepang.
Bangsa cebol kepalang itu selama menduduki Jawa dan Nusantara menghadapi lawan-lawan tangguhnya: partai komunis Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, partai sosialis, partai nasionalis, dan orang-orang Islam progresif lainnya, dan tentu saja segenap rakyat Nusantara. Segenap komponen perlawanan itu telah memilih pemimpin mereka: Bung Karno. Bung Karno tidak terang-terangan memusuhi Jepang, akan tetapi mengambil taktik berpijak di dua tempat sekaligus. Kaki kiri berada bersama pasukan Dai Nippon, sementara kaki kanannya bahu-membahu melawan Jepang dengan berbagai cara bersama pejuang Pribumi lainnya.
Bung Karno tahu siapa-siapa yang berjasa dalam merebut kemerdekaan, orang komunis, orang nasionalis, dan orang sosialis, dan orang Islam dan seterusnya.
Dai Nippon menyerah kepada bom nuklir milik Amerika Serikat pada 14 Agustus 1945. Pemenang perang dunia kedua lainnya Sovyet Uni dedengkot negeri komunis pertama di dunia rupanya tidak dapat hidup berdampingan secara damai dengan negeri kapitalis lainnya, karena sudah sejak manifes komunis diluncurkan pada abad kedelapan belas hantu komunis tidak pernah ditolerir oleh paham lain di dunia ini. Sasaran tembak Amerika adalah negeri komunis Soviet Uni dan berakibat timbulnya Perang Dunia Dingin. Dua ideologi mengelompokkan diri masing-masing dengan memilih salah satu pihak. Slogan Amerika lebih keras lagi, “berkawan dengan kami memusuhi komunis atau menjadi musuh besar kami.” Tidak adanya pilihan netral sama sekali.
Imbas Perang Dunia Dingin itu sangat mewarnai kemerdekaan yang akhirnya dikumandangkan oleh Penyambung Hati Rakyat Indonesia: Soekarno didampingi M. Hatta. Semasa pendudukan Jepang keduanya sudah sering menyusun strategi bersama menghadapi masa depan. Mereka dalam menyikapi Perang Dunia Dingin mengambil sikap berlawanan. Bung Karno bersikap Netral sementara Hatta memihak memusuhi komunis. Dua peran antagonis dari kedua proklamator RI itulah yang pada akhirnya melahirkan drama-drama perang kemerdekaan yang memilukan. Bangsa sendiri bertempur dengan sesama saudara sendiri.

Perang saudara antar bangsa sendiri sejak perang kemerdekaan ternyata terus membesar dan puncak klimaksnya termaktub dalam ramalan Jayabaya kelima, “pitik tarung sak kandang.”
Baca juga Artikel "Ramalan Jayabaya Kelima"

Ramalan Jayabaya Kelima

Ramalan Kelima

Sabda Palon Noyo Genggon Majapahit
“Pitik tarung sak kandang”
Pada 30 September 1965 di lapisan stratosfir langit malam, pada radius tiga kilometer dari kraton Sri Aji Jayabaya, para penduduk menyaksikan “lintang kemukus” bergerak pelahan ke arah utara. Benda langit cerah bersinar persis pesawat angkasa luar yang diidentifikasi selama berabad “lintang kemukus” yang bergerak lambat di langit itu menjadi pertanda datangnya peristiwa besar di jagad manusia.
Malam-malam perburuan 20 juta anggota komunis di Nusantara mulai dicanangkan. Partai komunis ketiga terbesar di dunia berada dalam kepungan negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sepuluh tahun yang silam kaum komunis berhasil menempati anak tangga keempat dalam pemilu paling demokratis di negeri Pancasila, suatu sintesis ideologi-ideologi yang ada di gelanggang politik dunia dicetuskan Bung Karno, penyambung hati rakyat Indonesia.
Sri Aji Jayabaya seorang putra dari cinta sejati Dewi Sekartaji dan Inu Kertapati, kedua remaja pilihan ini adalah putra mahkota dari dua kerajaan di tepi sungai Brantas. Dewi Sekartaji seorang putri raja Amisena dari kerajaan Daha/Kediri. Sedangkan Inu Kertapati atau lebih termasyhur disebut Panji berasal dari kerajaan Jenggala, putra mahkota dari raja Lembu Amilanur. Silsilah kedua putra mahkota ini adalah cucu Prabu Erlangga dari hasil perkawinan dengan para selir. Sedangkan paramesywari Erlangga melahirkan seorang gadis bernama Dewi Sanggramawijaya atau lebih dikenal Dewi Kilisuci. Dewi Kilisuci tidak dapat menggantikan Erlangga menduduki takhta, maka kerajaan dibelah menjadi dua, Daha/Kediri dan Jenggala. Perkawinan kerajaan yang mereka jalani sebelumnya penuh dengan drama percintaan paling dikenang selama berabad oleh penduduk Jawa bagian Timur.
Dewi Sekartaji dan Inu Kertapati yang belum bertemu satu sama lain sempat menolak perjodohan dua kerajaan atas diri mereka. Dewi Sekartaji mengembara bertahun-tahun, demikian pula Inu Kertapati, keduanya remaja paling cantik dan paling tampan di kerajaan Daha dan Jenggala. Singkatnya mereka akhirnya bertemu di pulau Dewata dan saling jatuh cinta satu sama lain. Perkawinan pun berlangsung meriah, dua kerajaan digabungkan, dan dari hasil cinta sejati mereka lahirlah seorang manusia unggul Sri Aji Jayabaya yang kelak marak menjadi raja kerajaan Kediri. Dalam masa pemerintahannya sastra dan seni berkembang luar biasa pesatnya. Perkataan yang berwujud ramalan-ramalan dari segenap cerdik-pandai di seluruh negeri dikumpulkan dan dipilih yang terbaik untuk dipersembahkan kepada yang mulia Sri Aji Jayabaya. Dengan bahan melimpah itulah sang raja besar itu mempublikasikan ramalan kelima “pitik tarung sak kandang” untuk menggambarkan perang saudara masa depan di tanah Jawa.
Gerakan september 1965 memicu pertarungan dua ideologi yang bertentangan, di satu sisi kubu materialis, yang diwakili oleh 20 juta komunis, di sisi lain terdapat kubu idealis, yang diwakili 60 juta muslim. Kaum komunis menggunakan sistem filsafat materialisme dialektis. Kaum muslim masuk kubu idealis. Jika kedua sistem itu berhadapan dalam realitas kehidupan maka yang terjadi adalah pertentangan paham, tidak kurang-kurangnya Bung Karno berusaha mendamaikan pertentangan komunis dan Islam dalam wadah Nasakom, lebih lanjut lagi di forum legislatif dibentuk kabinet “gotong-royong”. Usaha kecil Bung Karno yang memiliki visi luar biasa sejak 1926, berusaha menghindarkan terjadinya “pitik tarung sak kandang”. Bung Karno sangat menguasai ramalan Sri Aji Jayabaya tersebut.
“Pitik tarung sak kandang” artinya ayam peliharaan yang setiap pagi dan petang berada dalam ruangan yang sama. Ayam dalam satu ruangan itu setiap hari hidup rukun di luar ruangan. Kandang di sini bukan kandang yang rapat, ayam yang dipelihara penduduk di Jawa biasanya dibuatkan pijakan-pijakan bambu atau kayu untuk tidur si ayam. Ayam tersebut bebas keluar masuk ruangan kapan saja atas kemauan sendiri. Mereka berada dalam rumah yang sama dan hidup rukun. Sangat jarang terjadi ayam dalam satu “kandang” saling berkelahi di dalam kandangnya. Bahkan tidak pernah terjadi perkelahian ayam dalam kandang bebasnya itu. Perkelahian kecil biasanya rebutan tempat “mangkring” yang kuat, ayam dewasa, memilih berada di depan. Ayam muda oleh pemiliknya dipisahkan, dikurung tersendiri.
Dalam kandangnya puluhan ayam itu tidak pernah berkelahi karena mereka hanya berkumpul pada petang hari untuk mulai tidur malamnya yang berlangsung hingga subuh. Saat mereka terbangun dan keluar kandang itulah sang pemilik menjamu santapan pertama, selanjutnya terserah anda mau cari makan di mana.
Dalam enam bulan saja komunis dibantai lawan-lawannya, segenap peranan mereka telah disingkirkan dari pemerintahan, pers, dunia pendidikan dengan memenjarakan tanpa proses pengadilan. Jutaan pegawai aparat pemerintah Bung Karno tidak perlu dibayarkan pensiun mereka, walau sudah bekerja sejak perang kemerdekaan. Sangat ekonomis!
Pembantaian kaum komunis yang tengah terjadi itu adalah hasil provokasi oleh oknum yang dimaksud dalam ramalan keenam sri Aji Jayabaya: “kodok ijo ongkang-ongkang”, yang berkuasa tepat selama empat windu. “Kodok ijo ongkang-ongkang” dibantu oleh pihak asing yang tengah menjalankan doktrin McCarthy, membasmi komunis dari muka bumi.

Komunis Indonesia musnah tak bersisa yang tersisa onggokan arang yang mengepulkan asap tipis. Di musim penghujan bakal tumbuh tunas baru di tumpukan berwarna hitam itu, karena negeri Nusantara sangat subur untuk mengubah kegersangan menjadi hijau kembali dengan tumbuhnya beraneka tanaman baru, termasuk yang sudah dianggap musnah.
Baca Juga Artikel "Ramalan Jayabaya Keenam"

Ramalan Jayabaya Keenam

Ramalan Keenam

sabda palon noyo genggong
“Kodok Ijo Ongkang-Ongkang”
Partai Komunis Indonesia hancur berantakan dalam semalam, bahkan tanpa seorang pun pasukan Amerika Serikat nongol di sini untuk turun tangan langsung. Di Vietnam sana di waktu yang bersamaan pasukan Amerika Serikat sudah lebih dari setengah juta pasukan bekerja keras turun tangan langsung dalam membasmi orang-orang komunis Vietcong.
Usaha Amerika itu tidak juga berhasil mengatasi terowongan tikus orang Vietnam yang tersohor itu. Tidak cukup dengan pasukan militer, juga ikut diterjunkan ke medan pertempuran Vietnam segala jenis senjata modern, senjata kimia, senjata biologi semua saja ditujukan untuk membasmi manusia komunis Vietnam. Amerika gagal menghadapi pasukan komunis vietnam, karena orang-orang komunis Vietnam lebih unggul daripada orang-orang komunis Indonesia yang masih dibangunkan oleh Bung Karno nasion dan character rakyatnya.
Paman Ho atau Ho Chi Minh lebih berhasil membangun character dan nation rakyat Vietnam. Paman Ho mendapat bantuan dari tetangga akrabnya Republik Rakyat Tiongkok yang dikomandani Kawan Mao Dze Dong yang masyhur dalam memimpin Tentara Merah Tiongkok berhasil mengalahkan pasukan Chiang Kaishek, Kuomintang dukungan Amerika Serikat.
Jangan dilupakan peran sentral Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok yang disebut-sebut lebih dulu menjadi anggota PKT daripada sang ketua Mao sekitar 1921. Kawan Zhou dan Paman Ho dekat sekali hubungannya terutama tatkala Vietnam membutuhkan sokongan moril maupun materil dalam menahan serangan pasukan militer Amerika Serikat pemenang perang dunia kedua, kekuatannya tak diragukan lagi.
Ramalan keenam Jayabaya, “Kodok ijo ongkang-ongkang” bisa berarti berkuasanya kaum hijau yang juga bisa berarti hijau daun atau hijau berlian. Hijau berlian berarti simbol pakaian militer angkatan darat. Hijau daun berarti bendera salah satu negeri di jazirah Arab, Saudi Arabia simbol dunia Islam.
Kodok ijo mengeluarkan suara dari kantung udaranya dan terdengar, “oooong….kaaaang, oong… kang…..ong….kang.”. Suara sang kodok itu di musim banjir penghujan sangat riuh-rendah, bahkan ribuan kodok ijo berkumpul menjelang hari mulai gelap untuk melantunkan orchestra simfoni, “ong-kang-ong-kang” mengisi keheningan malam basah oleh banjir atau hujan terus-menerus. Sang kodok begitu riuhnya memperdengarkan kemerduan suaranya dengan satu tujuan menarik lawan jenisnya untuk dikawininya.
Tanpa ada air melimpah ruang di kebun atau di halaman rumah atau di tegalan, maka tak akan datang kodok ijo dan riuh-rendah sepanjang malam bersimfoni ria. Banjir darah akibat gerakan September 1965 mengundang militer angkatan darat turun ke arena untuk mengambil alih kekuasaan di Nusantara dari tangan Bung Karno yang berusaha membikin keseimbangan antara PKI dan AD.
Dengan sendirinya AD yang hijau itu menjadi kekuatan dominan di Nusantara dan mendukung penguasa baru Jendral Suharto yang fasis dan otoriter sehingga berhasil berkuasa selama empat windu untuk membikin rakyat Nusantara seragam berfikir dan berbuat dalam hidupnya. Mau coba pikiran dan suara lain, hadiahnya penjara. Kalau agak ringan kesalahannya akan mendapatkan hadiah “diponggal-panggil” koramil atau kodim. Di sana dapat bogem mentah atau tidak itu lain perkara lagi.
Masa rejim “kodok ijo ongkang-ongkang” tidak berarti militer terutama AD hanya ongkang-ongkang kaki saja, tidak. Justru AD bekerja keras untuk tetap menjaga bahaya laten komunis yang baru saja dikalahkan oleh AD sendiri. Komunis yang tumpas sampai ke akarnya berkat mantra sakti Jendral Soeharto, “tumpas habis sampai tujuh turunan” siapa saja yang terlibat komunis, selalu bekerja keras mencegah bangkitnya komunis di negeri Nusantara yang berubah menjadi negeri tergantung sejak masuknya modal asing akibat dibukanya keran modal oleh Jendral Besar Soeharto yang membikin sebagaian rakyat memujanya mampu membikin rakyat sejahtera.
Akan tetapi sayang sekali slogan “awas bahaya laten komunis” itu terlalu berlebihan dikoar-koarkan selama Jendral Soeharto berkuasa. Padahal sudah jelas bin gamblang komunis sudah hancur tak punya kekuatan apapun, eeeeh kok menakuti rakyat banyak akan bahaya komunis yang cuma pepesan kosong itu. Eiit itu bicara waktu itu lho. Entah kekuatan mereka saat ini 2010. Ujung-ujungnya intimidasi dan teror kepada rakyat, dan ujung-ujungnya lagi Bapak Pembangunan itu terus terpilih dan terpilih lagi jadi Raja eh Presiden RI.

Prabu Jayabaya hampir seribu tahun yang silam sudah meramalkan datangnya penguasa militer baru berbusana hijau, yakni AD. Ceritanya sang penguasa itu muncul setelah terjadinya perang saudara di Nusantara dalam, “Pitik tarung sak kandang”. Setelah sang kodok tidak berkuasa lagi tampillah rejim baru yang disebut rejim reformasi. Apa yang terjadi, “kodok ijo, kodok bangkak, kodok percil, dan kodok pohon, dan lainnya ramai-ramai memperdengarkan suaranya tanpa hambatan lagi datang dari manapun. Dan ujung dari kebebasan itu ialah eyel-eyelan untuk menonjolkan pendapat sendiri yang belum tentu benar.
Baca Juga Artikel Sabdo Palon Noyo Genggong "Ramalan Jayabaya Ketujuh"

Ramalan Jayabaya Ketujuh

Ramalan Ketujuh

Sabdo Palon
“Tikus Pithi Anoto Baris”
Ramalan ketujuh Sri Aji Jayabaya (1145-an): Tikus pithi anoto baris interpretasinya tikus merah menyusun barisan! Merah tatkala masih bayi belum tumbuh bulu, dan kelak menjadi hitam oleh bulunya sendiri. Sifat utama tikus phiti antara lain: gesit, semau sendiri, susah diatur, dan lucu. Tikus phiti pandai menyembunyikan diri akan tetapi belum mampu bikin persembunyian sendiri, yakni berupa lubang-lubang dalam tanah, atau membikin sarang dari bahan yang ada di sekitarnya. Manusia tanpa alat bantu susah untuk menangkap dan memburu makhluk yang satu ini.
Tikus yang satu ini benar-benar menyusun barisan bila pemimpin besarnya (induknya) dibunuh atau melarikan diri karena diuber-uber. Jika keadaan biasa tanpa gangguan maka ia bergerak tanpa formasi alias kocar-kacir tanpa tujuan semua gerakannya.
Tikus-tikus pithi menyusun barisan bila mereka sedang kelaparan hebat, karena musim paceklik atau sarangnya diobrak-abrik dan digusur, dan juga berubah agresif tatkala mereka mendapat mangsa empuk.
Semasa Sri Aji Jayabaya memerintah di Kediri tikus pithi sebagai julukan pada anak-anak remaja yang beranjak dewasa, tidak lagi merah tapi sudah bersemu kehitaman. Tikus dalam konteks ramalan bisa sebagai perlambang kaum muda, angkatan muda, atau pemuda dalam lingkup pusat kerajaan Kediri. Sri Aji Jayabaya sangat membutuhkan pasukan laut terutama bertugas sebagai prajurit dan paling dapat dipercaya tentu pemuda setempat dan di samping itu suara mereka benar-benar diperhitungkan dalam percaturan politik kerajaan.
Kerajaan laut tapi berpusat di pedalaman itu menguasai daerah pengaruh meliputi Jambi di pulau Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Tidore, sehingga selalu memperkuat pasukan laut demi keperluan menjaga wibawa kerajaan di wilayah pengaruhnya. Angkatan muda mendapat porsi lebih untuk diterima sebagai abdi negara. Dengan strategi sedemikian rupa membuka peluang bagi pemuda, maka tidak ada gerakan pemuda yang berusaha untuk menggalang persatuan merongrong kekuasaan sang Prabu Jayabaya.
Sejarah kemudian mencatat pada 1222, seratus tahun sejak kekuasaan Sri Aji Jayabaya di mana angkatan mudanya sudah kurang mendapatkan porsi dalam pemerintahan, tiba-tiba dari suatu daerah kurang lebih limapuluh kilometer arah ke Timur kerajaan Kediri, gerakan pemuda pimpinan Arok membariskan pasukannya menggempur Kediri. Panglima perang kerajaan Kediri Mahesa Wulung adik dari raja Dandang Gendis atau Krtajaya tewas di Ganter sehingga pasukan Kediri menelan kekalahan dalam pertempuran melawan pasukan Arok.
Arok tercatat sebagai orang pertama yang memimpin pemberontakan atau kudeta dengan hasil gemilang dalam sejarah Nusantara.
Kembali ke tahun 2010, adanya ramalan tikus pithi anoto baris ditafsirkan sebagai pemberontakan bersenjata rakyat dari segenap penjuru Nusantara adalah mustahil, kecuali dilakukan oleh unsur militer yang menguasai senjata. Rakyat jelata jelas tidak punya senjata api dalam jumlah cukup untuk mengadakan pemberontakan skala besar.
Kaum muda memang mulai mengorganisir diri akan tetapi terpecah-pecah dan berorientasi ke berbagai jurusan, masing-masing berkutat di dalam kelompok sendiri. Mereka berwarna-warni idealismenya ada merah, hijau, biru, kuning, dan merah jambu serta mengelompokkan di sebagai kiri, tengah, dan kanan. Ibarat dalam jejer wayang mereka saling berseberangan sehingga mudah diadu-dombakan.
Angkatan muda memang selalu tampil dalam setiap goro-goro dalam pemerintahan RI, dan keberhasilan mereka selalu berpindah tangan dan diambil alih pihak lain. Peranan mereka kembali cuma penggembira yang tidak mampu memfoloup hasil gerakannya yang berhasil. Sepertinya mereka mulai menyadari hal demikian, dan mulai memasang strategi baru. Demo damai yang berubah anarkis mudah sekali ditumpas, atau mengambil jalan parlementer yang memerlukan waktu panjang dalam meraih kemenangan. Hingga pada akhirnya yang paling mudah bagi angkatan muda dengan jalan mengumpulkan opini massa menggunakan jejaring sosial digital.
Jadi “tikus phiti anoto baris” berarti angkatan muda menyusun barisan. Bukan barisan pemberontakan bersenjata, bukan demo anarchi, dan bukan menunggu waktu generasi tua menyerahkan kekuasaan kepada angkatan muda. Sehingga angkatan muda menjadi angkatan tua. Pemuda maju lain lagi masih memiliki kekuatan kecil dalam mendukung gerakan perubahan sistemik, dalam pada itu idealisme pilihan mereka belum mampu mempersatukan kekuatan dari berbagai elemen. Idea-idea pemersatu yang sudah tersedia antara lain Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, atau Nasakom, sejak era Majapahit hingga Kemerdekaan RI dan pasca kemerdekaan. Sekarang idea terakhir itu sudah pincang, karena salah satu kakinya buntung. Sedangkan idea yang lain diselewengkan menurut kepentingan penguasa sendiri. Adalah tugas angkatan muda membikin utuh dan memurnikan kembali seperti sediakala semua idea yang dicetuskan dan diajarkan oleh para pemimpin Nusantara sesuai jamannya itu.

Kelak dengan berhasilnya angkatan muda menyusun barisan bersama untuk tujuan bersama memurnikan semua idea pemersatu dan mampu mewujudkannya dalam aksi, maka makna sesungguhnya ramalan Jayabaya ketujuh itu terbuktilah kebenarannya.

Ramalan Jayabaya Kedelapan

Ramalan Kedelapan

Sabdo Palon Noyo Genggong
“Reinkarnasi Noyo Genggong Sabdo Palon”
Dua pendeta penasihat sekaligus punakawan kerajaan Majapahit ini memang bukan tokoh sembarangan. Selama ini ditafsirkan sebagai makhluk halus. Wadag atau tubuhnya memang sebagaimana lazimnya orang biasa. Roh halus atau roh gaibnya yang luarbiasa, ia mampu bereinkarnasi ribuan kali sejak manusia pertama tinggal di bumi.
Sebagai pendeta Buddha Jawa (Jowo Sanyoto, agama negara Majapahit) utama di kerajaan Majapahit ilmu agamanya sempurna bahkan lebih sempurna dibanding para pengikut utama Dalai Lama di Tibet. Dari jaman ke jaman Sabdo Palon* terus-menerus berganti raga (wadag), yakni pada saat raganya memang sudah tua dan meninggal dunia.
Wadag baru pilihan itu tidak atas kemauan pribadi roh Sabdo Palon akan tetapi atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad.
Jadi sebenarnya walau Majapahit runtuh, Sabdo Palon dan pendahulunya Noyo Genggong tidak pernah murca atau hilang, dia hidup sebagai manusia biasa di bumi manusia ini. Silsilah Sabdo Palon dalam 2500 tahun terakhir mengayomi tanah Jawa, dan bumi bagian Selatan (Man Yang) adalah sbb.: Semar, Humarmoyo, Manikmoyo, Ismoyo, Noyo Genggong, Sabdo Palon, Ki K, WS, dan pada 2010 ini ……???!
Ramalan Sri Aji Jayabaya kedelapan bahwa Sabdo Palon akan kembali ke Nusantara, tentu ditafsirkan Sabdo Palon kelak berkiprah kembali sebagai pendamping dan penasihat daripada pemimpin negeri suatu kerajaan.
Tatkala Majapahit pada era keruntuhannya sekitar 1478, di hadapan Prabu Brawijaya yang berganti haluan memeluk Islam sedangkan Sabdo Palon tetap bertahan sebagai titah dengan Jowo Sanyoto sebelum murca (lenyap) Sabdo Palon berjanji, “Yang Mulia, kita ditakdirkan untuk berpisah, tetapi harap Yang Mulia ingat limaratus tahun lagi aku akan kembali ke marcapada bumi Nusantara untuk menjalankan titah-Nya.”
Tepat waktu sebagaimana dijanjikan Sabdo Palon maka pada 1978 (500 tahun sejak Majapahit runtuh berikut murcanya Sabdo Palon) seorang penduduk biasa Jawa Tengah wadagnya dipergunakan oleh Sabdo Palon lengkap dengan Jowo Sanyoto-nya, lelaki tua itu menyebut dirinya Ki K.
Pada awal 1990-an sosoknya yang sudah sepuh itu masih berstamina dan memiliki energi besar ditambah daya intelijensinya masih sangat kuat. Bicaranya menyihir barangsiapa saja yang mendengarkan. Sabdo Palon yang satu ini membawa ajaran dalam kitab “suci” Adam Makna (bukan Betaljemur Adam Makna). Salah satu isi kitab itu ialah penjabaran daripada abjad huruf Jawa ho no co ro ko do to so wo lo po dho jo yo nyo mo nggo bo tho ngo (yang bagi orang Sunda sangat penting sekali, ilmu tertinggi dalam dunia kebathinan dan falsafah di Nusantara). Beliau meninggal sekitar pertengahan 1990-an.
Sabdo Palon berganti wadag lagi, dan kali ini dalam diri WS (65 tahunan) tangan kanan dan orang dekat Ki K sendiri. Kehadiran kembali Sabdo Palon dengan melalui reinkarnasi berabad pada sosok manusia pilihan itu atas kehendak dan kuasa Sang Hyang Wenang ing Jagad.
WS meninggal sekitar 2006, (bersamaan waktunya dengan meletusnya Gunung Merapi), sepak-terjang beliau semasa hidupnya mirip tokoh misterius yang gerakannya juga misterius, ia pernah mencoba memberikan nasihat kepada Presiden Suharto yang di masa itu dikelilingi tokoh-tokoh spiritual tingkat tinggi dan sulit didekati siapapun, konon hasilnya kurang memuaskan; dan beliau di samping itu juga mencoba memberi nasihat atau petuah pada berbagai petinggi militer maupun sipil. Sepak-terjangnya tidak pernah membikin heboh karena setiap lakunya dikerjakan tanpa menarik perhatian. Dan tentu saja ia tidak pernah mengumumkan jatidirinya kepada siapapun. Sosoknya biasa saja, keistimewaannya ialah stamina tubuhnya luarbiasa apalagi saat ia berbicara seolah menyihir para pendengarnya. Dan keberaniannya berbicara menghadapi tokoh manapun sangat luarbiasa.
Semasa jaman Majapahit dalam wasiatnya Sabdo Palon mengatakan, “Hanya atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad yang maha menentukan manusia pilihan sebagai wadag baru Sabdo Palon.” Prosesnya perpindahan Sabdo Palon ke wadag baru berbeda dengan reinkarnasi pendeta Buddha Tibet. Sabdo Palon memasuki tubuh remaja atau dewasa yang telah ditakdirkan Sang Hyang Wenang ing Jagad meninggal dunia dan atas kehendakNya pula tubuh tersebut hidup kembali sebagai reinkarnasi Sabdo Palon baru dengan nama baru. Pada reinkarnasi pendeta Tibet terjadi sejak dalam kandungan ibunya, hingga lahir ke dunia sebagai bayi reinkarnasi pendeta si A atau si B.
Menurut penuturan Ki K, pada jaman Jepang, Sabdo Palon sebelumnya — yang kini bersemayam dalam dirinya — turut bersama balatentara Dai Nippon menyerbu Jawa, membebaskan tanah Jawa dari bangsa kulit putih. Akan tetapi naas di Singapura pesawat tempur Zero yang ditumpangi Sabdo Palon tertembak oleh musuh, seluruh awak tewas, tatkala itulah meloncatlah roh Sabdo Palon dari tubuh seseorang yang tewas dalam pesawat tersebut (orang Jepang!). Sabdo Palon yang memang hendak ke tanah Jawa konon mendarat seorang diri di kaki Gunung Merapi. Pesawat naas itu berangkat dari salah satu kota Jepang.
Kejayaan Nusantara dalam ramalan Sri Aji Jayabaya akan terjadi tatkala munculnya kembali Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Sabdo Palon alias Ki K pada 1980 mengatakan, “Kejayaan Nusantara yang lebih dahsyat daripada kerajaan Majapahit terwujud bila dunia mengalami goro-goro besar semacam perang dunia dahsyat atau bencana alam berskala besar, misalnya jatuhnya benda angkasa, meletusnya gunung berapi, dan lain-lain. Usai goro-goro terjadi maka dunia akan kembali seperti sediakala.
Pada saat itulah tatanan politik dunia baru akan terbentuk dan jauh berbeda dari peta dunia modern sebelumnya. Pasca goro-goro itulah di Nusantara akan muncul Ratu adil dan Sabdo Palon berdampingan menentukan nasib Nusantara dan bumi bagian selatan (Man Yang) dalam satu tata pusat pemerintahan baru,” demikian ucapan orisinil Sabdo Palon pada 1980.
Kapankah terjadinya goro-goro besar dan munculnya ratu adil? Pertanyaan itu akan terjawab setelah ada jawaban atas pertanyaan berikut, “Siapakah yang kini dipilih oleh Sang Hyang Wenang ing Jagad menjadi manusia pilihanNya sebagai wadag terbaru daripada reinkarnasi Sabdo Palon?” Beliaulah sumber jawabannya.

Ka'bah Adalah Kuil Hindu

BENARKAH KA’BAH KUIL HINDU???

Dalam tulisan ini memang terkesan mengklaim sejarah tetangga tapi mungkin kita semua perlu baca bahwa analisa penulis ini sangat masuk akal alias memiliki referensi yang sudah tak diragukan lagi.
Sekali lagi dalam benak kita bertanya "Apakah Benar Ka'bah adalah Kuil Hindu?"
Ternyata di dalam Kabah, ada sebuah inskripsi yg merujuk kpd raja Vikramaditya. Ini membuktikan tanpa ragu bahwa jazirah Arab dulu merupakan bagian dari Kerajaan Vikramaditya dari India.
kabah dan om kara
Teks inskripsi Vikramaditya yg ditemukan dlm piring emas yg digantung didalam kuil Kabah di Mekah ini, dicatat pada halaman 315 dari buku yg berjudul ‘Sayar-ul-Okul’ yg disimpan dlm perpustakaan Makhtab-e-Sultania di Istanbul, Turki. Terjemahan inskripsi tsb:
Sayar ul Okul berarti ‘Kata-kata Berkesan’
“Beruntunglah mereka yg lahir (dan hidup) selama kuasa raja Vikram. Ia seorang penguasa penuh kasih, terhormat dan berbakti pada penduduknya. Namun pada saat itu, kami Arab, tidak peduli pada Tuhan, tenggelam dalam kenikmatan sensual. Komplotan dan penyiksaan merajalela … Kami, Arab, terjerat dalam kegelapan (jahiliyah) … namun pendidikan yang disebar raja Vikramaditya tidak mencampakkan kami, orang-orang asing.Ia menyebarkan agama sucinya diantara kami dan mengirimkan ahli-ahli yang kepintarannya bersinar seperti matahari dari negaranya kenegara kami…”
Ini bahasa Arabnya :
Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela
Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem.
Yundan blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa-rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila.
Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum”. (Page 315 Sayar-ul-okul).
Analisa
Kerajaan2 India purbakala kemungkinan besar melebarkan sayap sampai ke Arab dan Vikramaditya-lah yg pertama merebut kawasan Arabia. Dan, apapun agama mereka sebelumnya, orang-orangnya Vikrama sukses dalam menyebarkan ajaran Vedic (dari kitab-kitab Weda, buku suci Hindu) kedalam way of life Arabia.
Pengetahuan seni dan sains India disebarkan kpd dunia Arab lewat sekolah2, akademi dan pusat2 budaya. Jadi, asumsi bahwa orang2 Arablah yg menciptakan ajaran ini lewat upaya mereka sendiri adalah tidak berdasar.

ARSIP DI TURKI

Di Istanbul, Turki, ada perpustakaan termashur bernama Makhatab-e-Sultania, yg terkenal mempunyai koleksi terbesar literatur Asia Barat. Di bagian Arab perpustakaan tsb ada sebuah antologi sajak-sajak Arab purbakala. Antologi ini disusun dari karya sebelumnya dr thn 1742M dibawah perintah Sultan Salim.
Halaman-halaman volume itu terbuat dari harir – semacam sutera yg dibuat utk menulis. Setiap halaman memiliki pinggiran yg dihias dgn kertas emas. Antologi itu dikenal dgn nama Sayar-ul-Okul, dan dibagi dlm 3 bagian.
Bagian pertama mengandung detil2 biografi dan komposisi puisi-puisi penyair-penyair Arab PRA-Islam.
Bagian kedua terdiri dari kesaksian dan sajak2 penyair dari periode yg dimulai tidak lama setelah Muhamad, sampai akhir dinasti Bani Ummayyah.
Bagian ketiga adalah ttg penyair2 sampai jaman Khalifat Harun-al-Rashid.
Abu Amir Asamai, penyair Arab yg merupakan penyair utama keraton Harun-al-Rashid, menyusun dan mengedit antologi tsb. Edisi modern pertama ‘Sayar-ul-Okul’ terbit di Berlin th 1864. Edisi berikutnya diterbitkan di Beirut th 1932.
Koleksi ini dianggap sbg antologi paling penting dan berotoritas dlm sajak2 Arab purbakala. Koleksi ini menujnukkan adat, tata tertib dan hiburan Arabia dijaman purbakala. Buku ini juga mengandung penjabaran deskriptif ttg kuil purbakala Mekah dan bazar tahunan yg dikenal sbg OKAJ disekitar kuil Ka’abah di Mekah. Ini berarti bahwa kumpul2 di Mekah setiap tahun utk naik haji berasal dari tradisi pra-Islam.
Bazar OKAJ bukan sebuah karnaval tempat anak muda bermarijuana. Ini merupakan kesempatan kaum elit dan terpelajar utk membahas aspek2 sosial, religius, politis, literatur dan aspek2 budaya Hindu lainnya yg menyebar di Arabia. ‘Sayar-ul-Okul’ mengatakan bahwa kesimpulan yg didapatkan dari diskusi2 disana diterima dan sangat dihormati diseluruh Arabia. Mekah, oleh karena itu, mengikuti tradisi Varanasi (dari India), yi tradisi kaum elit mendiskusikan hal2 penting sementara kaum awan berkumpul utk mencapai kenikmatan spiritual. Kuil2 utama di Varanasi (India) dan di Mekah (di Arvasthan/Arabia) adalah kuil2 dewa SIWA. Bahkan sampai sekarang, emblem2 Mahadewa Siwa masih nampak.
Dan emblem Siwa paling nampak adalah BATU Shankara (Siwa) yg dihormati para pehijrah Muslim sampai disentuh dan dicium di Kabah.
Raja Vikramaditya memang terkenal cinta pada Mahadewa Siwa. Di Ujjain (India), ibukota Vikramaditya, ada kuil terkenal Mahankal, yi milik Dewa Shankara (Siwa) yg di-asosiasikan dgn Vikramaditya. Karena menurut inskripsi Vikramaditya, dialah yg menyebarkan agama HIndu, siapa lagi kalau begitu yg mendirikan kuil Kabah di Mekah ?
Sebelum para pehijrah masuk Mekah, mereka diminta utk mencukur kepala dan jenggota serta mengenakan jubah khusus yg terdiri dari dua lembar kain putih yg tidak dijahit. Satu disarungi di pinggang dan yg lainnya dililitkan sekitar bahu. Ini merupakan tradisi Hindu purbakala bagi mereka yg ingin masuk kuil2 Hindu dlm keadaan bersih dan murni.

KUIL UTAMA HINDU DI MEKAH

Kuil utama di Mekah yg menyimpan lambang2 Siwa dikenal sbg KA’ABAH. Kotak ini dilapisi kain hitam. Ini adalah tradisi jaman dahulu kala ketika orang menganggap penting utk meng-kamuflase tempat suci itu (Ka’abah) agar tidak dicaplok atau direbut bangsa lain.

PATUNG DEWA- DEWI

Menurut Encyclopaedia Britannica, kotak Ka’abah memilikii 360 patung. radisi mengatakan, ketika tempat itu diserang, salah satu dewa didalamnya adalah dewa Saturnus; satunya lagi adalah dewa Bulan dan ada lagi yg disebut Allah.
Ini butki bahwa orang2 Arab jaman pra-Islam itu memuja 9 planet. Di India, praktek puja Navagraha’, yi praktek pemujaan bagi ke 9 planet, termasuk Saturnus dan Bulan masih eksis sampai sekarang.
Di India, bulan sabit selalu digambarkan diatas lambang dewa Siwa. Karena itulah, lambang Siwa dlm Ka’abah juga menjadi lambang bendera Islam.
ZAMZAM/AIR GANGGA?
Satu lagi tradisi Hindu lainnya adalah sungai suci Gangga. Menurut tradisi Hindu, air Gangga tidak pernah dapat dipisahkan dari lambang Siwa (bulan sabit). Dimanapun ada lambang Siwa, disanalah ada air Gangga. Dan memang ! Didekat Ka’abah ditemukan sebuah sumber mata air suci yg disebut ZAMZAM. Sampai sekarang, Zamzam dianggap suci karena tradisi jaman pra-Islam itulah !
Sungai Gangga, zamzamnya Hindu ?

TAWAF

Tidak ada mesjid lain di dunia yg dikelilingi sampai 7 kali. Hanya orang Hindu yg ber’tawaf’ mengelilingi dewa-dewi mereka. Lagi2 bukti bahwa Ka’abah adalah tempat ibadah Hindu jaman pra-Islam. Praktek mengambil 7 langkah yg dikenal sbg Saptapadi diasosiasikan dgn upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara klimaks dlm perkawinan Hindu yg menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian di-salah artikan dgn 7 kali). Mengingat “MAKHA” berarti API, ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa MEKAH ADALAH PUSAT PEMUJAAN DEWA API.

KATA ALLAH


Jangan kaget bahwa kata ‘ALLAH’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Allah, Akka dan Amba adalah sinomin. Nama-nama ini berarti : DEWI atau Ibu. Istilah ‘ALLAH’ merupakan bagian dari stanza-stanza Sansekerta yg memuja-muja Dewi Durga, yg juga dikenal sbg Bhavani, Chandi dan Mahishasurmardini. Islam mencaplok penggunaan kata ‘Allah’.

LAMBANG HINDU 786

Lambang Hindu : ‘OM’= angka 786-nya Arab Semua Quran Arab dicetak dengan angka-angka misterius 786. Tidak ada pakar Muslim yang tahu mengapa angka 786 dianggap sebagai angka-angka suci. Namun angka “misterius” ini tidak lain dari huruf suci Weda “OM” dlm bahasa Sansekrit (lihat atas). Siapapun yang kenal Sanskrit bisa melihat lambang “OM” secara terbalik dari angka 786nya Arab ! Muslim tidak sadar bahwa angka misterius Islam ini adalah lambang HINDU !
Lambang Islam : ‘Allah,’ juga agak mirip dgn ‘OM’ diatas !
Satu ayat Qur’an merupakan terjemahan persis dari sebuah stanza dlm Yajurveda. Seperti dijelaskan oleh pakar Hindu terbesar, Pandit Satavlekar dari Pardi, dalam salah satu artikelnya.
[Note: Pakar lain menunjukkan bahwa ayat Quran dibawah ini mirip persis dgn ajaran Kena Upanishad (1.7).
Qur'an: "Sight perceives Him not. But He perceives men's sights; for He is the knower of secrets,
the Aware."
(TERJEMAHAN BEBAS: "Indera mata tidak bisa melihatNya. Tapi IA melihat indera manusia; karena IA
maha tahu segala rahasia")
Bandingkan dengan :
Kena Upanishad: "That which cannot be seen by the eye but through which the eye itself sees, know
That to be Brahman (God) and not what people worship here (in the manifested world)."
(TERJEMAHAN BEBAS) : "Apa yg tidak dapat dilihat dengan mata namun bisa ditembus dengan mata,
itulah Brahma (Tuhan) dan bukan apa yang dipuja manusia (didunia).
Arti ayat diatas : Tuhan berada diluar indera perasa manusia.
Identitas sistem-sistem Unani dan Ayurveda menunjukkan bahwa Unani adalah istilah Arab bagi sistim penyembuhan Ayurveda yg dibawa ke Arabia saat wilayah itu masih merupakan bagian dari kerajaan India.

TRADISI-TRADISI HINDU LAIN YG DITERIMA ISLAM

Hindu memiliki pantheon 33 dewa-dewi. Bangsa-bangsa pra-Islam di Asia Minor juga memuja 33 dewa-dewi. Kalender lunar (bulan) diperkenalkan kpd Asia Barat selama kekuasaan India.
Bulan Muslim ‘Safar’ menunjukkan bulan ‘extra’ (Adhik Maas) dlm kalender Hindu.
Bulan Muslim 'Rabi' berasal dari kata Ravi yg berarti 'matahari' karena huruf Sansekerta ‘V’ dirubah Prakrit ‘B’ (Prakrit merupakan versi sehari-hari2 bhs Sansekerta).
Rasa hormat Muslim pada [i]Gyrahwi Sharif[/i] tidak lain dari [i]Ekadashi[/i] milik Hindu (Gyrah = elevan or Gyaarah). Keduanya sama artinya.
Hari JUM’AT merupakan hari suci bagi kaum HINDU juga ! Similarities of Hinduism and Islam

IDUL FITRI

Praktek ini berasal dari upacara kurban Go-Medh dan Ashva-Medh Yagnas. Id dlm Sansekerta berarti ibadah/pemujaan. Id dalam Islam juga menandakan hari-hari pemujaan. Kata MESH dlm zodiak Hindu berarti DOMBA.
Dijaman dulu, setiap tahun dimulai dengan masuknya matahari kedalam lingkup bintang zodiak Aries (kambing). Kesempatan ini ditandai dengan pesta bakar kambing. Inilah asal usul festival Bakari Id. [Note: Kata Bakari adalah kata Hindu bagi kambing.]
Karena Id berarti ibadah dan Griha berarti ‘rumah’, kata Islam Idgah berarti ‘Rumah ibadah’ yg sama persis dengan arti Sansekritnya.
Kata ‘Namaz’ berasal dari kata Sansekerta ‘Nama’ & ‘Yajna’ (NAMA YAJNA) yg berarti menundukkan badan dan memuja/beribadah.
Istilah ‘Idul-Fitri’ berasal dari istilah ‘Eed of Piters’ yg berarti memuja nenek moyang, dlm tradisi Sansekerta. Di India, orang2 Hindu memperingati nenek moyang mereka selama dua minggu masa Pitr-Paksha. Sama juga dengan ‘Idul-Fitri’ (pemujaan nenek moyang).
Praktek Islam utk memperhatikan gerak gerik bulan sama dengan adat Hindu untuk buka puasa pada hari2 Sankranti dan Vinayaki Chaturthi setelah nampaknya bulan.
BULAN
Deksripsi kitab Weda tentang bulan, konstelasi bintang berbeda-beda dan penciptaan alam semesta dicontek Qur’an dlm Surat 2, stanza 113, 114, 115, and 158, 189, Surat 9, stanza 37 & Surat 10, stanza 4 – 7.
Pembacaan Namaz (solat) lima kali sehari berasal dari tradisi Weda bernama Panchmahayagna (5 kali pujaan -Panca Maha Yagna) yg merupakan kewajiban bagi setiap mahluk Hindu. Muslim membersihkan 5 bagian tubuh sebelum solat. Ini berasal dari aturan ‘Sharir Shydhyartham Panchanga Nyasah’.

BULAN-BULAN HARAM


4 bulan dalam setahun dianggap suci dalam tradisi Islam. Mereka tidak boleh menjarah atau melakukan tindakan kriminal selama periode tsb. Ini berasal dari tradisi Chaturmasa yaitu, periode 4 bulan puasa dan menghindari kejahatan.
Shabibarat adalah kata lain bagi Shiva Vrat dan Shiva Ratra. Karena Ka’abah merupakan pusat penting dewa Siwa, festival Shivaratri biasanya dirayakan disana dgn besar-besaran. Festival itulah yg disebut dlm Islam sbg Shabibarat.
Menurut sejumlah encyclopaedia, memang ada ukiran-ukiran tulisan didalam dinding Kabah. Namun para pakar sejarah tidak pernah diijinkan masuk. Tetapi menurut pengakuan beberapa orang, ada tulisan dalam huruf Sansekerta dan bahkan ada stanza-stanza dari Bhagavad Gita.
ORANG INDIA DI TIMUR TENGAH
Menurut Islam, pedagang-pedagang INDIA menetap di Arabia, khususnya di YAMAN. Di Ubla terdapat pemukiman-pemukiman besar orang India. Ini menunjukkan bahwa kehadiran orang India di Arabia & Yaman cukup berpengaruh terhdp penduduk setempat. Ini tidak dimungkinkan kecuali mereka berasal dari kelas penguasa.
Disebut dlm Ahadis Imam Bukhari bahwa suku India, JAT, berada di Arabia jauh sebelum jamannya Mohamad. Malah ketika Aisha jatuh sakit, keponakannya memanggil dokter Jat utk menyembuhkannya.
Ini membuktikan bahwa orang India memiliki status tinggi di Arabia. Dan status macam ini tidak bisa melekat pada mereka, kecuali mereka memang penguasa. Bukhari juga berbicara tentamg seorang raja India yang mengirim satu jahe yg direndam cuka (ginger pickles) kpd nabi. Ini menunjukkan bahwa raja Jat India menguasai kawasan didekatnya shg mampu memberikan hadiah yg begitu sepele seperti satu pot jahe. Nabi malah dikatakan sangat menyukainya. Ini bukti bahwa selama jaman Mohamad, orang India berpengaruh di Arabia.
BARAH VAFAT
BARAH VAFAT, festival Muslim utk memperingati mereka yg mati dalam pertempuran berasal dari tradisi Sansekerta. Kata ‘Phiphaut’ dlm Hindu berarti ‘mati’. Hindu merayakan hari Chayal Chaturdashi utk menghormati para pahlawan perang.

KATA ‘ARAB’= KUDA

Kata Arabia sendiri berasal dari Sansekerta. Kata aslinya adalah Arabasthan. Karena Arab ‘B’ adalah Sansekerta ‘V’, maka nama Sansekerta aslinya adalah Arvasthan. Arva dlm bhs Sansekerta berarti KUDA. Arvasthan berarti : negara penuh kuda, dan seperti kita tahu semua, Arabia memang terkenal karena kuda-kudanya.
[Wikipedia :] Kuda Arab adalah jenis kuda yang memiliki reputasi kepandaian tinggi, semangat tinggi dan stamina luar biasa. Jenis kuda ini mudah dikenali. Kuda Arab adalah jenis yang paling tua. Bukti arkaeologis menunjukkan bahwa kuda-kuda tersebut memiliki sejarah sampai 4500 thn.

PUISI/LITERATUR

Sayar-ul-Okul menyebutkan bahwa simposium pan-Arab pra-Islam diselenggarakan di Mekah pada festival tahunan Okaj. Semua penyair ternama berpartisipisasi.
Penyair-penyair yg paling jitu diberi hadiah. Puisi yg paling bagus diukir dlm lempengan emas dan digantung didalam Ka’abah. Ada puisi-puisi yang ditulis pada kulit kambing atau onta. Mereka digantung diluar tembok kuil. Jadi, selama ribuan tahun, Ka’abah sebenarnya merupakan rumah penyimpanan puisi-puisi terhebat Arabia yang diinspirasi tradisi Hindu.
Oleh karena itu puisi-puisi tsb dinamakan Mu’allaqat (arti : YANG DIGANTUNG !)
Sumber: Faithfreedom Indonesia
Namun semua syair itu entah hilang atau dihancurkan gang penjarah Mohamad. Bahkan penyair pribadi nabi, Hassan-bin-Sawik, ikut mencuri syair-syair berharga itu dan menyimpan lempengan-lempengan emas itu didalam rumahnya. Cucu Sawik, yang ingin menjual lempengan emas itu membawanya ke khalif jaman itu dimana ia ketemu pemikir terkenal Arab, Abu Amir Asamai. Ia menerima lima lempengan emas dan 16 lembaran kulit yg dihiasi dgn syair-syair yg memenangkan penghargaan. Dan sang penjual juga bahagia menjadi kaya mendadak akibat dagangannya yang laris hari itu.
Pada kelima lempengan emas tertulis ayat-ayat oleh penyair-penyair Arab kuno seperti Labi Baynay, Akhatab-bin-Turfa & Jarrham Bintoi. Penemuan ini mengakibatkan Harun-al-Rashid memerintahkan Abu Amir untuk menyusun koleksi dari komposisi-komposisi sebelumnya. Salah satunya adalah atribut Jarrham Bintoi, penyair Arab terkenal, KEPADA RAJA VIKRAMADITYA.
Bintoi yang hidup 165 tahun sebelum Mohamad menerima hadiah tertinggi bagi komposisi syair-syairnya selama 3 tahun berturut-turut dalam simposium pan-Arab di Mekah. Kesemua sajak Bintoi paling terkenal ini digantung didalam Ka’abah dlm lempengan emas.
Atribut Bintoi kepada raja Vikramaditya merupakan bukti kuat bahwa raja tsb menjadikan jazirah Arab sebagai bagian dari kerajaan besar India. Itulah mengapa mulai dari India, semua negara memiliki nama sansekerta seperti Afghanisthan, Baluchisthan, Kurdisthan, Tajikiathan, Uzbekisthan, Iran, Sivisthan, Iraq, Arvasthan, Turkesthan (Turkmenisthan) dsb.
Sajak Bintoi bisa dilihat di:
Istilah2 Hindu yg diadopsi Islam [FaithFreedom]
Tidak sulit mengerti sejarah purbakala kalau kita mengenal jajahan raja Vikramaditya. Bahkan keluarga-keluarga ksatria India melahirkan suku-suku seperti Pahalvis (Pahlevi) & Barmak, yg menguasai Iran & Iraq. Karena pengaruh India, orang-orang Parsi menjadi pemuja api, misalnya. Karena pengaruh India, orang-orang Kurdi di Kurdisthan berbicara semacam dialek Sansekrit, kuil-kuil pemuja dewa api eksis sampai ribuan mil diluar India dan puluhan pusat budaya India eksis seperti Navbahar di Asia Barat. Banyak puing-puing vihara juga ditemukan di Russia, patung-patung kuno India juga sering ditemukan dalam penggalian-penggalian di Asia Pusat. Termasuk yang baru saja ditemukan di Kuwait baru-baru ini: sebuah patung emas dewa Ganesha.
Sayang bahwa bab sejarah dunia ini hampir terhapus total dari ingatan manusia. Kami perlu menyusunnya kembali untuk mengerti konsep dan orientasi sejarah purbakala. Dengan mengerti sejarah, kami bisa lebih mengerti siapa nenek moyang kami sebenarnya.
Ingat patung-patung Budha di Afghanistan ? Dari mana asalnya kalau bukan dari budaya INDIA?
[Wikipedia :]Sampai abad 12M, Bamiyan adalah
bagian dari kerajaan India, Gandhara. Daerah itu merupakan pusat biara-biara Buddhis dan Hindu dan
daerah subur bagi agama, filosofi dan seni Yunani-India. Wilayah itu merupakan wilayah Budhis
sejak abad 2M yang kemudian dihancurkan oleh invasi Islam di abad 9.

Paman Muhammad yang Hindu

Paman Muhamad yang HINDU, sumber: www.echarcha.com
Paman Muhamad sendiri, Umar-Bin-E-Hassham merupakan pengikut Hindu taat dan penyembah Dewa Siwa. Ia menolak untuk masuk Islam dan tewas sebagai martir ditangan Muslim. Ia seorang penyair terkenal dan menulis sajak-sajak memuja dewa Siwa. Salah satunya bisa ditemukan dlm hal 235 Sayar-Ul-Okul :
Kafavomal fikra min ulumin Tab asayru
Kaluwan amataul Hawa was Tajakhru
We Tajakhayroba udan Kalalwade-E Liboawa
Walukayanay jatally, hay Yauma Tab asayru
Wa Abalolha ajabu armeeman MAHADEVA
Manojail ilamuddin minhum wa sayattaru
Wa Sahabi Kay-yam feema-Kamil MINDAY Yauman
Wa Yakulum no latabahan foeennak Tawjjaru
Massayaray akhalakan hasanan Kullahum
Najumum aja- at Summa gabul HINDU
TERJEMAHAN:
Seorang lelaki yan menghabiskan seluruh hidupnya dalam dosa dan imoralitas dan membuang hidupnya demi nafsu dan kemarahan Jika ia bertobat dan ingin kembali kepada moralitas, adakah pengampunan tersedia baginya ? Bahkan jika hanya sekali ia dengan tulus memuja Mahadewa (dewa Siwa), ia bisa mencapai posisi tertinggi dalam jalan kebenaran Ya Tuhan! Cabut seluruh nyawa saya dan sebagai gantinya, berikan saya satu hari saja untuk tinggal di Hind (india) sebagai lelaki yg menjadi bebas secara spiritual saat mencapai tanah suci Dengan ziarah ke Hind, seorang lelaki bisa mencapai kebijakan untuk melakukan tindakan mulia dan mendapat kehormatan menyentuh guru-guru Hindu yg mulia
Sumber: Similarities of Hinduism and Islam
Nama keluarga Muhamad adalah Quraish (Kureshi), yg sebenarnya adalah bagian dari dinasti India, KURU, yang pernah menguasai India. Diketahui bahwa paman Muhamad, Umar bin-e Hassham dan keluarganya terlibat dalam pembuatan dewa-dewa kuil (Ka’abah).
Encyclopedia Islamia menjelaskan bahwa kakek Muhamad dan paman-pamannya mewariskan jabatan sebagai pendeta-pendeta Ka’abah yang menyimpan 360 patung dewa-dewi. Muhamad menghancurkan semua patung tersebut kecuali patung paling utama, yaitu patung Batu Hitam [Hajar Al Aswad]. Dewa Siwa dulu pernah dipuja Arab. Dan paman Muhamad juga seorang pemuja Siwa dan menulis berbagai puisi memuja dewa Siwa.
Sri Sri [Ravishankar] mengatakan :
“… Orang Islam lupa sama sekali bahwa nenek moyang mereka dulunya Hindu … Bahkan Afghanistan dan Arabia dulunya Hindu. Muslim-Muslim di India, Pakistan, Afghanistan seharusnya tidak
mencampakkan tradisi-tradisi Hindu. Nenek moyang mereka memiliki nama-nama Hindu, jadi Hindu dan Muslim adalah dari rumpun keluarga yang sama dan harus menghormati sesama. Muslim di India seharusnya membanggakan filosofi dan udaya Hindu.”
Sumber Lengkap di: http://indonesia.faithfreedom.org/wiki/Ka%27bah_dulu_kuil_Hindu_%3F

Makna dan Filosofis Perayaan Hari Raya Saraswati

Makna Perayaan Hari Raya Saraswati

Dewi Saraswati
Perayaan Hari Raya Saraswati sekarang ini tidak hanya dilaksanakan umat Hindu di Bali saja tetapi diseluruh Nusantara. Di Bali, perayaan Saraswati dikenal juga dengan sebutan Piodalan Sanghyang Aji Saraswati, datangnya setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Sabtu Umanis, Wuku Watugunung. Perayaan Saraswati begitu semarak terlebih di sekolah-sekolah dan instansi pemerintahan. Banyak kegiatan seni dan ketrampilan bernafaskan Hindu yang dilaksanakan serangkaian pelaksanaan perayaan Saraswati baik yang sifatnya memeriahkan maupun sengaja diperlombakan antar kelas dalam satu sekolah sehingga perayaan Saraswati terasa begitu istimewa di kalangan pelaku pendidikan. Dari kemeriahan tersebut belum begitu banyak yang memahami apa makna dan inti perayaan hari suci ini.
Bila umat ditanya makna perayaan hari raya Saraswati? Jawabnya sudah barang pasti adalah “perayaan turunnya ilmu pengetahuan” benarkah demikian….? Tidakkah kita latah / ikut-ikutan (agama lain) karena kita tengah menderita syndrome minoritas…? (Ada umat tertentu merayakan Hari Turunnya kitab suci agamanya terus kita ikut-ikutan merayakan hari raya seperti mereka).

SIAPAKAH DEWI SARASWATI?

Kata “Saraswati: berasal dari bahasa sansekerta : ‘Sara’ berarti: “Dia yang memberi essensi/arti”, ‘Swa’ berarti: ‘diri sendiri’,dan ‘Thi, berarti: ‘dia yang mengetahui’. “Sarasvati” juga berarti “yang mengalir”, di dalam Rig Weda beliau digambarkan sebagai sebuah sungai yang senantiasa mengalir, beliau memberi kesuburan setiap kandungan wanita dan juga kesuciaan bagi semua pemujanya. Ragunath Airi menyatakan bahwa dipujanya Saraswati sebagai Dewi Sungai tidak lepas dari keinginan untuk mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan hidup, oleh karena itu sungai Saraswati kemudian sangat disucikan sebagaimana sungai Gangga dan Jamuna. Oleh karena itu di India terdapat tiga sungai suci, yaitu: Gangga, Yamuna, dan Saraswati, yang selalu di puja dan dihormati.
Posisinya sebagai Dewi kata-kata baru ditemui dalam kitab-kitab Brahmana. Ramayana, dan Mahabharata. Belakangan Saraswati dikenal sebagai Sakti Dewa Brahma. Nama lain dari Dewi Sarasvati adalah Bharati, Brahmi, Putkari, Sarada, Wagiswari (John Dowson,1979:285; Davane,1968). Dengan demikian Saraswati sejatinya telah muncul sejak jaman Weda, seiring perkembangannya Saraswati memiliki banyak gelar yang merupakan pengejawantahan dari salah satu ayat dalam kitab suci yaitu : Ekam satwiprah bahuda wadanti, yang artinya hanya satu Tuhan tetapi para orang arif bijaksana menyebut-NYA dengan banyak nama.
Saraswati dipuja sebagai dewi kata-kata dikaitkan dangan cerita kitab Itihasa yaitu Ramayana yang menceritakan pada saat Rahwana bertapa bersama Kumbhakarna para Dewa sangat khawatir terhadap permintaan Kumbhakarna untuk mendapatkan tahta Indra, kemudian para Dewa meminta pertolongan kepada Dewi Saraswati untuk tinggal di Bungkahing lidah Kumbhakarna agar Kumbhakarna tidak meminta sesuatu yang bukan haknya. Akhirnya Kumbhakarna salah dalam pengucapan Tahta Indra menjadi Tatanindra yang artinya tempat tidur sehingga Kumbhakarna dikenal sebagai penidur.
Di Bali Dewi Saraswati disebut juga Wagiswari Dhatridewi, lambang-NYA yang lebih dikenal berupa aksara ( dalam hal ini Aksara Bali ) Aksara Bali disamping merupakan lambang bunyi, juga terdapat aksara suci yang mengandung nilai magis, seperti aksara modre, loka natha, yang dipakai dalam aji kadyatmikan dan sebagainya.
Dalam lontar Siwagama ada disebutkan bahwa sesungguhya carik dan bisah adalah asal dan kembalinya semua aksara (“jatunya carik lawan wisah, sangkan paraning sastra kabeh”). Carik dan bisah kalau disandingkan pada aksara suara “A”, maka akan terbentuk aksara rwa bhineda Ang dan Ah, yaitu lambang purusa dan pradana, pati urip. Carik sama dengan cecek yang mempunyai makna konotatif aksara atau tulisan (penyarikan=juru tulis, sing nawang cecek=tidak mengetahui tulisan atau hurup). Rupanya cecek yang mempunyai makna tulisan ini kemudian diasosiasikan ke dalam cecek binatang ( binatang cecak ) yang kebetulan kepercayaan kepada cecak (totemisme) yang sudah ada sebelum agama Hindu datang ke Bali. Dalam hubungan ini kita juga mengenal angsa (Aksara) dengan angsa binatang. Yang disebut aksara angsa adalah ulu sandi ” ^ “ yang tidak dibunyikan sebelum disandingkan pada aksara lain (I.B Kade Sindu). Yang jelas bahwa yang dianggap sebagai Lingga atau pralingga dari Dewi Saraswati adalah lontar, pustaka suci, kitab suci dan buku keagamaan dan tuntunan hidup lainnya.
Saraswati dikenal sebagai Dewi Ilmu pengetahuan karena sebuah kisah dalam purana yang menyebutkan ketika Saraswati turun kedunia, beliau memiliki saudara yang bernama Saraswat. Saraswata sangatlah bodoh banyak Guru yang tidak mau mengajarinya. Saraswati merasa kasihan kepada saudaranya itu kemudian Saraswati mengajarkan kepada Saraswata intisari dari ke empat Weda yang sangat luas kepada Saraswata hanya dalam waktu 4 hari. Bahkan Narada pun dibuat bingung akan luasnya intisari Weda yang di ajarkan oleh Saraswati oleh karena itulah Dewi Saraswati Disebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan.
Memuja Saraswati berarti memuja dan menjunjung tinggi nilai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Ilmu pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengusir ketidaktahuan (awidya). Awidya adalah sumber kesengsaraan. Dalam kitab sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut:
Sang kinahaning kaprajnan ngaranya, tan alara yan panemu dukha, tan angirang yang panemu sukha tatan kataman krodha, mwang takut, prihati, langgeng mahening juga tutur nira, apan majnana, muniwi ngaraning majnana. ( sarasamuccaya.505 ).
Artinya:
Yang disebut orang yang memiliki kaprajnan (kebajikan), tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak girang hati jika mendapatkan kesenangan, tidak kerasukan nafsu marah dan rasa takut serta kemurungan, melainkan selalu tetap tenang juga pikirannya dan tutur katanya, karena berilmu, budi mulia pula disebut orang yang arif dan bijaksana.
Kaprajnan adalah yang memberi cara pandang dan sikap mental yang berpegang teguh pada kebenaran, sehingga tidak terombang ambing oleh perasaan duka, suka, benci, amarah, dan lain-lain. Kaprajnan dapat diperoleh dengan cara belajar dan berlatih terus menerus tanpa mengenal henti, karena ilmu pengetahuan dan kebajikan itu tidak ada batasnya.
Dari uraian diatas sesungguhnya perayaan Saraswati bukan perayaan turunnya Pustaka Suci Weda. Perayaan Saraswati adalah perayaan untuk melakukan pemujaan kepada Dewi Saraswati dalam manifestasinya sebagai Dewi Sungai yang memberi kemakmuran, kesejahteraan hidup (di India) dan Dewi Ilmu Pengetahuan dalam Lingga atau pralingga Beliau (Dewi Saraswati) berupa Lontar, Pustaka Suci, Kitab Suci dan buku keagamaan dan tuntunan hidup lainnya (di Bali) dengan harapan umat dianugrahi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan untuk mengusir ketidaktahuan (awidya) yang merupakan sumber kesengsaraan. Kita tidak perlu latah memaknai Hari Saraswati sebagai hari turunnya Pustaka Suci Weda.
Sumber: Dpkperadahjembrana